Selasa, 20 Agustus 19

Demonstran dan Polisi Hong Kong Bentrok di Berbagai Lokasi

Demonstran dan Polisi Hong Kong Bentrok di Berbagai Lokasi
* Polisi menembakkan gas air mata di pusat kota Hong Kong pada Minggu (11/08) malam. (BBC)

Meski sudah berlangsung dua bulan, aksi protes “tolak China” di Hong Kong terus berlanjut dan massa sempat duduki bandara. Kini, terjadi bentrok antara demonstrans dengan polisi di berbagai lokasi.

Kepolisian Hong Kong kembali bentrok dengan pengunjuk rasa pro-demokrasi dalam aksi kucing-kucingan di berbagai lokasi.

Di Distrik Wan Chai, terjadi aksi melempar bom molotov, ketika polisi melepaskan tembakan gas air mata secara bertubi-tubi. Sejumlah orang, termasuk polisi, terluka dalam bentrokan tersebut.

Polisi juga terekam menembakkan peluru karet dalam jarak dekat di stasiun kereta bawah tanah, sementara aparat lain terlihat memukuli pendemo dengan pegangan eskalator.

Demonstrasi berkepanjangan yang dipicu oleh RUU ekstradisi yang kontroversial tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, dengan kedua belah pihak mengukuhkan sikap mereka.

Meskipun pemerintah sekarang telah menangguhkan RUU tersebut, yang akan memungkinkan ekstradisi ke daratan Cina, para demonstran ingin itu sepenuhnya ditarik.

Tuntutan mereka meluas termasuk seruan untuk penyelidikan independen terhadap dugaan kebrutalan polisi, dan agar pemimpin Hong Kong Carrie Lam mengundurkan diri.

Pada hari Minggu (11/8) sore, sebuah unjuk rasa damai di Victoria Park, memicu bentrokan ketika pengunjuk rasa pindah dari daerah itu dan berbaris di sepanjang jalan utama meskipun ada larangan polisi.

Ada konfrontasi di beberapa lokasi dan polisi menggunakan peluru karet dalam upaya untuk membubarkan para demonstran.

Gas air mata ditembakkan di distrik perbelanjaan Tsim Sha Tsui yang sibuk serta di Wan Chai di Pulau Hong Kong.

Satu gambar yang dibagikan secara luas di media sosial menunjukkan seorang perempuan, yang dilaporkan terkena proyektil polisi, mengeluarkan banyak darah dari matanya.

Wartawan BBC, Stephen McDonell yang meliput peristiwa itu melaporkan kelompok pemrotes mengadopsi taktik baru, dengan cara beraksi dalam jumlah kecil di banyak tempat, mereka kemudian lari ketika polisi datang. Sementara itu, polisi buru-buru menangkapi mereka.

Gas air mata juga ditembakkan ke stasiun metro di Kwai Fong, dan media setempat melaporkan bahwa ini adalah pertama kalinya polisi menembakkan gas air mata ke stasiun metro untuk membubarkan orang.

Pengunjuk rasa memandang Lam tunduk pada perintah Beijing. (BBC)

Video lain yang muncul di media sosial menunjukkan polisi berduyun-duyun ke stasiun kereta bawah tanah dan menembaki demonstran pada jarak dekat. Beberapa petugas juga terekam sedang mengejar dan memukuli orang-orang dengan pegangan eskalator.

Media lokal melaporkan bahwa terduga petugas polisi yang menyamar sebagai pengunjuk rasa melakukan penangkapan tiba-tiba pada Minggu malam.

Di tempat lain, dua bom molotov dilemparkan ke polisi dan setidaknya satu petugas menderita luka bakar.

Di bandar udara Hong Kong terjadi pula demonstrasi yang diikuti oleh ratusan orang. Mereka menggelar aksi duduk secara tertib.

Demonstrasi menentang pemerintah telah memasuki pekan kesepuluh di wilayah semi-otonomi tersebut. China menuding adanya penghasut dan campur tangan asing.

Sebagai catatan, aksi demonstrasi dimulai dua bulan lalu sebagai perlawanan terhadap RUU ekstradisi yang diusulkan, yang akan memungkinkan tersangka penjahat dikirim ke Cina daratan untuk diadili.

Para kritikus mengatakan itu akan merusak kebebasan hukum Hong Kong, dan dapat digunakan untuk membungkam para pengkritik pemerintah. Polisi kemudian dituduh menggunakan kekerasan terhadap pengunjuk rasa.

Meskipun pihak berwenang Hong Kong setuju untuk menunda RUU tersebut, demonstrasi berlanjut, dengan seruan agar RUU itu ditarik sepenuhnya.

Hong Kong adalah bagian dari Cina tetapi warganya memiliki otonomi lebih banyak daripada di daratan.

Wilayah semi-otonomi ini memiliki kebebasan pers dan independensi peradilan di bawah apa yang disebut pendekatan “satu negara, dua sistem” – kebebasan yang dikhawatirkan oleh para aktivis semakin terkikis.

Mereka juga menyerukan penyelidikan independen terhadap dugaan kebrutalan polisi selama unjuk rasa dan pengunduran diri pemimpin Hong Kong Carrie Lam. (*/BBC)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.