Anggota DPR Wanita Muslim Ubah Wajah Politik AS

Trio perempuan yang baru terpilih menjadi anggota Kongres telah mengguncang politik Amerika Serikat (AS). Seperti dilansir bbc.com, Senin (25/2), ketiga perempuan kulit berwarna ini memenangkan kursi sebagai wakil Partai Demokrat lewat pemilihan umum sela AS bulan November lalu. Meski pendatang baru, mereka secara terbuka mempertanyakan konvensi lama kelompok mapan Amerika, baik dalam hal domestik maupun luar negeri, sehingga mendapatkan pendukung antusias, di samping pengecam keras, termasuk dari dalam partainya sendiri. Jadi apakah perempuan ini wakil banyak suara yang radikal atau revolusioner yang sudah lama dinantikan politik AS? Di usia 29 tahun, Alexandria Ocasio-Cortez, mantan bartender dan pelayan dari New York menjadi perempuan termuda yang masuk ke Kongres. Keluarganya berasal dari Puerto Rico. Ihan Omar dari Minnesota adalah warga Amerika keturunan Somalia berumur 38 tahun yang memakai hijab. Dia tiba di AS pada tahun 1995 sebagai pengungsi. Pada pemilu sela November, dia dan rekannya Rashida Tlaib menjadi perempuan Muslim pertama yang terpilih di Kongres. Rashida Tlaib, 42 tahun, wakil dari Michigan, adalah seorang pengacara dari generasi pertama Amerika-Palestina. Nenek dan kerabatnya masih tinggal di Tepi Barat yang diduduki Israel. Bisa dikatakan bahwa ketiganya mewakili politik progresif Demokrat AS. Mereka mendukung hak LGBT, aborsi sebagai hak perempuan dan membela hak imigran. [caption id="attachment_275535" align="alignnone" width="640"]
Rashida Tlaib dan Ilhan Omar mencatat sejarah sebagai perempuan Muslim pertama di Kongres. (BBC)[/caption] Bintang Medsos Dalam kaitannya dengan masalah luar negeri, Ilhan Omar dan Rashida Tlaib sangat berbeda dengan warga AS pada umumnya terkait dengan Israel, sekutu Amerika sejak lama dan penerima bantuan. Sementara dalam hal politik dalam negeri, Alexandria Ocasio-Cortez atau AOC nama yang dipakai penggemarnya di Twitter, telah mengguncang dan mendapatkan banyak perhatian karena pandangannya yang sangat kiri, suatu hal yang langka di politik AS. Tidak diragukan lagi bahwa perempuan-perempuan Demokrat ini sangat menentang Presiden Donald Trump. Tetapi kadang-kadang pesaing serius pun memiliki kesamaan. Misalnya dalam hal penggunaan 280 karakter sebuah Tweet. Jika Donald Trump telah membuat terobosan dengan membuat Twitter sebagai saluran utama untuk berbicara langsung dengan masyarakat Amerika, politikus perempuan ini mengikuti jejaknya dengan mengedepankan pesan politik lewat kehadiran kuat di media sosial. [caption id="attachment_275537" align="alignnone" width="640"]
Ilhan Omar terpilih menjadi bagian dari Foreign Affairs Committee DPR. (BBC)[/caption] Perlombaan Interaksi Ini adalah strategi yang terutama berhasil bagi Alexandria Ocasio-Cortez. Menurut sebuah kajian yang dilakukan situs internet berita Axios, selama sebulan anggota Kongres ini menciptakan lebih banyak interaksi di Twitter (retweets dan likes) dibandingkan enam situs berita paling berhasil AS di Twitter, termasuk organisasi besar seperti CNN dan New York Times. Saat penelitian dilakukan, Donald Trump masih di atasnya dengan jumlah sekitar tiga kalinya, tetapi data ini - mengalahkan anggota Demokrat lainnya - tetap saja mewakili keberhasilan besar bagi Alexandria Ocasio-Cortez mengingat dirinya baru saja menjadi anggota DPR. Melakukan streaming video-nya di Instagram saat membuat sup di dapur sambil membicarakan usulan peningkatan pajak bagi orang kaya kemungkinan tidak sukai semua orang, tetapi bagi generasi baru yang tumbuh dengan media sosial, dia sangatlah menarik. . Di samping peningkatan pajak sampai 70% bagi orang berpemasukan tinggi, dia juga mempromosikan rencana Green New Deal untuk menjadikan Amerika sama sekali bebas dari bahan bakar fosil dengan berinvestasi pada energi bersih, asuransi kesehatan bagi semua warga dan universitas gratis. [caption id="attachment_275539" align="alignnone" width="640"]
Sebagai perempuan anggota Kongres pertama dari keturunan Palestina, Rashida Tlaib mengenakan thobe. (BBC)[/caption] Luar Biasa Jika kemenangan Trump pada pemilu sebagai petunjuk, usahanya yang sering terdengar mengingatkan bahwa Amerika bosan dengan politik pada umumnya, sepertinya juga terjadi di sebagian besar masyarakat AS. Anggota Kongres perempuan yang baru terpilih menyerang Trump dengan semangat yang sama: dia tidak bisa mengharapkan dirinya dapat bekerja seperti biasa. Ketika Ilhan Omar, wakil masa jabatan pertama kelahiran Somalia mempertanyakan utusan yang baru ditunjuk Trump untuk Venezuela, diplomat veteran Elliott Abrams pada sebuah sidang Kongres, videonya langsung menjadi viral. "Apakah Anda akan mendukung kelompok bersenjata di dalam Venezuela yang terlibat kejahatan perang, kemanusiaan atau genosida jika Anda percaya mereka melakukannya untuk kepentingan AS, seperti yang Anda lakukan di Guatemala, El Salvador, dan Nikaragua?" Ilhan Omar menanyakannya, sehingga memicu perdebatan menegangkan di antara keduanya. Dia mengacu kepada peran Elliott Abrams dalam skandal yang dikenal sebagai Iran-Contra. Ketika diketahui bahwa Amerika secara diam-diam menjual senjata ke Iran pada tahun 1980-an dan menyalurkan dananya untuk kelompok anti-komunis Nikaragua. [caption id="attachment_275541" align="alignnone" width="640"]
Alexandria Ocasio-Cortez memasuki Kongres sebagai bagian dari jumlah terbanyak wakil perempuan di DPR dalam sejarah AS. (BBC)[/caption] Diundang Israel Rashida Tlaib, warga Amerika keturunan Palestina ini kemungkinan akan menjadi perhatian kembali jika rencananya untuk melakukan kunjungan ke Tepi Barat sebagai anggota Kongres, bukannya lawatan ke Israel yang biasa dilakukan, akan terjadi. Anggota baru Kongres AS yang baru terpilih setiap tahun diundang ke Israel secara gratis, disponsori bagian pendidikan Aipac. Kebanyakan dari mereka menerima undangan tersebut, tetapi tahun ini mereka kemudian akan mendapatkan pilihan lain. Rashida Tlaib berencana mengundang anggota baru untuk bergabung dengan dirinya, mengunjungi Tepi Barat, memusatkan perhatian kepada segregasi dan pengaruh pendudukan militer Israel selama 52 tahun. "Saya pikir Aipac tidak memberikan lensa yang nyata dan adil terkait masalah ini," katanya dalam wawancara dengan situs Intercept. "Mereka tidak memperlihatkan sisi yang saya ketahui nyata, yaitu apa yang dialami nenek saya dan apa yang terjadi kepada keluarga saya di sana." Namun, Rashida malah dituduh sejumlah pengecamnya bersimpati kepada teroris. "Saya Muslim dan Palestina," tulisnya pada sebuah posting Twitter, "Hadapilah itu." (Red/BBC)
Rashida Tlaib dan Ilhan Omar mencatat sejarah sebagai perempuan Muslim pertama di Kongres. (BBC)[/caption] Bintang Medsos Dalam kaitannya dengan masalah luar negeri, Ilhan Omar dan Rashida Tlaib sangat berbeda dengan warga AS pada umumnya terkait dengan Israel, sekutu Amerika sejak lama dan penerima bantuan. Sementara dalam hal politik dalam negeri, Alexandria Ocasio-Cortez atau AOC nama yang dipakai penggemarnya di Twitter, telah mengguncang dan mendapatkan banyak perhatian karena pandangannya yang sangat kiri, suatu hal yang langka di politik AS. Tidak diragukan lagi bahwa perempuan-perempuan Demokrat ini sangat menentang Presiden Donald Trump. Tetapi kadang-kadang pesaing serius pun memiliki kesamaan. Misalnya dalam hal penggunaan 280 karakter sebuah Tweet. Jika Donald Trump telah membuat terobosan dengan membuat Twitter sebagai saluran utama untuk berbicara langsung dengan masyarakat Amerika, politikus perempuan ini mengikuti jejaknya dengan mengedepankan pesan politik lewat kehadiran kuat di media sosial. [caption id="attachment_275537" align="alignnone" width="640"]
Ilhan Omar terpilih menjadi bagian dari Foreign Affairs Committee DPR. (BBC)[/caption] Perlombaan Interaksi Ini adalah strategi yang terutama berhasil bagi Alexandria Ocasio-Cortez. Menurut sebuah kajian yang dilakukan situs internet berita Axios, selama sebulan anggota Kongres ini menciptakan lebih banyak interaksi di Twitter (retweets dan likes) dibandingkan enam situs berita paling berhasil AS di Twitter, termasuk organisasi besar seperti CNN dan New York Times. Saat penelitian dilakukan, Donald Trump masih di atasnya dengan jumlah sekitar tiga kalinya, tetapi data ini - mengalahkan anggota Demokrat lainnya - tetap saja mewakili keberhasilan besar bagi Alexandria Ocasio-Cortez mengingat dirinya baru saja menjadi anggota DPR. Melakukan streaming video-nya di Instagram saat membuat sup di dapur sambil membicarakan usulan peningkatan pajak bagi orang kaya kemungkinan tidak sukai semua orang, tetapi bagi generasi baru yang tumbuh dengan media sosial, dia sangatlah menarik. . Di samping peningkatan pajak sampai 70% bagi orang berpemasukan tinggi, dia juga mempromosikan rencana Green New Deal untuk menjadikan Amerika sama sekali bebas dari bahan bakar fosil dengan berinvestasi pada energi bersih, asuransi kesehatan bagi semua warga dan universitas gratis. [caption id="attachment_275539" align="alignnone" width="640"]
Sebagai perempuan anggota Kongres pertama dari keturunan Palestina, Rashida Tlaib mengenakan thobe. (BBC)[/caption] Luar Biasa Jika kemenangan Trump pada pemilu sebagai petunjuk, usahanya yang sering terdengar mengingatkan bahwa Amerika bosan dengan politik pada umumnya, sepertinya juga terjadi di sebagian besar masyarakat AS. Anggota Kongres perempuan yang baru terpilih menyerang Trump dengan semangat yang sama: dia tidak bisa mengharapkan dirinya dapat bekerja seperti biasa. Ketika Ilhan Omar, wakil masa jabatan pertama kelahiran Somalia mempertanyakan utusan yang baru ditunjuk Trump untuk Venezuela, diplomat veteran Elliott Abrams pada sebuah sidang Kongres, videonya langsung menjadi viral. "Apakah Anda akan mendukung kelompok bersenjata di dalam Venezuela yang terlibat kejahatan perang, kemanusiaan atau genosida jika Anda percaya mereka melakukannya untuk kepentingan AS, seperti yang Anda lakukan di Guatemala, El Salvador, dan Nikaragua?" Ilhan Omar menanyakannya, sehingga memicu perdebatan menegangkan di antara keduanya. Dia mengacu kepada peran Elliott Abrams dalam skandal yang dikenal sebagai Iran-Contra. Ketika diketahui bahwa Amerika secara diam-diam menjual senjata ke Iran pada tahun 1980-an dan menyalurkan dananya untuk kelompok anti-komunis Nikaragua. [caption id="attachment_275541" align="alignnone" width="640"]
Alexandria Ocasio-Cortez memasuki Kongres sebagai bagian dari jumlah terbanyak wakil perempuan di DPR dalam sejarah AS. (BBC)[/caption] Diundang Israel Rashida Tlaib, warga Amerika keturunan Palestina ini kemungkinan akan menjadi perhatian kembali jika rencananya untuk melakukan kunjungan ke Tepi Barat sebagai anggota Kongres, bukannya lawatan ke Israel yang biasa dilakukan, akan terjadi. Anggota baru Kongres AS yang baru terpilih setiap tahun diundang ke Israel secara gratis, disponsori bagian pendidikan Aipac. Kebanyakan dari mereka menerima undangan tersebut, tetapi tahun ini mereka kemudian akan mendapatkan pilihan lain. Rashida Tlaib berencana mengundang anggota baru untuk bergabung dengan dirinya, mengunjungi Tepi Barat, memusatkan perhatian kepada segregasi dan pengaruh pendudukan militer Israel selama 52 tahun. "Saya pikir Aipac tidak memberikan lensa yang nyata dan adil terkait masalah ini," katanya dalam wawancara dengan situs Intercept. "Mereka tidak memperlihatkan sisi yang saya ketahui nyata, yaitu apa yang dialami nenek saya dan apa yang terjadi kepada keluarga saya di sana." Namun, Rashida malah dituduh sejumlah pengecamnya bersimpati kepada teroris. "Saya Muslim dan Palestina," tulisnya pada sebuah posting Twitter, "Hadapilah itu." (Red/BBC) 




























