Rabu, 3 Juni 20

Wow! Rezim Myanmar Bawa Warga Buddha Tempati Tanah Muslim Rohingya

Wow! Rezim Myanmar Bawa Warga Buddha Tempati Tanah Muslim Rohingya

Pihak berwenang di Myanmar mengizinkan sekelompok warga Buddha dari Bangladesh untuk ke Myanmar dan tinggal di wilayah milik Muslim Rohingya.

Dalam langkah rasialis terbaru, para pejabat di negara bagian Rakhine Myanmar telah menempatkan keluarga-keluarga Buddha di Bangladesh di tempat tinggal warga Mulism Rohingya di Myanmar.

Berdasarkan itu, keluarga-keluarga Buddha Bangladesh akan dapat menggunakan tanah Muslim Rohingya, dengan bimbingan pejabat lokal dan pemerintah Myanmar.

Para pengamat regional menyatakan tindakan para pejabat Myanmar membuka pintu masuk dan menyediakan tempat tinggal bagi warga Buddha Bangladesh di wilayah yang sebelumnya adalah milik Muslim Rohingya, menunjukkan bahwa pemerintah Naypyidaw tidak berniat menerima kepulangan Rohingya.

Saat ini, lebih dari 900.000 Muslim dari Rohingya mengungsi di wilayah Cox’s Bazaar di Bangladesh.

Rohingya di Cox’s Bazaar

Rencana pemerintah Myanmar untuk menampung warga Buddha Bangladesh di wilayah tempat tinggal Muslim Rohingya di Rakhine merupakan konspirasi baru yang bertentangan dengan komitmen pemerintah Naypyidaw untuk mengembalikan para pengungsi Rohingya.

Dalam kesepakatan antara Menteri Luar Negeri Myanmar, Aung San Suu Kyi dan mitranya dari Bangladesh, Abul Hassan Mahmud Ali, sekitar empat bulan lalu, pemerintah Myanmar sepakat merelokasi Muslim Rohingya yang kini berada di perbatasan antara kedua negara di kamp-kamp kumuh, ke tempat tinggal mereka. Namun kesepakatan tersebut belum diimplementasikan.

Makar baru pemerintah Myanmar untuk mengakomodasi warga Buddha Bangladesh di wilayah tempat tinggal para pengungsi Rohingya di Rakhine, selain menunjukkan ketidakinginan pemerintah mengembalikan pengungsi Muslim, juga berusaha mengubah demografi penduduk di provinsi tersebut.

Tentu saja, strategi untuk mengubah komposisi demografi merupakan inti dari proyek pemerintah Myanmar sejak akhir 2016. Ketika itu, para pejabat dari pemerintah Myanmar mengumumkan bahwa tujuh desa baru untuk warga Buddha akan dibangun di kota Mangdo di provinsi Rakhine.

Setelah lebih dari satu setengah tahun makar pemerintah Myanmar itu terbongkar, dapat disaksikan bahwa tujuan kaum ekstremis Buddha di negara ini adalah menciptakan bumi hangus di Rakhine.

Strategi pemerintah Myanmar untuk mengubah demografi di Rakhine demi kepentingan umat Buddha terjadi di saat tekanan dari masyarakat internasional, termasuk PBB dan lembaga hak asasi manusia, menekankan kembalinya para pengungsi Rohingya ke tanah air mereka.

Menurut sensus tahun 2014, warga Buddha yang tinggal di beberapa desa di kota Mangadu, yang hanya mencapai dua persen dari total populasi, dan sebagian besar penduduk di wilayah tersebut adalah Muslim Rohingya.

Perlu dicatat bahwa pemerintah Myanmar, menghapus peluang utuk kembalinya para pengungsi Rohigya ke provinsi Rakhine, dengan menempatkan warga Buddha yang menetap di Bangladesh. Tidak hanya itu, ancaman kekerasan masih menghantui dan mencegah kembalinya para pengungsi Rohingya, apalagi hingga kini tidak ada jaminan kongkret dari pemerintah Myanmar agar gelombang kekerasan tersebut tidak terulang kembali.

Politik tersebut sedang digulirkan pemerintah Myanmar ketika masyarakat internasional, khusus negara-negara Barat yang mengklaim sebagai pionir dalam bidang hak asasi manusia, bungkam penuh makna di hadapan kejahatan dan konspirasi pemerintah. Hal itu sekaligus menjadi lampu hijau bagi pemeritah Myanmar untuk melanjutkan kejahatannya. (ParsToday)

Baca Juga:

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.