Rabu, 15 Juli 20

Diserang Corona, Pertumbuhan Ekonomi China Anjlok Jadi 3,5% Bursa China Lumpuh

<span class=Diserang Corona, Pertumbuhan Ekonomi China Anjlok Jadi 3,5% Bursa China Lumpuh">
* Pertumbuhan ekonomi China melemah. (thediplomat)

Akibat seluruh wilayah China diserang secara dahsyat oleh wabah covid-19 atau virus corona hingga korban tewas sudah tembus 2.000 orang, pertumbuhan ekonomi China kini sekarat hingga rontok menjadi hanya 3,5 %.

Bursa China ditutup melemah pada perdagangan, Rabu (19/2/2020), dan pertumbuhan ekonomi China lumpuh pada kuartal I-2020 anjlok ke level 3,5%. “Itu mungkin terjadi jika penyebaran virus corona baru yang mematikan tidak segera ditangani, sehingga menghambat pemulihan produksi manufaktur ke tingkat normal,” ungkap Analis Morgan Stanley dalam laporan yang diterbitkan pada Rabu (19/2).

Sebagaimana diketahui, akibat wabah virus mirip SARS ini, pemerintah China telah mengkarantina sebagian besar kotanya demi mencegah penyebaran lebih lanjut virus. Namun, dampak buruk malah muncul di sektor manufaktur negara.

Akibat penutupan kota-kota itu, aktivitas manufaktur di negeri Tirai Bambu belum sepenuhnya normal meskipun sudah mulai beroperasi kembali beberapa pekan ini. Berdasarkan pengecekan oleh analis Morgan Stanley, produksi baru mencapai 30% hingga 50% dari level normal pada pekan lalu.

Analis memperkirakan, produksi manufaktur di China akan mencapai 60% hingga 80% dari tingkat biasanya pada akhir bulan ini, dan akan kembali normal pada pertengahan hingga akhir Maret.

“Berdasarkan bukti bahwa kegiatan produksi saat ini kembali pada kecepatan yang sangat bertahap, kami berpikir bahwa situasi saat ini akan lebih sesuai dengan skenario ‘normalisasi bertahap’,” tulis para analis dalam laporan tersebut, sebagaimana dilaporkan CNBC International.

Namun tetap, semua itu tergantung pada perkembangan wabah virus corona ke depannya. “Mengingat ketidakpastian seputar penyebaran virus, kami mengamati risiko transisi ke skenario ‘gangguan yang berkepanjangan’,” tambah mereka.

Analis juga memperkirakan akan ada dampak wabah itu pada pertumbuhan global. Namun, para analis mengatakan dampaknya pada pertumbuhan global hanya untuk jangka pendek.

“Kami memproyeksikan bahwa, setelah efek gangguan memudar, ekonomi global akan menerima lonjakan (bouncing) ketika perusahaan bergerak untuk melanjutkan produksi dan bahwa itu akan menerima dorongan karena tingkat persediaan kembali ke tingkat normal setelah terhenti selama ada gangguan,” tulis mereka dalam laporan tersebut.

Sebagaimana diketahui, wabah virus corona yang telah menewaskan lebih dari 2.000 orang di dunia, telah menghancurkan ekonomi China. Negara itu tidak hanya harus mengalami gangguan produksi, tapi juga harus mengeluarkan banyak dana untuk menanggulangi wabah yang berpusat di kota Wuhan provinsi Hubei itu.

Terlebih lagi, sektor wisata negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut juga ikut terdampak oleh cepatnya penyebaran virus. Per hari ini, virus corona telah menyebar ke 27 negara dan menjangkiti hampir 75.000 orang di seluruh dunia.

Untuk meminimalisir dampak wabah pada ekonomi, Morgan Stanley mengatakan pemerintah China bisa memangkas suku bunga lebih lanjut dan memberikan pembebasan pajak untuk sektor-sektor yang terkena dampak.

Sementara untuk negara-negara Asia lainnya yang juga terdampak, lembaga tersebut mengatakan mereka juga bisa menggunakan langkah-langkah kebijakan tersebut. “Itu akan membantu ekonomi mereka pulih setelah wabah virus reda,” kata para analis.

Bursa China Lumpuh
Bursa China ditutup melemah pada perdagangan Rabu (19/2/2020), di tengah bertahannya kekhawatiran seputar wabah virus corona (Covid-19) yang telah merenggut lebih dari 2.000 nyawa.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks CSI 300 di Shenzhen yang berisikan saham-saham blue chip berakhir terkoreksi 0,15 persen atau 6,20 poin di level 4.051,31.

Dari 300 saham yang diperdagangkan dalam CSI 300, sebanyak 112 saham menguat, 176 saham melemah, dan 12 saham stagnan.

Saham Zhejiang Huayou Cobalt Co. Ltd. yang merosot 9,99 persen mengalami penurunan terbesar, disusul China Molybdenum Co. Ltd. yang turun tajam 9,90 persen.

Sementara itu, indeks Shanghai Composite ditutup melemah 0,32 persen atau 9,57 poin di level 2.975,4, setelah mampu mencatat kenaikan selama tiga hari perdagangan beruntun sebelumnya.

Sebanyak 495 saham menguat, 974 saham melemah, dan 75 saham stagnan dari 1.544 saham yang diperdagangkan dalam indeks Shanghai. Seluruh sektor pun terkoreksi, dipimpin saham emiten industri.

Saham Beijing-Shanghai High Speed Railway Co. yang turun 3,4 persen menjadi penekan utama atas pelemahan indeks Shanghai.

Adapun penurunan terdalam dibukukan saham Southern Publishing & Media Co. sebesar 10,03 persen, diikuti saham Zhejiang Huayou Cobalt Co. Ltd. yang merosot 9,99 persen.

Dikutip dari www.worldometers.info, korban jiwa di China tercatat 2.002 orang hingga Selasa (18/2/2020) malam waktu GMT atau Rabu (19/2/2020) pagi WIB. Angka ini bertambah sebanyak 134 orang dari satu hari sebelumnya.

Sementara itu, kematian di luar China terjadi di Taiwan, Prancis, Jepang, Filipina, dan Hong Kong, masing-masing sebanyak 1 orang. Dengan demikian, wabah virus ini telah merenggut total 2.007 nyawa.

Di Provinsi Hubei sendiri, jantung wabah virus ini, terdapat 132 kematian baru dan 1.693 kasus baru virus corona sehingga menjadikan total kasus di provinsi ini sebesar 61.682, menurut komisi kesehatan setempat.

Meski demikian, Hubei terus melaporkan jumlah kasus baru yang lebih rendah setiap harinya. Angka tersebut adalah jumlah kasus baru terendah sejak China mengumumkan perubahan dalam metode pendeteksi infeksi pekan lalu.

Otoritas Hubei akan melacak pembelian obat batuk dan demam dalam beberapa pekan terakhir untuk mendeteksi pasien virus corona yang tidak teridentifikasi, seperti dilansir Bloomberg.

Hal tersebut merupakan langkah terbaru dari pemerintah dalam upaya untuk menghentikan penyebaran virus. Sebelumnya, otoritas setempat telah memberlakukan kebijakan lockdown terhadap puluhan juta orang, membuka rumah sakit baru dan pusat isolasi, mewajibkan pemeriksaan suhu mandiri, dan melakukan pencarian orang-orang yang menunjukkan gejala infeksi virus corona dari rumah ke rumah. (CNBC/Bisnis)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.