Rabu, 28 Oktober 20

Wow…Keren! Ini Jurus yang Dilakukan Riska Haneri Majukan MI Attolibin

Wow…Keren! Ini Jurus yang Dilakukan Riska Haneri Majukan MI Attolibin
* 1. Orang tua siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Attolibin di Kecamatan Sebulu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, bekerja bakti memperindah kelas dengan suka rela. (Foto: dok. Tanoto Foundation)

Kutai Kartanegara, Obsessionnews.com – Madrasah Ibtidaiyah (MI) Attolibin merupakan madrasah yang sederhana. Bangunannya masih banyak yang terbuat dari kayu. Di  Kecamatan Sebulu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, yang terdapat 26 SD negeri dan 1 SD swasta, madrasah ini harus bersaing untuk mendapatkan siswa dan mengejar prestasi lainnya.

Untuk itu bersama komite madrasah Kepala MI Attolibin Riska Haneri berusaha membuat berbagai gerakan inovatif. Riska  memiliki beberapa jurus untuk itu, yakni melakukan gerakan literasi, aktif menggerakkan peran serta masyarakat, menerapkan pendekatan modern pembelajaran aktif dan program rutin mengaji  Alquran.  Wow…keren!

Gerakan Literasi Sekolah

Agar lulusan siswanya berwawasan luas dan pandai berkomunikasi,  madrasah ini mengadakan beberapa gerakan literasi. Pertama,  rutin melakukan program membaca senyap selama 15 menit, terutama di hari Jumat dan Sabtu. Kegiatan membaca dilakukan 10 menit, dan 5 menit berikutnya para siswa ditanya tentang isinya atau menceritakan isi buku ke depan. Di kelas bawah, guru sering menceritakan isi buku dan meminta anak untuk berani menceritakan kembali.

“Sebagai awalan kegiatan membaca ini sudah rutin di hari Jumat dan Sabtu,  di hari-hari lain intensitasnya masih kurang, kami akan tingkatkan ke depan. Ini masih dalam tahap pengenalan,” ujar Riska seperti dikutip obsessionnews.com dari siaran pers, Selasa (29/10/2019) .

Kedua, melakukan lomba literasi. Lomba diadakan setahun sekali, bertepatan dengan peringatan kemerdekaan Indonesia. Setiap kelas mengirimkan wakilnya dua orang, satu perempuan satu laki-laki. Lomba dibagi menjadi dua tingkatan, yaitu kelas atas 4,5 dan 6 dan kelas bawah 1, 2 dan 3.

Lomba  berbentuk menceritakan kembali isi buku bacaan. Penilaian dilakukan oleh empat juri guru-guru di madrasah tersebut, dan didasarkan atas beberapa kriteria, yakni intonasi, ekspresi, menarik tidaknya cerita dan kepercayaan diri siswa.

“Yang paling menarik dari lomba demikian adalah melihat munculnya bakat-bakat siswa. Ternyata banyak anak-anak yang pemberani dan ekspresif. Tanpa lomba ini, kita tidak akan mengetahui ternyata banyak anak-anak yang percaya diri di madrasah ini,” tutur Riska.

Ketiga, membuat Pojok Baca dan Pengadaan Buku Sekolah lewat Peran Serta Masyarakat, orang tua siswa di sekolah ini menyumbang secara suka rela buku-buku cerita ke sekolah. Minimal yang didapatkan adalah satu buku satu orang tua siswa. Mereka juga membangun pojok-pojok baca di setiap kelas tempat anaknya belajar.

“Kurang lebih kami dapatkan 250 sumbangan buku dari orang tua siswa, setelah kami umumkan bahwa sekolah ini akan melakukan gerakan literasi dan membutuhkan peran serta orang tua siswa,” kata Riska.

Halaman selanjutnya

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.