Jumat, 12 Agustus 22

Antara Jodoh dan Maut

Antara Jodoh dan Maut
* Ilustrasi jodoh, rezeki, dan mati. (Foto: Mezanis)

Setiap orang pasti mendambakan bersanding dengan jodoh terbaiknya. Dengan segala ikhitar, doa yang dipanjatkan kepada Allah agar bisa dipertemukan dengan cinta sejati. Semua harapan, termasuk perihal jodoh kita sandarkan kepada Allah.

Tapi apakah cukup perihal jodoh saja yang benar benar kita ikhitarkan dengan iringan doa yang tak henti terucap? Tentu saja tidak, ada hal lain yang juga sangat penting untuk kita ikhtiarkan dan kita mohonkan kepada Allah. Hal itu adalah tentang kematian kita, akhir hayat kita.

Perihal jodoh, sudah Allah janjikan di dalam al-Qur’an yakni dalam surat An-Nur ayat 26 yang berbunyi:

ٱلْخَبِيثَٰتُ لِلْخَبِيثِينَ وَٱلْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَٰتِ وَٱلطَّيِّبَٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَٰتِ أُو۟لَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ ﴿٢٦﴾

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga)”.

Seputar kematian pun juga Allah telah jelaskan dalam al-Qur’an di antaranya pada surat Al-Waqi’ah ayat 60 yang berbunyi:

نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ ٱلْمَوْتَ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ ﴿٦٠﴾

“Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan”

Dan juga di dalam surat An-Nahl ayat 61 yang menyebutkan bahwa jika ajal seseorang sudah tiba, tidak ada seorangpun dapat meminta untuk diajukan atau dimundurkan:

وَلَوْ يُؤَاخِذُ ٱللَّهُ ٱلنَّاسَ بِظُلْمِهِم مَّا تَرَكَ عَلَيْهَا مِن دَآبَّةٍ وَلَٰكِن يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَـْٔخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ ﴿٦١﴾

“Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya.”

Jika tentang sebuah pernikahan manusia bisa berikhtiar dan menentukan target mengenai calon pasangan, tempat dan waktunya, tetapi tidak dalam hal kematian. Ia akan menjadi misteri, kapan waktunya, tempatnya dimana dan dengan cara apa kita dipanggil Sang Pencipta. Kita hanya bisa berikhitar dengan menjadikan diri kita orang yang shalih supaya kita dapat kembali kepada Allah denga akhir yang baik (husnul khotimah).

Beberapa saat yang lalu, kita dikabarkan dengan sebuah berita yang mengabarkan bahwa ada seorang calon pengantin perempuan di suatu daerah yang meninggal satu jam sebelum akad nikahnya. Ini adalah sebuah contoh nyata bahwa jodoh pengantin yang sebentar lagi akan bersanding dengan diri, digantikan dengan takdir yang lain yaitu kematian. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Dengan tiba-tiba nya saat kematian itu, kita harus senantiasa mempersiapkannya. Dengan cara memantaskan diri di hadapan Allah ketika nanti Sang Pencipta memanggil. Sedangkan untuk perihal jodoh, seyogyanya kita bisa mempersiapkannya dengan memperbaiki diri karena Allah, bukan karena yang lain.

Sungguh rugi jika kita mempersembahkan perbaikan diri kita kepada makhluk, bukan kepada Sang Khalik yang menciptakan kita. Padahal yang kita cari tidak lain dan tidak bukan hanyalah ridho Allah SWT. Oleh karena itu mari memantaskan diri karena Allah dan hanya untuk Allah. Jika Allah memberi kesempatan kita untuk bertemu jodoh, insyaallah ia adalah ceriminan kita yang memperbaiki diri karena-Nya. Namun, jika maut yang datang terlebih dahulu untuk melamar semoga dengan ikhtiar karena Allah lah kita bisa menutup usia kita dengan akhir yang baik, dengan husnul khotimah. Aamiin.

Yang terakhir, mari kita renungkan bersama sebuah pesan dari Rasulullah SAW.

Umar ibn Khattab, khalifah kedua setelah Abu Bakar al-Shidiq, pernah berkata:
أتيتُ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم عاشرَ عشرةٍ , فقال رجلٌ من الأنصارِ : من أكيَسُ النَّاسِ وأكرمُ النَّاسِ يا رسولَ اللهِ ؟ فقال : أكثرُهم ذِكرًا للموتِ وأشدُّهم استعدادًا له أولئك هم الأكياسُ ذهبوا بشرفِ الدُّنيا وكرامةِ الآخرةِ .
”Bersama sepuluh orang, aku menemui Nabi SAW lalu salah seorang di antara kami bertanya, ‘Siapa orang paling cerdas dan mulia wahai Rasulullah?’ Nabi menjawab, ‘Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya, mereka itulah orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan akhirat’.” (hadits riwayat Ibnu Majah).

(*/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.