Jumat, 5 Juni 20

Bagaimana Hukumnya Waria Naik Haji? Apakah Sah?

Bagaimana Hukumnya Waria Naik Haji? Apakah Sah?
* ilustrasi - waria

Istilah waria atau wanita pria alias banci, pasti sudah tidak asing lagi di telinga. Lalu, bagaimana hukumnya kalau seorang waria beribadah haji? Menurut para ulama, hukum waria dalam menunaikan ibadah haji tetaplah wajib sebagaimana orang Islam lainnya apabila mampu baik secara rohani maupun jasmani. Jika jasmaninya laki-laki maka diwajibkan baginya untuk berhaji seperti laki-laki pada umumnya. Ini karena dalam Islam nggak ada hukum khusus untuk waria.

Waria yang naik haji akan dikenakan syarat yang sama seperti halnya calon jamaah haji lain. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam masalah ini ialah ada dua istilah yaitu Khuntsa dan Takhannuts yang dikenal dalam Islam. Keduanya berbeda secara mendasar walau sedikit mirip. Nah, dua hal inilah yang harus dipahami benar oleh waria sebelum melaksanakan ibadah haji.

Khuntsa ialah keadaan khusus di mana seseorang terlahir dengan kelamin ganda, alias laki-laki dan wanita sekaligus. Dalam kasus ini, Islam memiliki sikap tersendiri sejak awal terkait status jenis kelamin seseorang. Jika organ kelamin laki-lakinya lebih dominan dari segi bentuk, fungsi, ukuran dan lain sebagainya, maka ia dinyatakan sebagai laki-laki. Begitu juga kalau organ kelamin perempuan lebih dominan maka ia dihukumi sebagai seorang perempuan.

Kalau sudah jelas identitas kelaminnya, maka berlaku bagi Khuntsa hukum mengenai batasan aurat, nikah, mahram, wali, warisan dan lain-lain. Dalam masalah haji, Khuntsa yang ditetapkan haruslah mengelompokkan diri sesuai jenis kelaminnya masing-masing. Nah, masalah dengan waria beribadah haji biasanya lebih mengarah pada golongan Takhannuts. Takhannuts ialah seseorang yang berpura-pura menjadi perempuan padahal aslinya laki-laki atau laki-laki yang berlagak jadi perempuan. Instansi terkait haji maupun umroh seperti Kemenag sudah seharusnya meneliti dengan lebih seksama terkait Takhannuts ini. Mereka biasanya berlagak seperti Khuntsa walau dari segi fisik telah memiliki organ kelamin yang jelas.

Untuk menghindari munculnya masalah terkait status laki-laki atau perempuan, memang harus dipastikan dari alat kelaminnya sebagai pedoman apakah seseorang harus menggunakan pakaian ihrom perempuan atau laki-laki. Waria sendiri umumnya adalah mereka yang berasal dari golongan laki-laki akan tetapi bergaya seperti perempuan. Jadi, perlakuan pada mereka tentu harus disesuaikan dengan etika laki-laki. Karena mereka pada dasarnya adalah laki-laki, jadi pergaulan mereka dengan perempuan juga persis sebagaimana etika atau adab pergaulan laki-laki dengan wanita yang memiliki batasan tertentu.

Dalam Islam sendiri, orang yang melakukan Takhannuts terbilang melakukan dosa besar karena termasuk dalam bentuk penyimpangan dari fitrah mereka. Harapannya sih, dengan waria beribadah haji mereka bisa kembali ke fitrahnya masing-masing sebagai laki-laki.

Bagaimana Hukumnya?
Apakah waria beribadah haji akan dapat dikatakan sah dan diterima ibadahnya? Lalu, apakah mereka harus menunaikan ibadah dengan berpakaian sebagai laki-laki atau perempuan? Jadi, bagaimana sebenarnya Islam memandang ibadah hajinya waria ini?

Perlu diketahui bahwa waria beribadah haji akan turut dikenakan syarat yang sama sebagaimana calon jamaah haji lainnya. Dalam permasalahan ini, Islam mengenal dua istilah yaitu Khuntsa serta Mukhannats. Secara mendasar, keduanya memiliki artian yang berbeda walau memang sedikit mirip. Dua istilah inilah yang harus dipahami waria dan petugas imigrasi sebelum keberangkatan haji.

Istilah Khuntsa merujuk pada keadaan di mana seseorang terlahir dengan kelamin ganda, di mana seseorang memiliki kelamin laki-laki dan perempuan sekaligus. Kondisi ini terbilang sangat jarang terjadi namun tetap dapat ditemukan di tengah masyarakat. Islam telah memiliki sikap sendiri sejak awal terkait Khuntsa. Apabila organ kelamin laki-lakinya lebih dominan baik dari segi bentuk dan fungsi, maka ia akan dinyatakan sebagai laki-laki. Demikian pula apabila organ kelamin perempuannya yang lebih mendominasi, maka ia akan dinyatakan sebagai perempuan.

Khuntsa sendiri masih terbagi dua. Pertama ada khuntsa ghairu musykil alias waria yang dapat dengan mudah dikenali jenis kelaminnya. Termasuk di antaranya adalah perubahan organ-organ tubuh setelah melalui masa baligh/dewasa. Apabila jenis kelamin yang dominan adalah laki-laki, maka ia akan dihukumi sebagai laki-laki. Begitu pula apabila jenis kelamin yang dominan adalah perempuan maka hukum yang berlaku padanya adalah perempuan.

Kedua ada khuntsa musykil atau waria yang sulit untuk dikenali apa sebenarnya jenis kelaminnya. Waria seperti ini biasanya tidak bisa diketahui dengan pasti apakah dirinya adalah laki-laki atau perempuan. Mayoritas ulama berpendapat bahwa khuntsa musykil disamakan dengan perempuan dalam hal syarat wajib naik haji. Termasuk di antaranya adalah menggunakan pakaian berjahit, berlari kecil saat menjalankan thawaf serta tidak boleh menunaikan haji tanpa muhrim.

Masalah yang sering terjadi dengan waria beribadah haji biasanya adalah mereka lebih mengarah pada mukhannats. Istilah satu ini berbeda dengan khuntsa, di mana mukhannats lebih merujuk pada laki-laki yang berperilaku seperti layaknya perempuan. Termasuk di antaranya adalah dalam hal cara berbicara, kelemah-lembutan hingga gerak gemulainya.

Mukhannats sendiri terbagi dua. Pertama, orang yang memang terlahir sebagai wanita sehingga ia tidak terhitung melakukan perbuatan dosa. Kedua, orang yang sebenarnya tidak terlahir sebagai wanita melainkan laki-laki tulen, namun menyerupai wanita dalam hal cara berbicara dan gerakannya. Orang-orang seperti inilah yang disebutkan dalam Hadist Riwayat Bukharim “Dari Ibnu Abbas, Nabi melaknat laki-laki yang menyerupai wanita (mukhannats) dan perempuan yang menyerupai laki-laki”.

Agar dapat menghindari munculnya permasalahan serta perdebatan terkait waria beribadah haji, hal yang penting untuk dilakukan adalah memastikan organ kelamin jamaah sebelum berangkat. Mengingat waria pada umumnya adalah laki-laki yang berperilaku seperti perempuan, maka perlakuan pada mereka seharusnya disesuaikan etika laki-laki. Pada dasarnya mereka adalah laki-laki, sehingga pergaulan dengan perempuan harus sama seperti adab pergaulan laki-laki dengan perempuan dengan adanya batasan-batasan tertentu.

Istilah waria atau wanita pria alias banci, pasti sudah nggak asing lagi di telinga. Lalu, gimana hukumnya kalau seorang waria beribadah haji? Menurut para ulama, hukum waria dalam menunaikan ibadah haji tetaplah wajib sebagaimana orang Islam lainnya apabila mampu baik secara rohani maupun jasmani. Jika jasmaninya laki-laki maka diwajibkan baginya untuk berhaji seperti laki-laki pada umumnya. Ini karena dalam Islam nggak ada hukum khusus untuk waria.

Waria yang naik haji akan dikenakan syarat yang sama seperti halnya calon jamaah haji lain. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam masalah ini ialah ada dua istilah yaitu Khuntsa dan Takhannuts yang dikenal dalam Islam. Keduanya berbeda secara mendasar walau sedikit mirip. Nah, dua hal inilah yang harus dipahami benar oleh waria sebelum melaksanakan ibadah haji.

Khuntsa ialah keadaan khusus di mana seseorang terlahir dengan kelamin ganda, alias laki-laki dan wanita sekaligus. Dalam kasus ini, Islam memiliki sikap tersendiri sejak awal terkait status jenis kelamin seseorang. Jika organ kelamin laki-lakinya lebih dominan dari segi bentuk, fungsi, ukuran dan lain sebagainya, maka ia dinyatakan sebagai laki-laki. Begitu juga kalau organ kelamin perempuan lebih dominan maka ia dihukumi sebagai seorang perempuan.

Kalau sudah jelas identitas kelaminnya, maka berlaku bagi Khuntsa hukum mengenai batasan aurat, nikah, mahram, wali, warisan dan lain-lain. Dalam masalah haji, Khuntsa yang ditetapkan haruslah mengelompokkan diri sesuai jenis kelaminnya masing-masing. Nah, masalah dengan waria beribadah haji biasanya lebih mengarah pada golongan Takhannuts. Takhannuts ialah seseorang yang berpura-pura menjadi perempuan padahal aslinya laki-laki atau laki-laki yang berlagak jadi perempuan. Instansi terkait haji maupun umroh seperti Kemenag sudah seharusnya meneliti dengan lebih seksama terkait Takhannuts ini. Mereka biasanya berlagak seperti Khuntsa walau dari segi fisik telah memiliki organ kelamin yang jelas.

Untuk menghindari munculnya masalah terkait status laki-laki atau perempuan, memang harus dipastikan dari alat kelaminnya sebagai pedoman apakah seseorang harus menggunakan pakaian ihrom perempuan atau laki-laki. Waria sendiri umumnya adalah mereka yang berasal dari golongan laki-laki akan tetapi bergaya seperti perempuan. Jadi, perlakuan pada mereka tentu harus disesuaikan dengan etika laki-laki. Karena mereka pada dasarnya adalah laki-laki, jadi pergaulan mereka dengan perempuan juga persis sebagaimana etika atau adab pergaulan laki-laki dengan wanita yang memiliki batasan tertentu.

Dalam Islam sendiri, orang yang melakukan Takhannuts terbilang melakukan dosa besar karena termasuk dalam bentuk penyimpangan dari fitrah mereka. Harapannya sih, dengan waria beribadah haji mereka bisa kembali ke fitrahnya masing-masing sebagai laki-laki. (labbaik/islami)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.