Minggu, 28 November 21

Yang Tolak Hukum Kebiri, Pahlawan Kesiangan

Yang Tolak Hukum Kebiri, Pahlawan Kesiangan
* ilustrasi korban perkosaan sadis. (kaukus)

Jakarta, Obsessionnews – Pelaku kejahatan seksual pemerkosa anak-anak gadis dan bahkan menyiksa alat vitalnya dulu sebelum dibunuh secara sadis, adalah perbuatan biadab melebihi setan dan iblis, yang sudah tidak bisa ditoleransi lagi.

“Tidak hanya dihukum kebiri, pelakunya juga harus dipermalukan dengan dipertontonkan di depan umum. Kalau ada aktivis atau pihak yang mengaku aktivis HAM menolak hukum kebiri, itu pahlawan kesiangan. Hanya mencari citra dan bisa jadi ada pesan sponsor di belakangnya. Mudah-mudahan anak atau saudara dia diperkosa dan dibunuh sadis agar tahu rasanya,” tegas Arief Turatno SH MS, mantan Ketua DPP Genma Trikora yang juga Pengacara Trikora, Sabtu (28/5/2016).

Arief Turatno meminta orang jangan gampang menilai sesuatu melanggar HAM. “Enak saja, hukuman kebiri dianggap melanggar HAM. Lha pelakunya yang memperkosa dan menyiksa sekaligus membunuh keji dengan memacul alat vital korban, apa bukan pelanggar HAM berat?” tegasnya mempertanyakan.

“Yang adil ya pelakunya harus dihukum setimpal, kalau membunuh dan menyiksa ya harus dibunuh dan disiksa. Jangan bilang, wah kalau dibunuh gak ngasih kesempatan pelakunya untuk bertobat. Lho, yang dibunuh juga gak bisa bertobat atas dosa lain dirinya. Jadi, jangan seenak udelnya. Inilah klaim demokrasi HAM yang kebablasan dan sepihak,” tutur wartawan senior yang pernah mengambil program S-3 di Universitas Nasional Jakarta, yang kini tinggal di Tegal.

Arief Turatno sangat setuju pemerkosa dihukum mati atau dikebiri. Dan itu sudah diterapkan di negara Islam dan negara-negara lainnya. “Jadi, jangan bikin pernyataan sepihak. Nanti demi demokrasi dan tuntutan HAM, kawin sejenis dilegalkan di Indonesia. Wah?!” geramnya.

Bahkan, ia menyatakan setuju kalau pelaku pemerkosa bejat dan sudah terbiasa melakukan perbuatan ‘iblis’ itu tidak hanya dikebiri tetapi diamputasi saja alat vitalnya. “Ya setuju. Jika pelaku perkosaan dipotong saja kemaluannya biar jadi efek jera bagi yang akan melakukan perbuatan biadab tersebut,” tuturnya.

Tidak cukup hanya diamputasi kemaluannya, lanjut Turatno, pemerkosa biadab juga dimasukkan kerangkeng dan dipamerkan kepada publik di perempatan jalan agar semua orang melihat makhluk bejat tersebut. “Karena saya dengar, setan sudah minta tobat karena manusia sekarang kejahatannya melebihi iblis atau setan,” paparnya.

Ia mengingatkan, hukum kebiri hanya dengan obat tidak bakal membuat jera, sehingga harus ditambah hukum kerangkeng seperti kandang binatang. “Mudah-mudahan membuat calon-calon pelaku lain berpikir seribu kali untuk melakukan kejahatan serupa. Hukum kebiri dengan obat suatu ketika bisa ditemukan obat penyembuhnya, jadi tidak efektif. Beda kalau dipotong alat vitalnya dan dikerangkeng dipertontonkan ke publik. Pasti akan membuat si pelaku sangat tersiksa dan orang yang melihatnya pasti tidak akan berani meniru perbuatan tersebut,” harapnya.

Turanto menilai, berita pelaku perkosaan sebagaimana ditayangkan di televisi sudah sangat keterlaluan. “Mereka tidak hanya telah melanggar HAM tetapi juga telah merobek-robek sendi kemanusiaan. Dan pelaku pemerkosa seperti itu dihukum mati pun termasuk masih ringan. Maka yang paling cocok ya mereka harus dipotong alat vitalnya dan dikerangkeng serta dipertontonkan di hadapan umum,” usulnya.

“Jika ada pendekar HAM yang keberatan, coba keluarganya dia yang jadi korban. Apakah sanggup memaafkan? Atau bagaimana jika dirinya yang diperkosa dan dianiaya. Apakah juga bisa memaafkan?” tantang Turatno kepada para ‘pendekar’ HAM yang sok jadi pembela. (Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.