Senin, 1 Juni 20

Wow…Keren! Peneliti UIN SGD Bandung Ciptakan Ventilator untuk Pasien Covid-19

Wow…Keren! Peneliti UIN SGD Bandung Ciptakan Ventilator untuk Pasien Covid-19
* Tim Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung membuat ventilator yang sangat dibutuhkan oleh pasien Covid-19. (Foto: Kemenag)

Bandung, Obsessionnews.com – Banyak orang yang meninggal dunia di Indonesia karena virus corona atau Covid-19. Selain itu pasien Covid-19 terus meningkat dari waktu ke waktu.

Salah satu peralatan kesehatan yang sangat dibutuhkan dalam perawatan pasien Covid-19 adalah alat bantu pernapasan atau ventilator. Sebab, Covid-19 menyerang organ pernapasan manusia, sehingga pasien rentan mengalami pneumonia, bahkan kegagalan pernafasan.

Ventilator berfungsi membantu pasien Covid-19 yang mengalami pneumonia dan kesulitan pernapasan. Meningkatnya jumlah pasien Covid-19 menjadikan kebutuhan akan ventilator terus naik. Padahal jumlah alat ini terbatas dan harganya juga mahal.

Kondisi ini mendorong tim Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung menciptakan prototipe ventilator darurat. Tim penelitian ini dipimpin Mada Sanjaya W.S., Ph.D, bersama alumni pegiat Komunitas Robotika Bolabot dari Jurusan Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN SGD Bandung. Inovasi mereka lalu diberi nama VeNu-1 atau Ventilator Nusantara 1. Wow…keren!

“Tim peneliti berhasil membangun prototipe Low Cost Ventilator yang dapat digunakan dalam keadaan darurat,” kata Mada seperti dikutip obsessionnews.com dari website Kementerian Agama, Senin (6/4/2020).

Ia menjelaskan, novasi Ventilator Nusantara mulai dirancang pada akhir Maret 2020. Setelah melakukan penelitian rancang bangun selama beberapa hari dihasilkan prototipe VeNu-1.

“Prototipe Ventilator Digital ini dapat membantu pasien untuk menghirup oksigen, serta dapat mengeluarkan karbondioksida sebagaimana dalam pernafasan normal,” jelasnya.

Ia menambahkan, komponen utama VeNu-1 adalah tabung pompa mekanik, motor servo sebagai penggerak, board mikrokontroler arduino, modul bluetooth, selang, serta masker ventilator. Prototipe VeNu-1 dapat dikontrol penggunaannya melalui smartphone, sehingga bersifat Non-Contact. Prinsip kerja dari prototipe VeNu-1 ini adalah pengontrolan melalui smartphone, operator akan mengirimkan perintah digital berupa pengaturan kecepatan gerak motor servo yang dikontrol oleh chip mikrokontroler arduino.

Gerak motor servo, kata Mada, kemudian menekan pompa mekanik sehingga udara (oksigen) mengalir melalui selang menuju pasien untuk setengah periode. Setengah periode berikutnya, motor servo akan melepas tekanan pada pompa mekanik sehingga, pompa mekanik kembali pada kondisi semula serta menarik karbondioksida dari pasien. “Karena prototipe Ventilator ini bekerja secara periodic dan dapat dikontrol pengiriman oksigen dan penarikan karbondioksida, maka sistem ini dapat membantu pasien untuk dapat bernafas secara normal,” tuturnya.

“Berbagai komponen dalam membangun VeNu-1 bersifat opensource serta tersedia banyak dipasaran sehingga akan mudah untuk dapat memproduksi dalam jumlah besar dalam kondisi darurat,” lanjutnya.

Belanja Komponen Sekitar Rp 2 Juta

Untuk membangun sebuah prototipe VeNu-1, Tim UIN SGD Bandung memerlukan belanja komponen hanya sekitar Rp 2 juta, di luar biaya teknis. Sehingga VeNu-1 termasuk alat yang low cost, dibandingkan dengan Ventilator Standard.

Mada mengungakapkan, Prototipe VeNu-1 saat ini masih berada dalam posisi pengujian kemampuan tekanan udara serta belum dapat langsung digunakan oleh pasien medis. Prototipe VeNu-1 ini masih memerlukan penyempurnaan dan pengujian klinis lebih lanjut. Dalam pengujian klinis, peneliti UIN SGD akan bekerjasama dengan salah satu RSUD di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

“Penelitian dan pengembangan prototipe VeNu-1 memberikan harapan bahwa ventilator dapat diproduksi, bahkan dapat digunakan meski hanya dalam kondisi darurat saat rumah sakit kekurangan ventilator standard,” harapnya.

Penelitian ini telah mendapat sambutan dan dukungan dari pimpinan kampus, khususnya Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung Hasniah Aliah.

“UIN SGD berkomitmen untuk terus mengembangkan dan menyempurnakan karya inovasi ini,” tutur Hasniah. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.