Selasa, 26 Oktober 21

Bupati Banyuwangi Janji Kasih Beasiswa Siswa Korban Diskriminasi

Bupati Banyuwangi Janji Kasih Beasiswa Siswa Korban Diskriminasi
* Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Banyuwangi, Obsessionnews.com – Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas sangat memperhatikan warganya. Ia mengundang NWA, siswa yang mengundurkan diri dari SMP 3 Genteng, untuk sarapan di ruang kerja Bupati Banyuwangi, Senin (17/7/2017).

Diketahui NWA adalah siswa yang memilih mengundurkan diri dari SMP 3 Genteng karena mendapat diskriminasi yakni diminta untuk menggunakan jilbab. Sementara ia sendiri beragam non muslim. Sehingga ia menolak.

“Ayo makan dulu. Ini ditambah nasinya biar cepat besar,” kata Anas sambil mengambil nasi dan meletakkan di piring NWA.

NWA merasa senang mendapat perhatian dari Bupati. Ia datang ke kantor Pemkab Banyuwangi dengan menggunakan seragam putih merah, ditemani ayahnya Timotius Purno Ribowo. Mereka dijamu langsung Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dan menikmati sarapan pecel rawon.

Anas sempat menanyakan kepada NWA apakah senang dengan sekolah barunya. Dengan tersenyum ia pun mengaku senang. “Iya senang, Pak. Sekarang diterima di SMPN 1 Genteng malah pilihan yang pertama kalau sekolah sebelumnya sebenarnya pilihan kedua. Tapi lewat jalur minat, bakat, dan prestasi bukan lewat reguler,” katanya.

Bupati Anas sempat bertanya pekerjaan Timotius Purno Ribowo dan lelaki yang menggunakan jaket tersebut menjawab sehari-hari dia bekerja sebagai tambal ban. Anas pun berjanji akan membantu anaknya agar mendapat beasiswa.

“Nanti Pemkab Banyuwangi akan membantu beasiswa untuk anaknya ya,” kata Bupati Anas.

Dalam kesempatan itu, Anas juga meminta maaf atas kejadian yang menimpa NWA dan berjanji tidak akan ada lagi kasus diskriminasi seperti yang dialami NWA.

“Saya sekaligus menyampaikan permintaan maaf atas nama pemerintah daerah, karena bagaimana pun SMPN adalah lembaga di bawah pemda. Dan, mari kita jaga bersama-sama kerukunan umat beragama di Banyuwangi. Saling menghargai kuncinya,” ujar Anas.

Permasalahan tersebut, menurut Anas, harus menjadi pelajaran bagi seluruh aparatur sipil negara. bukan hanya di bidang pendidikan, tetapi juga semua bidang.

“Berjilbab untuk pelajar muslim tentu tidak masalah, tapi tidak boleh dipaksakan kepada pelajar yang beragama selain Islam. Aturan sekolah tidak boleh mendiskriminasi, harus memberi ruang yang sama tanpa memandang perbedaan SARA,” katanya. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.