Sabtu, 14 Desember 19

950 Nelayan Ogan Komering Ilir dan 350 Petani Sragen Dapat Paket Konkit Gratis

950 Nelayan Ogan Komering Ilir dan 350 Petani Sragen Dapat Paket Konkit Gratis
* Pemerintah melalui Kementerian ESDM melanjutkan Program Konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG) untuk nelayan. (Kementerian ESDM)

Pemerintah melalui Kementerian ESDM melanjutkan Program Konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG) untuk nelayan. Sebanyak 950 paket Konversi BBM ke BBG disalurkan kepada nelayan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Jumlah tersebut merupakan terbesar untuk tahun ini. Penyerahan secara simbolis dilakukan Selasa (12/11), di Ruang Rapat Bende Siguguk I Pemda Kab. Ogan Komering Ilir (OKI), Kayuagung dan dihadiri oleh Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur, Alimuddin Baso, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Alex Noerdin, Wakil Bupati OKI, HM Dja’far Shodiq, Sekda Kab OKI, Husni, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan, Hasanuddin, perwakilan PT Pertamina, serta nelayan penerima bantuan.

Program ini merupakan amanat Peraturan Presiden No. 38 tahun 2019 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Penetapan Harga LPG (Liquified Petroleum Gas) Tabung 3 Kg untuk Kapal Penangkap ikan Bagi Nelayan Sasaran dan Mesin Pompa Air bagi Petani Sasaran. Tujuannya adalah mendukung diversifikasi energi di mana LPG merupakan energi alternatif yang murah, nyaman, ramah lingkungan dan aman.

“Paket Konversi BBM ke BBG diharapkan mampu memberikan kemudahan akses energi dan memberikan pilihan kepada nelayan atas sumber energi yang dipergunakan, serta dapat menghemat pengeluaran biaya bahan bakar yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ungkap Alimuddin pada kesempatan tersebut.

Alimudin menjelaskan,kriteria penerima paket perdana nelayan sasaran adalah nelayan pemilik kapal <= 5 Gross Tonage (GT), kapal berbahan bakar bensin, kapal memiliki daya mesin <= 13 Horse Power (HP), alat tangkap yang digunakan ramah lingkungan, belum pernah menerima bantuan sejenis, memiliki kartu nelayan/kartu Kusuka dan terdaftar dalam Basis Data Terpadu (BDT).

Wakil Ketua Komisi VII DPR Alex Noerdin dalam kesempatan itu menyatakan dukungannya terhadap program Pemerintah ini karena sifat LPG yang aman, ramah lingkungan serta lebih hemat dibandingkan BBM. Program ini juga membuktikan bahwa Pemerintah mempedulikan nasib nelayan. Alex juga berharap agar bantuan serupa pada tahun depan dapat ditingkatkan hingga 3.000 paket.

“Nelayan OKI dapat 950 paket, terbanyak di Indonesia. Namun ini baru 10% dari jumlah nelayan di OKI. Supaya tidak ribut, semoga jumlahnya ditambah tahun depan,” ujar Alex.

Harapan yang sama juga diungkapkan Wakil Bupati OKI M. Dja’far Shodiq. Menurut dia, OKI memiliki garis pantai terpanjang di Sumatera Selatan. Dengan wilayah yang sebagian besar terdiri dari perairan, menjadikan masyarakat OKI mayoritas bermata pencarian sebagai nelayan. Adanya pembagian konkit berbahan bakar LPG untuk nelayan, diharapkan kehidupan ekonomi masyarakat dapat meningkat.

“Program ini bertujuan meningkatkan pendapatan nelayan di mana penggunaan LPG dapat menurunkan biaya operasional nelayan. Semoga kegiatan ini bisa terus berlanjut sehingga banyak nelayan OKI yang menikmati bantuan ini,” ujar Dja’far.

Pembagian paket perdana konverter kit BBM ke BBG untuk Kapal Penangkap Ikan bagi Nelayan Sasaran terdiri atas beberapa komponen, yaitu mesin penggerak, konverter kit, as panjang, baling-baling, 2 buah tabung LPG 3 kg, as panjang dan baling-baling, serta aksesoris pendukung lainnya (reducer, regulator, mixer, dll). Di tempat lain, sebanyak 350 paket konversi BBM ke LPG ini juga diserahkan untuk petani yang diserahkan di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sragen, Selasa (12/11) yang diserahkan Sekretaris Ditjen Migas Kementerian ESDM, Iwan Prasetya Adhi.

Pada tahun 2019 ini konversi BBM ke LPG untuk petani yang dibagikan berjumlah 1.000 paket. Petani penerimanya tersebar di 4 wilayah yaitu 350 paket untuk petani Kabupaten Sragen, 350 paket bagi petani di Klaten, 50 paket untuk petani di Malang dan 250 paket bagi petani di Bantul. Petani penerima pembagian paket perdana tersebut, harus memenuhi persyaratan yaitu pemilik lahan dengan luas lahan maksimal 0,5 hektar, untuk transmigran kurang lebih 2 hektar dengan menunjukkan dokumen kepemilikan lahan, memiliki identitas petani yang direkomendasikan oleh kepala desa/camat dan disahkan oleh kepala daerah dan atau kepala dinas pertanian setempat serta memiliki identitas KTP, KK dan Kartu Tani.

Kriteria lainnya adalah memiliki pompa air dengan mesin pengerak lebih kecil 6,5 HP, belum pernah menerima bantuan yang sejenis, mesin pompa air yang dimiliki berbahan bakar bensin serta masuk dalam BDT (Basis Data Terpadu) dinyatakan dengan surat keterangan bahwa data calon penerima bantuan masuk dalam BDT Paket perdana yang dibagikan ini terdiri dari mesin pompa air, konverter kit, selang hisap dan buang, 1 buah tabung LPG 3 kg, serta aksesoris pendukung lainnya (reducer, regulator, mixer, dll). (Agung Pribadi, Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.