Rabu, 19 Mei 21

BPH Migas Libatkan Kementerian BUMN Sosialisasi Pendirian Pertashop Ponpes

BPH Migas Libatkan Kementerian BUMN Sosialisasi Pendirian Pertashop Ponpes
* BPH Migas, Kementerian BUMN, PT Pertamina dan BSI menyosialisasikan pendirian Pertashop di hadapan 50 pimpinan pondok pesantren se-Jawa Tengah, Jumat (30/4). (Foto: dok BPH Migas)

Pekalongan, Obsessionnews.com — Program Pertashop resmi diluncurkan di Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Qur’an di Desa Surusunda, Kecamatan Karangpucung, Kabupaten Cilacap, beberapa waktu lalu. Pendirian Pertashop di lingkungan pesantren secara masif bakal segera terwujud setelah BPH Migas bersama Kementerian BUMN, PT Pertamina (Persero) dan Bank Syariah Indonesia menggelar sosialisasi pendirian Pertashop di hadapan 50 pimpinan pondok pesantren se-Jawa Tengah.

Sosialisasi dihelat di kediaman anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Yahya, Pekalongan, Jawa Tengah, Jumat (30/04). Hadir pada kegiatan sosialisasi tersebut Anggota Wantimpres Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Yahya, Menteri BUMN yang sekaligus Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Erick Thohir, Kepala BPH Migas M Fanshurullah Asa, dan Direktur Utama BSI Hery Gunardi.

Lalu hadir pula Sekjen MES Iggi Haruman, Direktur Utama PT Pertamina Retail Iin Febrian, Executive General Manager PT Pertamina (Persero) MOR IV Sylvia Grace Yuvenna, Walikota dan Bupati Pekalongan beserta Satuan Kerja Perangkat Daerah. 

Kepal BPH Migas M Fanshurullah Asa pada kesempatan itu menyampaikan pihaknya adalah lembaga yang ditugaskan pemerintah menjamin ketersediaan dan distribusi BBM di seluruh wilayah NKRI. Karena itu BPH Migas mendorong Pertamina dan badan usaha lainnya untuk membangun mini SPBU di seluruh pesantren-pesantren yang ada di Indonesia yang jumlahnya 30.529 dan juga di desa-desa yang jumlahnya 74.953. 

Ifan sapaan M Fanshurullah Asa berharap pendirian Pertashop di Pesantren bisa mendapat dukungan pembiayaan dari Bank Syariah Indonesia sebagai bentuk perwujudan ekonomi kerakyatan. Kehadiran Pertashop di Ponpes selain untuk menjamin ketersediaan dan distribusi BBM juga dimaksudkan untuk pemerataan ekonomi dan peluang usaha sehingga akan membuka lapangan kerja dan pada akhirnya akan memperkuat ketahanan ekonomi umat. 

Oleh karena itu dirinya berharap kesempatan ini bisa dimanfaatkan agar pendirian Pertashop dilingkungan Pesantren dapat segera terwujud. “Saat ini, kita ada di tempat yang insya Allah membawa berkah, hadir lengkap mulai dari Anggota Wantimpres, Menteri BUMN, BPH Migas, PT Pertamina dan juga BSI yang siap mendukung pembiyaan Pertashop untuk Pesantren,” ujarnya. 

“Maka sebaiknya ikan sepat, ikan gabus, bukan ikan lele, makin cepat makin bagus dan jangan bertele-tele. Saatnya kebangkitan ekonomi masyarakat dimulai dari lingkungan pesantren,” ujar Ifan menambahkan. 

Namun Ifan juga mengatakan rencana ini tetap perlu dikaji secara matang agar jangan sampai rugi. Karena kita ingin, Pertashop memberikan manfaat bagi sebanyak banyaknya masyarakat.

Executive General Manager PT Pertamina (Persero) MOR IV Sylvia Grace Yuvenna dalam sambutannya menyampaikan Pertashop adalah singkatan dari Pertamina Shop. Pertamina memiliki lebih dari 7.000 SPBU namun sebaran belum merata, masih banyak yang belum terjangkau SPBU. 

Dari total 7.196 kecamatan, 53 persen belum memiliki SPBU. Mulai Februari 2020 tahun lalu, Pertamina melakukan MoU dengan Kementerian Dalam Negeri untuk pengembangan Pertashop di wilayah seluruh Indonesia yang masih jauh dari SPBU, dengan harga sama dengan SPBU. 

Karena itu Pertashop diharapkan menjadi solusi mendekatkan kepada masyarakat. Menurutnya hingga 25 April 2021 sudah ada 1.670 unit Pertashop di Indonesia, tersebar di seluruh provinsi. 

Untuk pondok pesantren beberapa minggu lalu diresmikan Habib Luthfi dan Menteri BUMN di Surusunda Cilacap. “Pertashop merupakan peluang bagi masyarakat untuk memiliki Penyalur Mini, SPBU skala kecil, resmi dan investasi kecil. Selain menjual BBM, juga bisa menjual LPG dan pelumas Pertamina,” ujar Sylvia. 

Lanjutnya, keuntungan Pertashop ada 6, yaitu kerja sama saling menguntungkan, margin lebih besar dari SPBU biasa, produk berkualitas, bisa menjual produk lain, dan luas areal kisaran 210 meter persegi relatif kecil, serta adanya jaminan ketersediaan kuota. Berbeda dengan Pertamini yang tidak resmi dan tidak ada jaminan. 

Persyaratannya juga jauh lebih ringkas dari SPBU. “Jenis Pertashop yang paling diminati adalah gold yang investasi kisaran 250 juta,” katanya.

Menyangkut pembiayaan, Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Hery Gunardi menyampaikan BSI siap mendukung pendirian 1.000 Pertashop dilingkungan Pesantren yang ditargetkan Menteri BUMN. BSI sebagai bank syariah terbesar di Indinesia tetap mendukung dan menumbuhkan usaha kecil, termasuk untuk pesantren, dengan cara cash manajemen system. 

“Bantuan pembiayaan diberikan secara bertahap seiring kelayakan, akan tetapi jika lancar maka peluang nilai bantuan akan semakin meningkat,” ujar Hery.

Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) yang juga Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan pentingnya menggerakkan, membangun ekonomi umat di era pandemi. “Pandemi mengajarkan kebersamaan, disaat ekonomi masyarakat terganggu, Pemerintah wajib menggerakkan korporasi untuk menjadi lokomotif keseimbangan ekonomi” ujar Erick. 

Erick melanjutkan, termasuk memastikan pesantren menggerakkan ekonomi. Dalam hal ini, dari target 10.000 Pertashop, 1.000 diarahkan untuk digarap oleh pesantren. “Saya apresiasi kolaborasi Pertamina, BSI, BPH Migas dan juga Masyarakat Ekonomi Syariah untuk bahu-membahu dan jadi katalisator untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Wantimpres Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Yahya menyampaikan tausiah pasca berbuka puasa, rasa syukur atas kehadiran lengkap yang diundang. Sekaligus berpesan bahwa sudah saatnya membuktikan kemandirian pesantren, karena pasti ada cara diluar ketergantungan dari sebagian yang masih menggunakan pola lama, diantaranya pola proposal setiap ada kegiatan. 

Menurut Habib Luthfi, Pertashop memberikan peluang itu, maka wajib untuk didukung. Dengan cara bisnis, berusaha maka ada kemandirian dilingkungan pesantren. “Negara lain sudah maju, kita masih sering berkutat dengan persoalan yang seharusnya sudah lewat, dan saatnya menatap kedepan,” katanya.

“Hidup, tidak kenal masa Covid-19 atau tidak. Makam para wali saja walaupun beliau-beliau sudah meninggal, tetapi tempat itu bisa memberi makan bagi yang hidup, masih mempersatukan orang, mengukhuwahkan orang. Karena itu, kita yang masih hidup, harus bisa lebih jauh lagi,” ucap Habib Luthfi.

Habib Lutfi mengungkapkan termasuk pengembangan Pertashop, kuncinya manajemen harus diatur dengan baik, jangan dicampur dengan yang lain-lain. Prioritas tumbuhkan dulu. Prinsip bisnis harus ditaati, jangan dicampur utang-utang pribadi. “Ini kuncinya,” katanya menegaskan. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.