Sabtu, 6 Juni 20

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yembise

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yembise
* Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Susana Yembise.

Menteri perempuan pertama asal tanah Papua ini berkomitmen melindungi perempuan dan anak-anak di indonesia hingga ke daerah-daerah pelosok negeri.

Saat ini di mata dunia, urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Indonesia menjadi role model, terutama di negara-negara Muslim. Dari sini saja dapat terlihat bahwa perubahan besar dari waktu ke waktu terhadap PPPA tengah terjadi di negeri tercinta ini.

Yohana Susana Yembise boleh bangga mengetahui dirinya tercatat sebagai pejabat perempuan Indonesia pertama atau pejabat Indonesia kedua yang berkunjung ke Afghanistan, sejak kedua negara menjalin hubungan bilateral 62 tahun lalu. Lalu siapa pejabat Indonesia yang pertama?

Mengetahuinya, Yohana boleh makin bangga, karena sosok tersebut adalah Presiden Soekarno pada tahun 1961. Kesempatan berkunjung ke Afghanistan didapat Yohana untuk menghadiri dan menjadi pembicara Symposium on the Role and Contribution of Afghanistan Women for Peace di Afghanistan pada 15 hingga 16 Mei 2017 lalu. Kegiatan itu antara lain menyoroti peran dan kontribusi perempuan di Afghanistan bagi perdamaian.

Di sana, selain memberikan dukungan terhadap perjuangan kaum perempuan untuk mandiri sekaligus kreatif, dia juga memaparkan tentang kondisi Indonesia dengan keberagaman penduduknya, adat, suku, etnis, dan agama. Menurutnya, dengan situasi ini, Indonesia menjadi negara rentan akan ketegangan etnis dan agama yang bisa berimbas pada kekerasan terhadap perempuan dan anak. Namun lewat Pancasila, masyarakat tetap bisa bersatu dengan toleransi tinggi.

Berbicara menjadi sosok pertama, bukan sekali itu dalam riwayat hidup Yohana. Perempuan kelahiran Manokwari, 1 Oktober 1958 ini menjadi orang Papua pertama yang didaulat menjadi menteri PPPA. Tak hanya itu, peraih Diplomat Applied Linguistic TEFL (Dip TEFL) dari Regional English Language Centre (RELC), SEAMEO Singapore ini juga menjadi perempuan pertama Papua yang diberi gelar guru besar oleh menteri pendidikan dan kebudayaan untuk bidang desain silabus dan material development.

Di eranya, Kementerian PPPA memfokuskan diri pada tiga program prioritas, yakni mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, perdagangan manusia, dan kesenjangan ekonomi bagi kaum Hawa. Pada sejumlah kesempatan, sosok asal Biak ini selalu mengatakan kaum perempuan harus diberdayakan, agar berkiprah sejajar dengan laki-laki. Oleh karenanya, negara harus hadir untuk melindungi sekaligus memperhatikan kesejahteraan kaum perempuan dan anak-anak. (Naskah: Imam Fathurrohman, Foto: Istimewa)

Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Women’s Obsession edisi Agustus 2017.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.