Jumat, 28 Februari 20

Aktivis, Rezim Penindas Rakyat Kita Lawan Tapi Tidak Kepada Dokter dan Perawat

Aktivis, Rezim Penindas Rakyat Kita Lawan Tapi Tidak Kepada Dokter dan Perawat
* Agus (Lenon) Edy Santoso

Oleh: Agusto Sulistio, Mantan Ketua FKPPI

 

Beberapa Jam Sebelum Alm Bang Lenon wafat

Di kamar rawat inap 2512 RS Harapan Kita, Kamis Malam 20.30 Wib 9/1/2020. Alm terbangun setelah sebelumnya sy membantu membukakan 2 obat tablet kecil dari RS dari bungkusnya. “Gusto… Maafkan Saya,” ucapnya dengan mata berkaca – kaca. Sy sebagai junior yang jauh secara angkatan juga pengalaman, sempat berfikir apa makna dari ucapan Alm. Sambil sy mejamkan mata di kursi samping tempat tidur Alm dalam suasana hening dan dinginnya AC saya berfikir apa salah Almarhum hingga meminta maaf ke saya? Saya terus berfikir sambil leyeh-leyeh dengan mata tertutup apa makna ucapan Alm. Belum terjawab dalam pikiranku tak lama Dokter jaga malam lakukan rutin rekam jantung jam malam.

Malam Pak, malam Dok, jawabku. Malam Pak Agus… Sapa dokter ke Alm… Saya cek jantungnya ya, tambah Dokter muda sambil menghitung denyut nadi dan mengukur tekanan darah Bang Lenon. Bapak minum obat apa? Tanya Dokter dengan nada agak marah. “Saya minum obat yang saya bawa dari rumah, biasa saya minum kalo dada saya sakit,” terang Alm Agus Lenon dengan nafas terhengap.

“Bapak kenapa biarkan kakaknya minum yang bukan dari RS? Kakaknya kan sedang dalam pengawasan kami, akibatnya tensi darahnya menurun drastis hingga 60 per sekia, ini diluar kebiasaan dan jauh dari normal,” terang dokter dengan nada sedikit marah ke saya.

“Dok maaf saya tidak tahu Kakak saya minum obat yang dimaksud, mungkin minumnya sebelum saya datang tadi setelah Maghrib,” jawabku.

Tak lama kemudian Dokter keluar ruang lalu Alm Bang Lenon minta diambilkan air putih hangat, dan saya bergegas keluar menuju dispancer yang letaknya diluar ruang pasien dekat pintu masuk piket perawat.

Usai menuang air hangat ke gelas perawat memanggil saya dan sampaikan hasil diagnosa dari dokter tadi, Malam Jumat, sekitar 20.45, 9/1/2020.

“Pak, kakaknya tensinya rendah dan jika terus menurun maka bisa tidak baik utk kesehatan kakaknya, kami akan lakukan yang terbaik dan kita sama doakan ya Pak,” kira- kira begitu singkat ceritanya.

Dari info inilah saya semakin mengerti dan paham maksud dari ucapan “minta maaf” dari Bang Agus Lenon. Dalam hati dan pikiran saya, jangan-jangan ini tanda Bang Agus pamit dan akan pergi selamanya, dugaku sambil duduk melihat Alm yang sedang tertidur yang sesekali terbatuk.

Lalu saya ambil Hp dan menulis di WAG Indemo tentang seberaninya aktifis melawan regim tetap tak bisa melawan saran dokter disaat sakit. Postingan ini adalah hasil rangkaian peristiwa beberapa jam saat saya berada di samping Alm di ruang rawat inap. Tadinya saya mau tulis bahwa almarhum dimarahin dokter gegara minum obat yang dibawa dari rumah. Tapi setelah saya pikir itu tak baik dan bisa timbulkan banyak persepsi, maka pikiran itu tak jadi saya posting di Wag Indemo juga ProDem.

Baru sekarang saya posting sebagai kenangan saya beberapa saat mendampingi Almarhum.

Semua itu tak menjadi beban, malah menjadi kebahagian dan kebanggan saya karena di akhir hidup Alm saya diberi kesempatan mendampi senior yang memiliki banyak pengalaman dan nama baik. (*)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.