Sabtu, 21 Mei 22

Zidane ‘Balik Kucing’ ke Madrid

Zidane ‘Balik Kucing’ ke Madrid
* Zinedine Zidane.

“Saya Kembali Karena Cinta Klub Ini”

Setelah hengkang pada musim panas lalu, Zinedine Zidane ditunjuk ulang sebagai pelatih Real Madrid menyusul rentetan hasil mengecewakan di musim ini. Kembali ke Bernabeu bukan keputusan sulit untuk Zidane, yang bertekad mengembalikan kelas mereka di Eropa.

Zidane mengungkap alasannya kembali ke Madrid karena mencintai klub dan presiden Florentino Perez. Ia pun antusias membantu tim pulih dari keterpurukan. Mantan bintang Prancis ini secara mengejutkan pulang ke Santiago Bernabeu sebagai suksesor Santiago Solari dengan kesepakatan tiga tahun setelah pelatih berkebangsaan Argentina tersebut didepak klub menyusul kekalahan beruntun dari Barcelona dan Ajax Amsterdam.

 

Baca juga:

Gareth Bale Ungkap Kekecewaannya kepada Zidane

Tite Bantah Gantikan Posisi Zidane di Real Madrid

Inilah Calon Terkuat Pengganti Zinedine Zidane

 

Zidane pernah memimpin Los Blancos meraih gelar Liga Champions tiga musim beruntun dan total sembilan trofi sebelum memilih mundur pada Mei tahun lalu, keputusan yang menurutnya “untuk kebaikan semua orang”.

Namun, ia kini semangat kembali bekerja di tim ibu kota Spanyol. “Ini hari spesial untuk semua orang,” kata Zidane dalam presentasinya. “Saya sangat senang kembali ke rumah. Saya tak bisa berkata apa pun – saya sangat senang kembali dan saya ingin bekerja untuk mengembalikan klub ini ke tempat seharusnya.”

“Saya pergi karena perubahan dibutuhkan di akhir musim lalu, demi kebaikan semua orang, karena mereka memenangkan begitu banyak gelar. Saya kembali karena presiden menghubungi saya, dan saya mencintai dia, dan klub ini.”

“Setelah delapan bulan, saya sangat ingin kembali melatih. Di akhir musim lalu, saya membuat keputusan ini demi kebaikan semua orang. Ini tanggung jawab besar. Semua pemain di sini sangat mencintai klub, dan saya juga demikian, saya bermain dengan logo ini, saya memenangkan banyak hal.”

 

Taruhan Reputasi
Zidane sebetulnya sedang mempertaruhkan reputasi harumnya sebagai pelatih potensial dengan mengambil risiko melatih Madrid kedua kalinya. Real Madrid secara mengejutkan membuat keputusan sensasional dengan memulangkan kembali Zinedine Zidane hanya setelah pria Prancis ini meninggalkan klub dalam delapan bulan.

Candu Zizou ternyata begitu melekat pada diri Los Blancos. Sosok flamboyan satu ini memang sangat ikonik di ibu kota Spanyol. Selain pernah menjadi legenda sebagai pemain, Zidane juga telah menjadi legenda dari sisi sebagai pelatih kala mampu menghadirkan supremasi Eropa di tubuh klub.

Dalam era sepakbola modern, tak banyak figur yang mampu mengawinkan status ‘sukses’ sebagai pemain dan pelatih di satu klub. Zidane berhasil melakukannya bersama El Real.

Tak ayal, presiden Florentino Perez susah ‘move on’ dari Zidane. Sempat mencuat wacana pemulangan Jose Mourinho, hasrat bereuni dengan Zidane yang kelewat besar membuat para petinggi Madrid tak sungkan langsung menyodorkan kontrak berdurasi hingga 2022 untuk sang legenda.

Sebagian fans merayakan kepulangan sang maestro, namun sebagian lainnya mungkin akan duduk sejenak dan bertanya-tanya, “apakah penunjukan Zidane ini merupakan solusi jitu dari keterpurukan Madrid akhir-akhir ini?”, “apakah ini langkah mundur atau akan menjadi prospektif bagi kelanjutan karier Zidane?”.

Menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas susah-susah gampang.
Zidane meninggalkan Madrid di pengujung musim lalu dengan nama yang harum. Tak tanggung-tanggung, tiga gelar Liga Champions berturut-turut berhasil dipersembahkannya dalam tiga tahun kepemimpinannya, cukup untuk menjadi warisan emas bagi pengambil tongkat estapet kepelatihan Zidane.

Atas pencapaiannya ini, pria 46 tahun itu langsung menyita perhatian klub elite Eropa seperti Manchester United, Chelsea, Bayern Munich sampai klub masa mudanya dahulu, Juventus.

Ketertarikan klub-klub di atas sebetulnya menjadi peluang emas bagi Zidane untuk menyempurnakan CV dia di dunia manajerial. Di satu kesempatan, terbuka lebar pintu bergabung bersama United dan Juve misalnya.

Kursi panas di Old Trafford sempat lowong kala Mourinho dipecat, sementara di Juve tak jarang terdengar desas-desus keinginan Massimiliano Allegri hengkang. Namun Zidane bergeming dan mengisyaratkan baru akan menjelajah dunia racik-meracik strategi tim pada musim depan.

Sementara, Madrid kadung babak belur sejak ditinggal Zidane. Dari Julen Lopetegui ke Santiago Solari, pasangan ini tak mampu mengendalikan ruang ganti tim dengan baik, yang berujung pada deretan hasil tak memuaskan: ditinggal jauh Barcelona di perburuan gelar La Liga, dieliminasi tim yang sama di Copa Del Rey, dan teranyar, tersingkir tragis di Liga Champions oleh Ajax.

Dengan kondisi Madrid yang sedang oleng, risiko yang dihadapi Zidane di periode keduanya di Santiago Bernabeu sebetulnya lebih besar. Katakanlah bisa menghadirkan performa positif di sisa musim, Zidane barangkali hanya akan dicap sebagai juru selamat Madrid.

Namun bila periode keduanya terhitung gagal, reputasi bagus yang sudah dibangun Zidane sebagai seorang pelatih bisa tercoreng. Hal ini bak bom waktu bagi Zidane.

Masalahnya, Zidane tergolong orang baru di dunia manajerial. Seperti diketahui, perjalanan kariernya sebatas di lingkup Madrid, mulai dari menangani tim akademi hingga dipromosikan menjadi pelatih kepala.

Potensi kembali berjaya tampak terasa berat karena Madrid yang terkini tak sama dengan tim yang dinahkodainya tiga tahun lalu. Sosok protagonis macam Cristiano Ronaldo sudah tak ada.

Zidane harus memikirkan kariernya yang baru saja dirajut meski telah mengecap sukses dini. Berbagai kalangan tak meragukannya sebagai sosok masterplan dan pelatih yang memiliki inteligensi tinggi. Namun menerima kembali pinangan Perez bukan opsi ideal.

Zidane bukan sosok mutlak yang mampu membuang segala prahara yang ada di tubuh Madrid. Ingat, kita hanya membicarakan sosok pelatih yang ‘hanya’ sukses di Liga Champions.

Belum lagi, isu internal yang sudah menjadi rahasia umum menyoal perselisihan antara Zidane dan Perez, yang disebut-sebut menjadi salah satu penyebab hengkangnya sang pelatih di musim panas lalu. Meski dalam konferensi pers terbarunya Zidane menyatakan mencintai sang presiden dan Madrid, selalu menjadi misteri bagaimana sebenarnya keharmonisan sejoli ini.

Mungkin akan ada suara-suara minor yang menginginkan Perez menanggalkan jabatannya sebagai orang nomor satu di Madrid demi membangun kembali era Galaticos dengan lebih baik. Paling tidak, mencuatnya wacana penunjukan Mourinho sebelum akhirnya mempekerjakan kembali Zidane menandakan para petinggi di Bernabeu sudah kehabisan ide.

Sebagian kalangan meyakini, sudah saatnya Madrid keluar dari kebiasaan memakai ‘produk sendiri’ dan memilih opsi mendatangkan pelatih dari luar yang punya segala syarat untuk meraih keberhasilan. Nama-nama seperti Mauricio Pochettino dan Jurgen Klopp, yang sempat dikaitkan dengan Madrid, dirasa cocok.

Tugas Zidane di periode keduanya boleh dikatakan tidak terlalu berat, karena tak ada lagi target kampiun yang mesti digapai. Dia pun sudah memahami jeroan Madrid sampai ke akar-akarnya. Namun, sekali Zidane banyak tergelincir di sisa musim ini, nama baiknya sebagai pelatih potensial bisa tercemar. (goal.com)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.