Jumat, 27 Mei 22

Ani Yudhoyono yang Bersahaja

Ani Yudhoyono yang Bersahaja
* Kunjungan kerja Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) yang didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono di Magelang, Jawa Tengah, Jumat (2/5/2008). Acara tersebut dihadiri Staf Kepresidenan Arif Rahman Hakim (berbaju batik). (Foto: Abror Rizki)

Oleh: Arif Rahman Hakim, Staf Kepresidenan Era SBY

 

PROFESIKU sebagai wartawan mengantarkan diriku bekerja di Istana Presiden di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Saya bekerja sebagai Staf Kepresidenan periode 2007-2014. Sebelumnya saya wartawan Majalah Men’s Obsession.

Saya direkrut oleh Staf Khusus Presiden Bidang Hukum dan Pemberantasan KKN Mayjen (Purn) TNI Sardan Marbun. Tugasku membantu mengelola tabloid “Sambung Hati 9949”, yang berisikan sosialisasi kegiatan Presiden dan program-program pemerintah. Para pengelola tabloid turun langsung ke lapangan meliput kegiatan Presiden SBY dan Ibu Negara Ani Yudhoyono. Juga meninjau program-program pemerintah di berbagai daerah.

Selain itu saya juga terlibat membantu menangani pengaduan masyarakat kepada Presiden melalui SMS 9949.

Angka 9949 yang dipakai nama untuk tabloid dan SMS adalah mengacu pada tanggal kelahiran SBY, yakni 9-9-1949.

Tugasku yang lain adalah membantu menulis buku yang berisikan kinerja Kabinet Indonesia Bersatu di bawah kepemimpinan Presiden SBY.

Saya meliput kegiatan Presiden SBY dan Ibu Ani di beberapa daerah. Misalnya saya meliput kegiatan SBY dan Ibu Ani saat menghadiri panen raya padi jenis Super Toy di Desa Gerabag, Kecamatan Gerabag, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Kamis (17/4/2008)

Selain itu saya juga mendapat kesempatan meliput kegiatan SBY dan Ibu Ani saat melakukan pertemuan dengan para pengusaha, buruh, dan elemen masyarakat lainnya dalam rangka memperingati Hari Buruh, serta sosialisasi program pro rakyat di Magelang, Jawa Tengah, Jumat (2/5/2008).

Saya juga diberi kepercayaan meliput aktivitas SBY dan Ibu Ani dalam acara peresmian infrastruktur di Denpasar, Bali, Sabtu (14/6/2008).

Diundang Rapat di Istana Negara

Salah satu peristiwa yang tidak mudah saya  lupakan adalah saat diundang rapat oleh SBY di Istana Negara pada pertengahan Oktober 2008. Saya lupa hari dan tanggalnya. SBY mengundang rapat sejumlah pejabat dan Staf Kepresidenan yang tergabung dalam tim penulis buku pukul 15.00 WIB.

Pagi itu saya ada keperluan di Bekasi, dan berencana ke kantor siang hari. Sekitar jam 09.00 WIB seorang  teman  meneleponku, memberitahu rapat dengan SBY dimajukan pada pukul 10.00 WIB.

Waduh, saya terperanjat. Saya buru-buru naik bus menuju ke Istana Presiden. Namun, jalan tol macet luar biasa, dan saya baru tiba di Istana Presiden pukul 12.00 WIB.

Saya nekad ke Istana Negara, dan memberitahu anggota Paspampres, bahwa saya terlambat menghadiri rapat. Saya disuruh menunggu di ruang tamu. Di sebelah ruang tamu adalah ruang rapat di mana SBY tengah memberikan arahan. Di samping ruang tamu terdapat dinding, sehingga saya tidak bisa melihat  suasana  di  ruang rapat.

Seorang anggota Paspampres masuk  ke  ruang  rapat, dan beberapa saat kembali ke ruang tamu. “Ditunggu sebentar ya, Pak?” katanya dengan ramah.

“Terima kasih, Pak,” kataku.

Hampir setengah jam saya berada di ruang tamu dengan hati gelisah.

Di ruang rapat tiba-tiba terdengar suara SBY yang kemudian  diikuti suara tawa para peserta rapat. Anggota Paspampres yang menjagaku kemudian dipanggil masuk ke ruangan rapat. Ia kembali dengan cepat ke ruang tamu dan mengatakan,”Bapak Presiden berkenan bertemu Pak Arif.”

Didampingi anggota Paspampres itu saya menuju ke  ruangan rapat. SBY dan Ibu Negara Ani Yudhoyono berdiri menyambut kedatanganku.

“Assalamu alaikum Bapak Presiden dan Ibu,” kataku sambil menyalami SBY dan Ibu Ani.

“Wa alaikum salam,” jawab SBY, Ibu Ani, dan para peserta rapat.

SBY mempersilakan saya duduk di sampingnya. Saya kikuk duduk di samping SBY.

“Pak  Arif,  tadi  hampir  satu  jam saya  memberikan  materi buku tentang program-program pro rakyat. Sekarang  saya  ulangi lagi menjelaskan  materi itu ya?” kata SBY sambil tersenyum.

Saya terkejut, tapi tidak bisa ngomong apa-apa. Hampir sejam SBY menjelaskan arahannya untuk materi buku.

Seusai rapat saya sempat ngobrol dengan Ibu Ani.

“Tolong bantu sosialisasikan program-program pemerintah ya, Pak Arif?” kata Ibu Ani sambil tersenyum.

“Siap, Ibu,” jawabku.

Kemudian saya dan para peserta rapat meninggalkan Istana Negara. Dalam perjalanan menuju ke ruang kerja, pimpinan dan  teman-temanku  tak  henti-hentinya membicarakan rapat dengan SBY dan tentang diriku.

“Kamu  datang terlambat, Pak SBY masih mau menerima kamu. Tadi  waktu  kami  datang  Pak SBY hanya menyalami kami dan mempersilakan kami duduk. Pak SBY sama sekali tidak menyebut nama kami. Hal ini beda dengan kamu. Pak SBY menyebut namamu, menyuruhmu duduk di sampingnya. Dan beliau mau mengulangi lagi menjelaskan materi rapat,” kata salah seorang pimpinanku.

Saya cuma nyengir.

Menyapa Sahabat Lama

Ibu Ani sosok yang bersahaja. Dia ramah dan selalu menyapa teman-teman lamanya.

Saat SBY masih aktif di militer dia dan keluarganya tinggal di Bandung. Ketika itu SBY dan Ibu Ani akrab dengan teman seangkatannya di Akmil, Massi. Ibu Ani akrab dengan istri Massi.

Ketika SBY terpilih pertama kali sebagai Presiden pada Pilpres 2004, ia merekrut Kolonel (Purn) TNI Massi bekerja di Istana. Massi diberi jabatan sebagai Asisten pada Staf Khusus Presiden Bidang Hukum dan Pemberantasan KKN. Massi satu kantor denganku, dan salah satu pimpinanku.

Pada 2008 Staf Khusus Presiden Bidang Hukum dan Pemberantasan KKN Sardan Marbun menikahkan putranya, Bowman Marbun, di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Bowman adalah rekanku sesama Staf Kepresidenan.

Resepsi pernikahan Bowman tersebut dihadiri oleh Presiden SBY, Ibu Ani, Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan sejumlah pejabat.

Massi dipercaya sebagai ketua panitia resepsi pernikahan. Massi, istrinya, dan saya serta sejumlah Staf Kepresidenan menyambut kedatangan tamu.

Ibu Ani Yudhoyono menghadiri resepsi pernikahan Staf Kepresidenan Bowman Marbun di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, tahun 2008. (Foto: ist)

Malam itu SBY dan Ibu Ani hadir. Ketika Ibu Ani melihat Bu Massi berada dalam barisan penerima tamu, dia langsung menyapa Bu Massi. Lalu kedua sahabat itu berpelukan.

“Gimana anak-anak sehat?” tanya Ibu Ani.

“Alhamdulillah, sehat, Ibu,” jawab Bu Massi.

Itulah salah satu sikap bersahaja dan rendah hatinya Ibu Ani. Meski saat itu kedudukannya sebagai Ibu Negara ia tidak malu menyapa sahabatnya yang cukup lama tidak bertemu.

SBY dua periode menjadi presiden, yakni periode 2004-2009 dan periode 2009-2014.

Setelah SBY dan Ibu Ani meninggalkan Istana Presiden pada Oktober 2014, saya tidak pernah bertemu lagi dengan Ibu Ani.

Sabtu (1/6/2019) saya terperanjat mendengar kabar Ibu Ani meninggal dunia di National University Hospital, Singapura. Dia dirawat sejak Februari 2019 karena menderita sakit kanker darah. Inna lillahi wa inna ilahi ra jiun.

Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, Minggu (2/6). Bertindak sebagai inspektur upacara adalah Presiden Joko Widodo (Jokowi)

Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan menerima amal ibadahnya. Amin. (*)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.