Rabu, 8 April 20

Demo Tolak Pajak dan BBM Naik Rusuh, 1.800 Orang Ditahan

Demo Tolak Pajak dan BBM Naik Rusuh, 1.800 Orang Ditahan
* Unjuk Unjuk rasa di Paris. (ParsToday)

Ribuan massa aksi demonstrasi menolak kenaikan harga BBM dan pajak yang tidak dipedulikan rezim Perancis meicu kemarahan demostrans sehingga menjadi rusuh. Demonstrasi hari Sabtu (8/12/2018), ditujukan langsung kepada Presiden Perancis Emmanuel Macron, yang minggu lalu membuat keputusan mengejutkan untuk tidak mempedulikan protes terhadap kenaikan pajak danBBM, yang memicu demonstrasi pertama satu bulan lalu.

Bentrok antara demonstran dengan aparat kepolisian tak terelakkan. Hampir 1.800 orang ditahan di seluruh Perancis dalam aksi demonstrasi terbaru jaket kuning (rompi kuning) yang merupakan unjuk rasa berskala besar dalam beberapa tahun terakhir ini, demikian diumumkan Kementerian Dalam Negeri negara yang beribukota di Paris tersebut.

Pasukan keamanan Perancis pada hari Sabtu, 8 Desember 2018 menggeledah para pengunjukrasa yang naik kereta api dan menyita peralatan yang mereka bawa seperti bola-bola petangue yang terbuat dari logam hingga raket tenis. Benda-benda ini disita karena dikhawatirkan akan digunakan sebagai “senjata.”

Menara Eiffel dan Museum Louvre dibuka kembali hari Minggu, 9 Desember 2018, setelah ditutup akibat demonstrasi dan kerusuhan sehari sebelumnya. Toko-toko juga mulai buka kembali.

Banyak pihak yang menanggung kerugian akibat kaca-kaca jendela toko yang pecah dan penjarahan yang terjadi. Belum lagi termasuk kerugian karena tutup pada puncak musim belanja menjelang Natal.

Angin kencang dan hujan yang melanda Paris pada Sabtu malam sehingga menyulitkan upaya pembersihan hari Minggu. Tutup tabung gas air mata tampak berserakan di jalan berbatu bulat di sekitar Champs-Elysees.

Para pengunjukrasa merusak kayu-kayu yang menutupi dan melindungi kaca toko-toko di Paris dalam aksi mereka pada hari Sabtu. Polisi berulangkali mengusir mereka dengan menggunakan gas air mata dan meriam air.

Demonstrasi hari Sabtu ditujukan langsung kepada Presiden Emmanuel Macron, yang minggu lalu membuat keputusan mengejutkan untuk tidak mempedulikan protes terhadap kenaikan pajak danBBM, yang memicu demonstrasi pertama satu bulan lalu.

Aksi demonstrasi yang sudah bergulir berminggu-minggu itu kini tidak sekedar memprotes kenaikan pajak BBM, tetapi juga kenaikan upah mininum dan pengunduran diri Macron.

Paris Seperti Medan Perang
Demonstrasi besar-besaran di Perancis terutama di kota Paris berlanjut. Pemerintah telah mengerahkan 89.000 pasukan polisi anti-huru hara untuk menangani aksi massa.

Aksi kelompok demonstran yang disebut sebagai “rompi kuning” atau “jaket kuning” mengarah kepada tindakan anarkis. Aparat keamanan menembakkan gas air mata, granat kejut dan meriam air di Champs Elysees dan telah menangkap sekitar lebih 1000 demonstran, di mana 720 dari mereka berada dalam tahanan sementara.

Polisi anti-huru hara Perancis menembakkan gas air mata dan sempat bentrok dengan para pengunjuk rasa, di pusat ibu kota Paris pada Sabtu, 8 Desember 2018.

Dalam unjuk rasa itu, 30 orang ternasuk tiga pasukan keamanan terluka. Kenaikan harga bahan bakar solar membuat masyarakat kesulitan karena biaya hidup yang terlampau tinggi.

Unjuk rasa ini memasuki pekan keempat dan meminta Presiden Emmanuel Macron untuk mundur. Unjuk rasa ini digelar setiap Sabtu selama sebulan terakhir.

Ribuan pengunjuk rasa berkumpul di sekitar Monumen Kemenangan, yang sempat ditulisi grafiti anti-Macron pada Sabtu pekan lalu. Pada unjuk rasa pekan lalu itu, demonstran membakar belasan mobil dan menjarah toko, yang membuat kerusuhan itu sebagai kerusuhan terburuk di Paris sejak Mei 1968.

Menanggapi aksi unjuk rasa ini, Perdana Menteri Perancis Edouard Philippe meminta semua pihak menahan diri.

“Kami akan melakukan semua yang bisa kami lakukan agar hari ini menjadi hari tanpa kekerasan. Sehingga dialog yang kami lakukan sejak pekan ini dapat berlangsung secara baik,” kata dia lewat televisi lokal.

Phillippe sebenarnya telah mengumumkan pada Selasa pekan ini bahwa pemerintah menunda kenaikan pajak bahan bakar minyak selama enam bulan untuk meredakan protes. Ini menjadi langkah mundur pertama dari pemerintahan Presiden Macron, yang telah berlangsung selama 18 bulan.

Sekitar 89 ribu polisi dikerahkan di seluruh Perancis pada Sabtu kemarin dengan 8000 orang berjaga di Paris. (ParsToday)

 

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.