Minggu, 12 Juli 20

Cegah Virus Corona, Italia dan Iran Tutup Perbatasan!

Cegah Virus Corona, Italia dan Iran Tutup Perbatasan!
* Polisi dan pejalan kaki mengenakan topeng di Teheran tengah pada Minggu (23/2). Delapan orang tewas di Iran akibat virus corona. (AP)

Akibat semakin maraknya penyebaran virus corona alias covis-19 yang berasal dari China menular ke berbagai negara, Italia melakukan penjagaan ketat terhadap perbatasan negara dan bahkan Iran menutup perbatasan negaranya.

Seperti dilansir BBC, Senin (24/2/2020), Italia dan Iran telah mengumumkan langkah-langkah untuk mencoba menahan penyebaran wabah virus corona. Di Italia, pembatasan dan karantina ketat diberlakukan di dua wilayah yang menjadi pusat penyebaran, yang berada di dekat kota Milan dan Venice.

Sekitar 50.000 orang tidak dapat masuk atau meninggalkan beberapa kota di Veneto dan Lombardy, selama dua pekan mendatang tanpa izin khusus.

Bahkan di luar zona karantina, banyak bisnis dan sekolah telah menangguhkan aktivitas dan acara olahraga telah dibatalkan, termasuk beberapa pertandingan sepakbola papan atas.

Di tengah pembatasan yang berkembang, Karnaval Venesia yang gelarannya tinggal dua hari lagi, terpaksa dibatalkan.

Tercatat dua kematian akibat virus corona di Italia, sedangkan jumlah kasus yang terkonfirmasi meningkat menjadi lebih dari 100 kasus, 89 di antaranya di Lombardy.

“Penularan virus ini sangat kuat dan sangat ganas,” kata kepala kesehatan Lombardy, Guilio Gallera.

Sementara itu, wabah virus corona di Iran telah memburuk secara signifikan, dengan jumlah kematian meningkat menjadi delapan orang pada hari Minggu (23/2).

Pemerintah mengonfirmasi 43 kasus virus corona, meskipun para pejabat memperingatkan bahwa virus itu mungkin telah menyebar ke “semua kota”. Sekolah, universitas dan pusat kebudayaan di 14 provinsi di Iran telah ditutup sejak Minggu.

Sebagian besar negara tetangga Iran mengumumkan penutupan sementara perbatasan dengan Iran, setelah negara itu mencatat delapan kematian akibat virus corona.

Turki, Pakistan, Afghanistan dan Armenia, mengumumkan menutup perbatasan dengan Iran sebagai upaya mencegah penyebaran virus. Sebagian dari mereka juga membatasi lalu lintas udara. Irak menutup perbatasan dengan Iran, pekan lalu.

Jenis baru virus corona, yang pertama kali menyebar di Provinsi Hubei di China, akhir tahun lalu, menyebabkan penyakit pernapasan yang disebut Covid-19. Terdapat 76.000 kasus virus corona di China, 2.442 orang meninggal akibat virus mematikan itu.

Pada Minggu (23/2), Presiden China Xi Jinping menggambarkan wabah itu sebagai “darurat kesehatan masyarakat terbesar” dalam sejarah negara itu. Dia mengakui “kekurangan” China dalam menanggapi wabah tersebut dan mengatakan negaranya harus belajar dari kesalahan ini.

Korsel Siaga Level Tertinggi
Korea Selatan (Korsel) telah meningkatkan kesiagaan virus corona ke “level tertinggi” karena jumlah kasus yang terus meningkat. Sementara, pembatasan ketat diberlakukan di Italia dan negara tetangga Iran menutup sementara perbatasan dengan Iran.

Presiden Korsel Moon Jae-in mengatakan beberapa hari ke depan merupakan periode yang amat penting dalam upaya mengendalikan virus corona di negara itu. Enam orang di negara itu meninggal dunia dan 600 orang telah terjangkit virus mematikan tersebut.

Pada Minggu (23/2), pejabat kesehatan mengungkapkan lonjakan jumlah kasus virus corona di dekat kota Daegu. Korban terbaru adalah seorang pasien di bangsal penyakit kejiwaan, di sebuah rumah sakit di Kota Cheongdo, tempat tiga pasien lainnya juga meninggal dunia.

Lebih dari lima puluh persen dari warga yang terinfeksi, adalah anggota kelompok gereja Kristen Shincheonji. Enam orang meninggal dunia dan lebih dari enam ratus orang terinfeksi di Korea Selatan.

Korea Selatan merupakan negara dengan jumlah kasus corona terbanyak setelah China. “Wabah Covid-19 menghadapi titik balik yang mematikan,” Presiden Moon mengatakan setelah pertemuan dengan para menteri dan para ahli.

“Beberapa hari ke depan akan menjadi sangat penting. Pemerintah akan menaikkan tingkat siaga ke level tertinggi menurut rekomendasi para ahli dan secara drastis memperkuat sistem respons kita.”

Dari 169 kasus baru yang diumumkan di Korsel pada Minggu, 95 di antaranya terkait dengan sekte Kristen di Daegu yang disebut Gereja Shincheonji Yesus, kata Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC). Jumlah total kasus yang berkaitan dengan gereja adalah 329. kasus.

Dalam sebuah pernyataan video, seorang juru bicara gereja menyatakan “penyesalan mendalam” bahwa banyak pengikutnya dan warga negara Korea Selatan telah terinfeksi.

Juru bicara itu menambahkan bahwa gereja telah menyarankan sekitar 250.000 anggota untuk meminimalkan kontak mereka dengan dunia luar dan mengambil tindakan pencegahan.

Apa itu Shincheonji?
Hak atas foto Getty Images Image caption Pendiri Shincheonji Lee Man-hee mengatakan dia adalah “pendeta yang dijanjikan”

• Organisasi keagamaan yang didirikan pada 1984 oleh warga negara Korea Selatan Lee Man-hee
• Lee, sekarang berusia 80-an, menggambarkan dirinya sebagai “pendeta yang dijanjikan” yang disebutkan dalam Alkitab
• Para pengikut diajarkan untuk percaya bahwa Lee adalah kedatangan Yesus Kristus yang kedua
• Shincheonji adalah bahasa Korea dari “Surga dan Bumi baru”
• Dilaporkan memiliki lebih dari 120.000 anggota di seluruh dunia
• Dituduh sebagai aliran sesat, dan terlibat dalam kontroversi di beberapa negara

Dalam perkembangan lain:

• Israel menolak untuk mengizinkan orang non-Israel turun dari pesawat Korean Air di Bandara Ben-Gurion pada hari Sabtu (22/02). Negara itumengumumkan larangan pada pengunjung Korea Selatan dan Jepang, yang memicu protes resmi dari Seoul
• Orang-orang yang dievakuasi dari kapal pesiar Diamond Princess, telah mulai dikarantina selama dua minggu di Inggris.

Bagaimana perkembangan situasinya?
Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan keprihatinannya atas jumlah kasus baru yang tidak ada hubungannya dengan kasus corona di China atau kasus-kasus lain yang terkonfirmasi.

Dalam briefing kepada Uni Eropa pada Sabtu silam, dia mengatakan kekhawatiran terbesar sekarang adalah negara-negara dengan sistem kesehatan yang lemah, terutama di Afrika.

Tedros mengatakan WHO bekerja sama dengan pemerintah Afrika untuk melatih ribuan petugas kesehatan dan menyediakan peralatan untuk mengidentifikasi dan merawat orang yang terinfeksi.

“Kekhawatiran terbesar kami adalah potensi Covid-19 menyebar di negara-negara dengan sistem kesehatan yang lebih lemah,” katanya.

“Kami bekerja keras untuk mempersiapkan negara-negara di Afrika untuk kemungkinan kedatangan virus.”

Tedros mengatakan beberapa negara, seperti Republik Demokratik Kongo, menggunakan pengalaman yang diperoleh dari pengujian virus Ebola untuk menguji virus corona baru.

“Ini adalah contoh yang bagus tentang bagaimana berinvestasi dalam sistem kesehatan dapat berguna untuk keamanan kesehatan,” tambahnya. (BBC News Indonesia)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.