Jumat, 6 Desember 19

Ahli Emosi: Ada Sifat Pemarah dalam Diri Prabowo

Ahli Emosi: Ada Sifat Pemarah dalam Diri Prabowo
* Debat Capres Jokowi dan Prabowo. (Foto: Edwin Budiarso/OMG)

Jakarta, Obsessionnews.com – Seorang ahli analisis emosi, Handoko Gani, menilai ada sifat pemarah dalam diri Prabowo Subianto. Hal ini terlihat dari beberapa kejadian yang memperlihatkan bahwa Prabowo terbawa emosi. Misalnya pada saat debat capres Sabtu (30/3/2019).

 

Baca juga:

Debat Capres, Gaya Prabowo Hanya Sebatas Retorika

Diplomasi Nice Guy, Antara Kenyataan atau Ilusi Prabowo?

Debat ke-4, Jokowi dan Prabowo Dinginkan Suhu Pilpres

 

Di acara debat di Hotel Shangri La, Jakarta, tersebut Prabowo bereaksi pada hadirin dalam ruangan debat yang tertawa saat dia memaparkan soal pertahanan Indonesia yang lemah. “Pertahanan Indonesia rapuh, tapi kalian ketawa, lucu ya?” kata Prabowo. Ekspresi itu merupakan bentuk kemarahan.

“Pak Prabowo pada momen itu jelas marah. Buktinya ekspresi wajah alisnya turun, menunjukkan mulut orang marah. Suaranya berubah meninggi, gesturnya mengetuk-ngetuk meja. Itu kan kelihatan orang marah, kalau menegur lain. Menegur sendiri ada rasa marah,” ujar Handoko di Jakarta, Selasa (2/4/2019).

Dia mengatakan, wajah Prabowo marah dalam momen tersebut tidak bisa disembunyikan meski ada yang bilang apa yang disampaikan sesuatu yang biasa. Prabowo marah karena merasa ditertawakan dengan nada nyinyir saat benar-benar serius menjelaskan pandangannya tentang pertahanan negara.

Kalau dikatakan hanya menegur, menurut Handoko, justru BPN malah merendahkan bobot isu yang disampaikan Prabowo. Menegur dengan cara seperti Prabowo dalam momen itu, menurut Handoko, punya level marah yang sudah tingkat D, dengan standar level A merupakan kemarahan terendah dan E kemarahan tertinggi.

“Itu jelas marah kok, level 4 kok. Jadi nggak usah ngeles, itu menegur. Dan saya rasa adalah wajar-wajar saja bila dia marah level 4 karena itu isu serius dan ada orang nyinyir saat isu seserius itu,” jelas pakar Behavioral Analysis and Investigative Interview dari Emotional Intelligence Academy, Inggris tersebut.

Handoko mengatakan, masyarakat perlu mendapat edukasi tentang definisi tegas dan emosional, serta cara membedakan antara karakter yang meliputi tegas atau emosional, dengan emosi marah. Menurutnya tegas dan pemarah itu beda. Untuk bisa menganalisis seseorang itu tegas atau emosional, perlu mendapatkan serangkaian data sikap seseorang atas sesuatu.

Tidak bisa kata dia, serta merta menilai karakter tegas atau emosional seseorang dalam satu momen Prabowo dalam debat keempat tersebut. Kalau cuma mengandalkan satu momen untuk menilai karakter seseorang, jelas menurut Handoko, adalah sebuah kesalahan.

“Kita harus mengumpulkan berbagai momen berbeda dari orang sama, namun dengan inti yang sama yaitu kurang menghormati atau menghargai atau bahkan merendahkan orang tersebut. Dari berbagai momen inilah, Kita akan menilai apakah reaksinya sama,” tuturnya.

Misalnya, apakah ada momen-momen serupa dimana ada orang yang berbicara sendiri atau tertawa nyinyir saat Prabowo sedang berbicara atau menjelaskan sesuatu. Menurut Handoko, harus dilihat apakah reaksi Prabowo relatif sama atau tidak yaitu marah level 4 dan menegur keras, seperti dalam momen debat keempat kemarin.

“Bila betul sama berkali-kali dalam momen berbeda, maka kita baru bisa menduga itulah karakter beliau: emosional yakni cepat meletup marah dengan level tinggi. Kalau tidak selalu sama, maka kita tidak boleh menduga demikian,” jelasnya.

Soal karakter ‘tegas’ perlu disamakan dulu definisinya. Handoko berpendapat bahwa sikap tegas tidak mutlak terekspresikan dengan marah level 4 dan berbicara atau menegur langsung di momen tersebut. Langsung marah dan menegur langsung di momen itu adalah soal cara marah.

Sedangkan, Tegas itu sebuah karakter yang salah satu artinya adalah sikap konsistensi pada sebuah prinsip.

“Diam saja tapi tetap ngotot mengatakan hal yang sama di mana pun kapan pun dan kapan pun itu sama tegas. Tegas itu nggak harus marah kok. Dan Tegas juga bukan berarti harus begitu cara marahnya,” tuturnya.

Selain emosional sebetulnya adalah istilah untuk karakter, untuk definisi ’emosional’, Handoko menuturkan, bila yang dimaksudkan emosional adalah marah saat di momen itu, maka itu adalah kesalahan pertama. Emosional bukan Emosi, tetapi karakter.

Kesalahan kedua adalah secara teori ada tujuh macam Emosi. Emosional sering kali dikaitkan dengan marah, mudah marah, padahal marah merupakan salah satu dari tujuh macam emosi tersebut yakni nyinyir, takut, terkejut, jijik, senang dan sedih pun termasuk emosi. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.