Jumat, 3 Februari 23

Bamsoet: Seribu Kawan Masih Terlalu Sedikit, Satu Musuh Sudah Terlalu Banyak

Bamsoet: Seribu Kawan Masih Terlalu Sedikit, Satu Musuh Sudah Terlalu Banyak
* Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) dalam acara peluncuran buku terbarunya, dan sekaligus syukuran ulang tahun ke-60 yang diselenggarakan pada Sabtu, 10 September 2022 di Jakarta. (Foto: mpr.go.id)

Obsessionnews.com – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo, yang akrab disapa Bamsoet, mengapresiasi dan menyampaikan terima kasih kepada keluarga dan para kolega yang menyempatkan diri hadir saat acara peluncuran buku terbarunya, 60 Tahun Meniti Buih di Antara Karang, dan sekaligus syukuran ulang tahun ke-60 yang diselenggarakan pada Sabtu, 10 September 2022 di Jakarta. Banyaknya ketua umum partai, politisi, menteri kabinet, pimpinan lembaga tinggi negara, para pengusaha dari HIPMI, KADIN Indonesia, pimpinan ormas, Perguruan Tarung derajat, hingga perwakilan komunitas otomotif anggota Ikatan Motor Indonesia (IMI), menunjukan Bamsoet bisa diterima baik oleh semua pihak. Tidak membedakan orang lain berdasarkan status sosial ataupun golongan.

 

Baca juga:

Bamsoet Apresiasi Penghargaan Achmad Bakrie XVIII 2022

Bamsoet Dukung Langkah Tegas Kapolri Ungkap Kasus Tewasnya Brigadir J

Bangkitkan Perekonomian Nasional, Bamsoet Dukung Lahirnya Perusahaan Digital Mining Baru

 

 

“Dalam berteman saya sama sekali tidak membeda-bedakan satu dengan yang lain. Saya berusaha baik, terbuka dengan siapa pun. Dalam memimpin baik saat menjadi Ketua Komisi, Ketua DPR ataupun Ketua MPR, saya menggunakan jurus merangkul, bukan memukul. Karena bagi saya seribu kawan masih terlalu sedikit, satu musuh sudah terlalu banyak. Sekalipun saya tahu dalam dunia politik tidak ada kawan ataupun lawan yang abadi. Dalam perang kita hanya bisa terbunuh sekali, tetapi dalam politik kita bisa mati berkali-kali. Jadi, santai saja,” ujar Bamsoet di Bali dalam keterangan tertulisnya, Senin (12/9/22).

Hadir dalam acara syukuran ulang tahun ke-60 Bamsoet antara lain Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, Wakil Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Lestari Moerdijat, Sjarifuddin Hasan, Hidayat Nur Wahid, Arsul Sani, dan Fadel Muhammad, Wakil Ketua DPD Mahyudin dan Sultan Baktiar Najamudin, Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni, Ketua MK Anwar Usman, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar, Ketum Nasdem Surya Paloh, Ketua Dewan Pembina Partai Golkar, Ketum PAN Zulkifli Hasan, Ketum Hanura Oesman Sapta, Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, anggota Fraksi PDIP, Golkar, Gerindra, Demokrat, PKS, Nasdem, PKB, PAN, PPP, Ketum Perindo Harry Tanoe, Sekjen PKS Aboe Bakar Alhabsy. Juga hadir para milenial, Youtuber, influencer seperti Atta Halilintar dan Aurel, Raffi Ahmad dan Nagita, Deddy Corbuzier, Ruddy Salim, Rizky Billar, Diaz Hendropriyono, Anang Hermansyah dan Ashanti, Kris Dayanti, Hotman Paris Hutapea dan lain-lain.

Hadir pula Menko Polhukam Mahfud MD, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Hadi Tjahjanto, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan, Menteri PUPR Basoeki Hadimoeljono, KASAD Jenderal TNI Dudung Abdurachman, KASAL Laksamana Yudo Margono, Danjen Kopassus Mayjen TNI Iwan Setiawan, Dubes Maroko Ouadiâ Benabdellah, Dubes Kuwait Abdullah Y B SH Alfadhli, Plt. Dubes Libya Zakarya MM Elmograhbi, serta Duta Besar RRT Lu Kang.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar menyadari dirinya terlahir bukan sebagai anak pengusaha kaya ataupun politisi yang memiliki banyak jaringan. Lahir sebagai anak seorang tentara yang hidupnya pas pasan, membuat Bamsoet selalu rendah hati dan menghormati orang lain.

“Ayah saya selalu mengajarkan kepada saya sedari kecil untuk tidak sombong dan menghargai orang lain. Almarhum ayah merupakan panutan dan inspirasi terbesar dalam hidup saya. Beliau meninggalkan kami ketika usia saya 14 tahun. Selanjutnya saya dan adik-adik dibesarkan Ibu sebagai orang tunggal. Tanpa bimbingan, gemblengan keras serta doa restu ibunda, tidak mungkin saya bisa menjadi seperti sekarang,” kata Bamsoet.

Mantan Ketua DPR ini menceritakan, semasa hidupnya sang ayah tidak pernah menuntut dirinya mengikuti jejak sebagai tentara ataupun memintanya menjalani profesi tertentu. Sepeninggal sang ayah, ibunya juga membebaskan Bamsoet memilih jalan hidup.

“Sebenarnya waktu kecil saya memiliki cita-cita menjadi dokter. Karenanya saat SMA saya mati-matian masuk IPA. Tapi, selepas lulus SMA ternyata justru masuk Fakultas Ekonomi, lanjut berkarier menjadi wartawan, pengusaha, dan menjadi politisi,” urai Bamsoet

Ia mengaku tidak pernah memiliki cita-cita muluk menjadi pejabat negara. Bamsoet menjalani hidup mengalir saja. Mengikuti takdir Allah dan garis tangan. Berlatar belakang tentara, sang ayah juga selalu menanamkan nilai kedisiplinan, tanggung jawab, kerja keras, kejujuran dan keberanian kepada Bamsoet dan seluruh anggota keluarga. Nilai-nilai tersebut selalu dipegang Bamsoet dalam mengarungi kehidupan selepas ayahanda pergi menghadap Sang Khalik.

“Dalam semua profesi yang saya jalani, nilai-nilai yang dulu ditanamkan ayah selalu saya pegang tinggi dan menjadi pegangan dalam mengarungi kehidupan. Karenanya, meski sesibuk apa pun saat ini, saya pasti akan sempatkan waktu untuk keluarga. Saya telah kehilangan banyak waktu karena terlalu banyak nge-gas waktu muda merintis karier,” tandasnya. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.