Kamis, 26 Mei 22

Di Australia Kelas Agama Diajarkan dengan Bahasa Indonesia

Di Australia Kelas Agama Diajarkan dengan Bahasa Indonesia
* Seorang anak di Sekolah Loyala College di daerah Watsonia tengah belajar bahasa Indonesia. (Foto: Dokumen Pribadi),

Victoria, Obsessionnews.com – Bahasa Indonesia rupanya menjadi salah satu bahasa yang digemari anak-anak di Australia. Bahkan di sejumlah kampus di negeri Kanguru itu, bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa ada program studinya. Namun lebih dari itu, kini bahasa Indonesia juga diajarkan dalam pelajaran agama di sekolah-sekolah.

Salah satunya Sekolah Loyala College di daerah Watsonia, sekitar 20 km dari pusat kota Melbourne. Sekolah ini memiliki program unik yang menggunakan bahasa Indonesia untuk mengajarkan kelas agama.

Sudah ada empat angkatan yang mengikuti pelajaran agama yang disampaikan dengan bahasa Indonesia di sekolah Katolik ini.

Raymond Setiawan adalah guru Indonesia yang mengajarkan mata pelajaran agama dengan bahasa Indonesia di sekolah ini. Ia sendiri sudah melakukannya selama empat tahun.

“Saat pertama kali diperkenalkan, ada 15 anak-anak dari Kelas 9 yang mengambilnya hingga Kelas 10,” ujar Raymond seperti dikutip dari ABC Indonesia, Kamis (1/8/2019).

Raymond Setiawan adalah peraih Australian Awards dan pernah kuliah di University of Melbourne. Ia menyatakan, bahwa kelas ini adalah bagian dari program Content Language Integrated Learning (CLIL), dimana mengajarkan mata pelajaran dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Sebelum Kelas Pelajaran Agama diperkenalkan kepada murid-murid, Raymond mengatakan setidaknya dibutuhkan satu tahun untuk merancang kurikulum, lengkap dengan materinya. Sebab untuk bisa mengawali ini memang tidak mudah.

Di Loyala College ada kelas tiga bahasa yang ditawarkan kepada murid-muridnya, selain Indonesia ada pula Italia dan Perancis. “Minat belajar bahasa Indonesia di sekolah ini cukup positif, meski kecenderungannya di Australia menurun,” kata Raymond.

Salah satu usahanya untuk membuat kelas Indonesia menarik adalah mengajarkannya sekreatif mungkin, seperti memasak nasi goreng, menonton film Indonesia, sampai merayakan 17 Agustusan lengkap dengan lomba makan kerupuk.

Anak-anak merasa lebih senang saat mempelajari agama dengan menggunakan bahasa Indonesia. Di sisi lain, Australia dikenal sebagai negara sekuler dan kurang tertarik dengan agama, tetapi Raymond mengaku banyak murid-muridnya yang kini menyukainya.

“Ada murid saya yang awalnya tidak suka belajar agama, tapi karena ia suka belajar Bahasa Indonesia, sekarang pun ia jadi suka pelajaran agama,” jelas pria berusia 45 tahun tersebut.

Kelas Agama dengan pengantar Bahasa Indonesia biasanya dimulai dengan doa bersama ‘Salam Maria’ yang dibacakan murid-murid dalam bahasa Indonesia. Bahkan kelasnya pernah juga membawakan lagu ‘Malam Kudus’ dengan alunan alat musik angklung.

Menurut Raymond, jika dibandingkan dengan Kelas Bahasa Indonesia biasa, murid-muridnya memiliki kemampuan berbahasa yang lebih baik. Salah satu alasannya karena Kelas Bahasa Indonesia biasa hanya diajarkan tiga jam dalam sepekan.

Sementara Kelas Agama dengan pengantar Bahasa Indonesia bisa mencapai delapan hingga sepuluh jam. “Tapi fokus kita utama bukan soal Bahasa Indonesia-nya, tetapi konten pelajaran agamanya.”

Pelajaran agama yang disampaikan pun tidak melulu soal ajaran Katolik, tetapi agama lainnya di Indonesia. “Awalnya murid-murid saya menyangka Indonesia adalah negara Hindu karena tahunya cuma Bali,” katanya.

“Sekarang pun saya membahas soal pergi haji untuk menceritakan bahwa bukan hanya kita saja yang berziarah, tapi juga Muslim ke Makkah.”

Raymond mengaku jika anak-anak yang belajar mata pelajaran lain dalam bahasa Indonesia akan memiliki kemampuan bahasa lebih.

Raymond sendiri adalah peraih beasiswa Australian Award di tahun 2005, yang saat itu menempuh pascasarjana di bidang ‘Human Resource Management’.

Dengan latar belakang ilmu psikologi, ia juga pernah menjadi dosen di Universitas Atma Jaya Jakarta dan Bina Nusantara University, sebelum menjadi wakil kepala sekolah di Santa Laurensia, di kawasan Alam Sutera, Banten.

Kemudian ia mengajukan permohonan menjadi penduduk tetap Australia (PR) di tahun 2011 dengan mengambil jalur menjadi guru.

“Sulit ternyata kalau mencari pekerjaan dari Indonesia, jadi harus di Australia dan di sinilah saya mendapat tawaran kerja,” ujarnya yang sudah mengajar Bahasa Indonesia di Australia selama enam tahun. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.