Selasa, 18 Juni 19

Yudianta Medio N. Simbolon: Advokat Merupakan Profesi yang Mulia

Yudianta Medio N. Simbolon: Advokat Merupakan Profesi yang Mulia
* Managing Partner Lawyer Simbolon & Partners Law Firm Yudianta Medio N. Simbolon. (Foto: Edwin B/OMG)

Jakarta, Obsessionnews.comManaging Partner Lawyer Simbolon & Partners Law Firm Yudianta Medio N. Simbolon menyampaikan, Profesi hukum Advokat merupakan profesi yang mulia dan terhormat (officium Nobile). Karena menurut dia orang yang tak mengerti tentang hukum akan celaka.

“Hal ini menjadikan motto saya, ‘Ignorantia Iuris Nocet’ yang berasal dalam Bahasa Latin, yang artinya ketidaktahuan akan hukum akan mencelakakan,” ujar Yudianta seperti dikutip dari mensobsession.com.

Kesan ramah langsung terpancar saat Men’s Obsession menemui Yudianta Medio N. Simbolon di firma hukum yang dibidaninya, yakni Simbolon & Partners Law Firm yang berada di bilangan Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Senyum acapkali tersungging dari bibir pria berpenampilan necis tersebut. Kurang-lebih selama 45 menit di kantor yang bergaya kekinian itu, ia menguntai beragam hal menarik terkait sepak terjangnya di bidang hukum yang sudah mendarah daging dalam dirinya.

“Dunia hukum adalah passion saya,” ungkap Yudi membuka pembicaraan.

Ia mengaku, pada awalnya ketika ia masih menempuh pendidikan di sekolah dasar (SD) sampai sekolah menengah atas (SMA), ia bercita-cita menjadi seorang dokter dengan alasan ia melihat profesi dokter identik dengan pekerjaan yang mulia yang karena keilmuannya berusaha untuk menyembuhkan orang sakit.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu serta kebetulan Yudi belum beruntung diterima di Fakultas Kedokteran maka ia pun melirik untuk mendaftar di Fakultas Hukum, dengan alasan hukum itu selalu menyentuh setiap sisi dan dimensi kehidupan manusia, mulai dari kelahiran, perkawinan, bahkan kematian, ada dokumentasi hukum yang menegaskan peristiwa tersebut pada setiap orang.

“Selain itu, saya juga men-challenge keinginan almarhum Ayah saya maka saya menyakini bahwa profesi hukum Advokat merupakan profesi yang mulia dan terhormat (officium Nobile),” ucapnya.

Selepas menyelesaikan studi jenjang sarjana di Fakultas Hukum di Universitas Padjadjaran, Bandung, Jurusan Hukum Ekonomi pada tahun 1997, ia bekerja di PT Bank Central Asia Tbk (BCA) sebagai Supervisor pada Sistem, Prosedur, dan Biro Kepatuhan.

Lalu di tahun 2000 hingga tahun 2004, ia memutuskan untuk bergabung di Indonesian Banking Restructuring Agency (IBRA) atau Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) sebagai Senior Officer of General Legal Counsel Division.

“Di sini saya bertemu dengan mentor atau atasan saya yang juga senior saya di Universitas Padjadjaran, Sdr. Ary Zulfikar (Azoo). Selanjutnya, setelah dibubarkannya BPPN maka tanggal 1 Mei 2004, saya diajak oleh Sdr. Azoo untuk bergabung di firma hukum yang akan didirikannya, AZP Legal Consultant,” ungkapnya.

Bukan Yudi namanya jika cepat berpuas diri, ia selalu haus akan tantangan sehingga ia pun memutuskan untuk mendirikan firma hukumnya sendiri, Simbolon & Partners Law Firm. “Banyak yang bilang saya ini modal nekat keluar dari law firm yang telah memberikan zona kenyamanan bagi Saya (comfort zone),” beber  Yudianta.

Di tahun 2005, di ruangan yang hanya berukuran sangat kecil 2×2 meter semacam virtual office, dia bekerja sendiri, mulai dari mengetik, mengkonsep surat hingga menghadiri pertemuan dan persidangan. Namun, dia punya target dalam waktu 2 tahun, dirinya harus mempunyai kantor dengan minimal 5 karyawan.

“Alhamdulillah, dengan dukungan dari teman-teman dan kolega yang ada Simbolon & Partners Law Firm bisa berkembang pesat hingga saat ini dengan karyawan lebih dari 15 orang,” ujarnya.

Bahkan, firma hukum yang dibidaninya sebagian besar atau 80% adalah klien-kliennya berasal dari asing. Bahkan untuk kasus-kasus pidana tertentu yang dialami WNA berasal dari Amerika, Jerman, Swedia, Belanda dan Jerman, tidak jarang Yudianta dan Tim ditunjuk dan harus selalu berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Jerman, Kedutaan Besar Belanda, Kedutaan Besar Amerika, dan Kedutaan Besar Swedia pada saat menangani perkara pidana tersebut.

Ada kisah menarik yang dialami Yudianta, yakni ketika menangani perkara pidana yang cukup pelik. Dia diminta menjadi penasihat hukum atau pengacara untuk mewakili seorang WNA Swedia, serta melakukan koordinasi dengan Kedutaan Besar Swedia di Indonesia.

“Kasus yang ditangani oleh kantor hukum Saya adalah terkait dugaan tindak pidana di bidang penerbangan berupa perusakan kaca jendela di dalam kabin salah satu pesawat udara Indonesia, rute Bangkok-Jakarta yang kejadiannya sekitar tanggal 30 Maret 2016,” urai pria lulusan Master Hukum di Universitas Gajah Mada itu.

Dalam perkara ini, meskipun kliennya terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah sesuai tuntutan Jaksa Penuntut Umum mengenai dugaan tindak pidana didalam pesawat udara selama penerbangan melakukan perbuatan yang dapat membahayakan keamanan dan keselamatan penerbangan, melakukan perbuatan yang melanggar tata tertib dalam penerbangan, mengambil atau merusak peralatan pesawat udara yang membahayakan keselamatan, mengganggu ketentraman mengakibatkan kerusakan atau kecelakaan pesawat dan kerugian harta benda.

Dalam perkara tersebut, Yudianta dapat membuktikan dan menyakinkan Majelis Hakim yang Mulia bahwa terdakwa mengalami penyakit schizophrenia. Pihaknya juga menghadirkan saksi-saksi yang meringankan terdakwa dalam persidangan, yang saksi tersebut berasal dari luar negeri serta tim dokter psikologyang telah melakukan visum et repertum psikiatrum.

“Dalam putusannya Majelis Hakim telah memberikan pertimbangan hukum yang tepat. Sehingga, memberikan putusan lepas (onslag van recht vervolging) dari segala tuntutan pidana karena ada alasan pemaaf sebagaimana dimaksudkan dalam ketentuan Pasal 44 ayat (1) KUHPidana,” jelasnya.

“Perkara ini juga cukup rumit untuk proses eksekusi atas putusan tesebut dengan mengembalikan ke negara asal, yaitu Swedia di mana yang bersangkutan masih menderita penyakit schizophrenia,” tambah pria berdarah Batak tersebut.

Menutup pembicaraan, ia mengatakan obsesinya, menjadi orang yang bermanfaat bagi banyak orang, seperti ‘sepercik air yang akan membawa kesegaran’. “Obsesi inilah yang kemudian membawa saya untuk mencapai banyak hal yang lebih tinggi, seperti menjadi lawyer (nah ini sudah dijalankan). Kemudian obsesi lainnya, menjadi trainer, penulis, dosen, dan pengusaha sukses. Obsesi yang jelas (clear obsession) membuat saya untuk ‘ngotot’ mencapai impian-impian saya. Saya yakin dengan usaha, kerja keras, serta doa dari orang-orang terkasih, cita-cita saya satu demi satu akan terwujud,” pungkas Yudianta. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.