Kamis, 14 November 19

DR. Dewi Tenty Septi Artiany, SH, MH, M. Kn Bangun Citra Baru Koperasi

DR. Dewi Tenty Septi Artiany, SH, MH, M. Kn Bangun Citra Baru Koperasi
* Notaris dan pemerhati koperasi DR. Dewi Tenty Septi Artiany, SH, MH, M. Kn. (Foto: Fikar Azmy/Women’s Obsession)

Dia menyadari bahwa anggapannya selama ini salah.  Pekerjaan notaries bukan hanya salin-tempel saja, tapi banyak yang harus dipersiapkan untuk akhirnya bisa membuat suatu akta dengan tetap berpegang pada Undang-undang Jabatan Notaris.

 

Saat memilih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (Unpad), perempuan bernama lengkap Dewi Tenty Septi Artiany ini tidak pernah membayangkan akan menekuni profesi sebagai seorang notaris. Dalam benaknya yang dipenuhi idealisme menggebu ketika itu, menjadi seorang notaris adalah pekerjaan yang tidak ada tantangannya, hanya salin-tempel dokumen dan formalitas biasa. Dia lebih tertarik pada hukum tata negara yang sifatnya lebih mengkritisi suatu kebijakan.

Namun, atas desakan sang ayah, dia pun akhirnya tergerak menggeluti bidang tersebut setelah lulus dari FH Unpad, kemudian melanjutkan pendidikan spesialisasi kenotariatan di Universitas Indonesia (UI).

Setelah diangkat sebagai notaris di Jakarta pada 2002, dia kemudian melanjutkan program penyetaraan, sehingga meraih gelar Magister Kenotariatan pada tahun 2005. Setahun kemudian dia diangkat sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT).

Setelah menjalani profesi tersebut, Dewi menyadari bahwa anggapannya selama ini salah. Pekerjaan notaris bukan hanya salin temple saja, tapi banyak Yang harus dipersiapkan untuk akhirnya bisa membuat suatu akta dengan tetap berpegang pada Undang-undang Jabatan Notaris.

Seorang notaris memiliki wilayah kerja yang meliputi seluruh wilayah provinsi dari tempat kedudukannya. Di wilayah kerja tersebutlah dia berwenang untuk membuat akta autentik. Wewenangnya meliputi membuat akta autentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan.

Untuk dinyatakan dalam akta autentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse, salinan, dan kutipan akta, semuanya sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan undang-undang.

“Seperti dalam hal membuat perjanjian, para pihak bebas menuangkan isi perjanjian. Namun, notaris harus menuangkan isinya ke dalam akta dengan tetap berpegang pada prinsip hukum perjanjian, yaitu pacta sunt servanda. Itulah sebabnya suatu perjanjian harus memenuhi syarat, antara lain kecakapan para pihak, kesepakatan, suatu sebab tertentu dan sesuatu yang halal, bukan sesuatu yang dilarang. Tantangannya adalah mempersatukan dua persepsi yang berbeda ke dalam perjanjian,” paparnya lebih jauh tentang profesinya.

Di sela kesibukannya berpraktik sebagai notaris, Dewi memperdalam pemahamannya akan hukum bisnis di Universitas Gadjah Mada dengan mengambil jurusan hukum bisnis pada 2013. Tahun ini dia akhirnya mendapatkan gelar doktor dari almamaternya di Bandung dengan kajian utama tentang merek kolektif untuk koperasi produksi.

 

Halaman selanjutnya

Pages: 1 2 3 4 5

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.