Jumat, 7 Agustus 20

DPR Kecewa Polisi Lakukan Kekerasan Hadapi Demo BBM

DPR Kecewa Polisi Lakukan Kekerasan Hadapi Demo BBM

Jakarta – Aksi kekerasan yang dilakukan oleh aparat Kepolisian kembali terjadi di tanah Makasar. Para demonstran dari kalangan mahasiswa yang menolak kenaikan BBM terpaksa ditindak secara represif ‎karena dianggap telah menggangu ruang publik.

Menanggapi hal itu, Anggota Komisi Hukum dan Ham DPR RI, Nasir Djamil, mengaku kecewa dengan sikap Kepolisian. Menurutnya, tidakan represif dengan cara-cara kekerasan seperti memukul dan mengunakan senjata api, tetap tidak bisa dibenarkan‎ dalam menghadapi para demonstran yang tengah menyuarakan aspirasinya.

“Komisi III sangat kecewa dengan cara polisi menangani pengunjuk rasa. Seharusnya apapun situasi dan kondisinya polisi tetap melindungi rakyat bukan memukul dan menendang rakyat yang berunjuk rasa,” ‎ujarnya dalam siaran pres yang diterima wartawan, Jumat (28/11/2014).

Politisi Partai Keadilan Sejahtera ini mengatakan, kondisi semacam ini juga sekaligus menandakan, bahwa aparat Kepolisian‎ sampai saat ini masih belum bisa melepaskan gaya militeristiknya sebagai aparat yang punya tugas melindungi keamanan di dalam negeri.

Karena itu, Nasir meminta kepada Kapolri untuk segera mengevaluasi anak buahnya yang telah bertindak sewenang-wenang, bila perlu kata dia, Kapolri segera memberikan sanksi yang tegas kepada pimpinan polisi yang bertanggung jawab mengamankan aksi demonstran tersebut.

“Polisi itu bukan koboi, tapi pengayom dan pelindung masyarakat. Karena itu presiden jokowi selaku atasan langsung kapolri harus bertanggungjawab,” tandasnya.

Bahkan lebih jauh kata Nasir, ‎Presiden Joko Widodo segera mengevaluasi kembali posisi Sutarman sebagai Kapolri. Pasalnya, dalam dua pekan ini sudah banyak aksi kekerasan yang dilakukan oleh aparat Kepolisian dalam menindak para demonstran yang tengah memperjuangkan penolakan kenaikan BBM.

“Sudah saatnya kapolri yang akan datang memprioritasikan pimpinan polri di tingkat polda, polres dan polsek, sosok yanga mampu berbicara dalam” bahasa” masyarakat di mana dia bertugas,”jelasnya.

‎Sebelumnya diberitakan, pada Kamis petang (27/11/2014) demo penolakan kenaikan BBM kembali terjadi di Makasar. Mahasiswa yang tergabung bersama warga bentrok dengan aparat Kepolisian di depan Kantor Gubernur Sulawesi Selatan. Mahasiswa yang mencoba menerobos ke dalam kantor dihadang oleh Polisi. Akhirnya demonstran melempari petugas dengan batu.

Kepolisian mencoba membubarkan paksa para pengunjuk rasa dengan gas air mata dan water canon. Kemudian mereka lari dan berdesak-desakan. Arief, yang sehari-hari mencari uang dari mengatur arus lalu lintas (Pak Ogah), terjebak dalam kerumunan massa. ‎Ia dikabarkan terjatuh dan kepalanya terbentur aspal, kemudian terinjak oleh pengunjuk rasa. Polisi lalu membawa Arief ke Rumah Sakit Ibnu Sina.‎ Namun apa boleh buat nyawanya sudah tidak bisa tertolong. (Abn)

 

Related posts