Jumat, 28 Februari 20

Dapat 148 Suara di TPS Depok, di KPU Suara Prabowo Ditulis 3 Suara

Dapat 148 Suara di TPS Depok, di KPU Suara Prabowo Ditulis 3 Suara
* Aktivitas penghitungan surat suara di KPU Depok. (Foto Viva)

Jakarta, Obsessionnews.com – Indikasi kecurangan dalam pilpres 2019 memang tak bisa dipandang sebelah mata. Beberapa dugaan kecurangan sudah ditemukan. Salah satunnya di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 30, Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat.

Di sana Prabowo Subianto mendapatkan 148 suara, dan Jokowi 63 suara. Tapi dugaan kecurangan itu muncul ketika di web KPU tertulis 01 mendapat 211 suara, sedangkan 02 hanya 3 suara.

 

Baca juga:

Nusantara Bangkit Apresiasi Positif Masyarakat Pemilu 2019

Pemilu 2019, Pileg Jadi Anak Tiri

Sinar Kegembiraan Hiasi Wajah Rakyat Saat Pemilu 2019

 

Kasus ini terungkap setelah adanya laporan dari warga bernama Muhammad Haswan M Evandirita yang menyebut melalui akun twitter @HaswanEvan. Dia  menduga banyak kecurangan yang terjadi.

Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi sendiri sudah menemukan 1.261 laporan kecurangan pada Pemilu 2019. Kecurangan itu bisa jadi kemungkinan akan terus ditemukan.

Sebelumnya mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara Said Didu mengatakan, bahwa Pemilu 2019 sarat dengan kecurangan yang terstruktur, sistematik, dan masif mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan perhitungan suara.

Said juga menyebutkan bahwa banyak surat suara yang tidak dikirim di seluruh Indonesia oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Dari informasi yang dia dapatkan, sebanyak 6,7 juta suara tidak terkirim.

Tidak hanya itu, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD meminta agar KPU bertindak dengan profesional terkait proses penghitungan suara.

Melalui akun Twitter resmi @mohmahfudmd, Mahfud menegaskan bahwa dirinya telah mengingatkan pada awal Januari 2019 setelah saat pencoblosan KPU akan diserang dengan berbagai macam isu.

“Pada awal Januari 2019, saya sudah ingatkan, setelah pencoblosan KPU akan diserang dengan berbagai isu: kecurangan, unprofesional, memihak, diintervensi dan sebagainya. Waktu itu saya ingatkan, KPU Indonesia harus profesional. Yang saya sampaikan di ILC Itu sekarang benar terjadi,” kata Mahfud, Minggu (21/4/2019).

Lebih lanjut mantan Menteri Pertahanan itu menegaskan bahwa kekisruhan yang terjadi pada Pemilu 2019 ini terjadi karena KPU kurang antisipasif dalam penanganan teknologi informasi sehingga masyarakat memandang KPU kurang profesional.

“ Kekisruhan yang skrang terjadi, antara lain, disebabkan jg oleh kurang antisipatifnya KPU dlm penanganan IT sehingga terkesan kurang profesional. Masak, salah input data sampai di 9 daerah? Masak dlm 3 hari baru terinput 5%? Penghitung swasta/perseorangan sj sdh lbh di atas 50%,” jelas Mahfud.

KPU Depok Akui Ada Kesalahan

Ketua Komisi Pemilihan Umum Kota Depok, Nana Shobarna, mengakui adanya kesalahan dalam pemasukan data pada suara masing-masing calon presiden dan calon wakil presiden di TPS 30, Bojongsari, Depok, Jawa Barat.

“Enggak ada kaitannya dengan KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara), ini murni salah input petugas,” katanya, Senin 22 April 2019.

Nana mengakui, ada kesalahan memasukkan data hasil C1 di TPS 30 pada data aplikasi Situng. Terkait hal itu, Nana mewakili KPU Kota Depok, mengaku sangat berterima kasih, serta mengapresiasi setinggi-tingginya atas peran serta masyarakat dalam mengawal seluruh proses pemilu.

“KPU Kota Depok menilai bahwa hal ini merupakan bentuk kecintaan masyarakat kepada KPU Kota Depok, khususnya, dan tentu kecintaan warga negara kepada negaranya, sehingga proses pemilu di Kota Depok berjalan dengan nilai-nilai integritas yang tinggi,” ujarnya.

Selain itu, KPU Kota Depok juga menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya atas kekeliruan yang telah terjadi. Nana memastikan, kesalahan entri C1 murni akibat human error dan sama sekali tidak ada unsur kesengajaan yang berniat merusak integritas proses pemilu.

“Kaitan kesalahan input data pada Situng kami (KPU Depok) telah mengambil langkah dan memperbaikinya.”

Adapun evaluasi atau langkah selanjutnya yang dilakukan KPU, kata Nana, ialah dengan melakukan penelusuran dalam proses penginputan data.

“Dengan temuan itu, kami kemudian langsung memeriksa dokumen hasil pindai pada aplikasi Situng, mencocokkannya dengan salinan dokumen C1 versi hardcopy yang diterima KPU Kota Depok, dari penyelenggara di tingkat bawah, serta mengkaji di mana letak kesalahannya,” katanya.

Lalu, hasil penelusuran menunjukkan bahwa benar terjadi kesalahan input yang dapat dipastikan memang tidak disengaja.

“Operator Situng keliru dalam menginput data yang benar. Angka yang seharusnya merupakan jumlah suara sah, yaitu 211 dan Jumlah suara tidak sah tiga dengan keliru diinput secara berurutan sebagai perolehan suara paslon 01 dan perolehan suara paslon 02.” (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.