Sabtu, 4 Desember 21

Wow! Penetasan Buaya Ini Pecahkan Rekor

Wow! Penetasan Buaya Ini Pecahkan Rekor
* Puluhan keturunan Bagong dan Kampret dirawat dengan kandang terpisah sesuai ukuran masing-masing agar terhindar dari perkelahian

Semarang, Obsessionnews – Debu jalanan menerpa sisi utara gerbang bertuliskan “Kebun Binatang Mangkang”. Terik siang seolah hilang begitu memasuki area. Aneka permainan dan kandang berjejer rapi layaknya taman margasatwa pada umumnya. Namun tahukah di balik semua itu tersembunyi konservasi buaya yang mampu memecahkan rekor Indonesia?

Sebenarnya tempat ini hanyalah kebun binatang biasa dengan berbagai macam hewan. Mulai dari singa, harimau hingga bermacam reptil. Begitu penuturan Kepala UPTD Kebun Binatang Mangkang, Kusyanto saat ditemui obsessionnews.com, Senin (13/04).

Taman margasatwa ini terletak persis didepan terminal mangkan. Tiap tahun puluhan ribu pengunjung datang kemari, terutama ketika musim liburan tiba.
Taman margasatwa ini terletak persis didepan terminal mangkan. Tiap tahun puluhan ribu pengunjung datang kemari, terutama ketika musim liburan tiba.

Keunikan dari Kebun Binatang Mangkang atau masyarakat sekitar sering menyebut Bonbin Mangkang, adalah satu-satunya instansi perlindungan hewan milik pemerintah yang mampu menetaskan buaya muara terbanyak secara alami.

Bukan perkara mudah bagi pengelola sehingga mendapatkan predikat record MURI sebagai Taman Margasatwa dengan kategori Penetasan Alami Crocodylus porosus terbanyak Se-Indonesia. Suasana mendukung serta kesigapan anggota menjadi kunci keberhasilan.

Kusyanto selaku kepala UPTD Bonbin Mangkang menjelaskan awal mula penetasan alami di lokasi ini.
Kusyanto selaku kepala UPTD Bonbin Mangkang menjelaskan awal mula penetasan alami di lokasi ini.

Kusyanto menuturkan, di awal 2011 induk buaya betina bernama Kampret mulai berperilaku agresif. Biasanya, Kampret tenang ketika akan ditangkap. Ia juga cenderung diam dan berendam. “Ternyata dia lagi bunting. Jadi galak, padahal Kampret buaya lama lho,” terang pria berjanggut itu.

Memang buaya betina bertubuh besar tersebut sudah lama menjadi “warga” satwa sejak Bonbin Mangkang masih berada di tengah kota. Diperkirakan umur Kampret mencapai hampir separuh abad. Selang beberapa waktu, buaya itu mulai membuat gundukan.

Ternyata perilaku ini adalah tanda bahwa Kampret sudah mempunyai calon anak didalamnya. “Kita sendiri juga awalnya ga tau kalau mereka bertelur. Cuman, memang di dalam kandang disediakan area pasir dan tanah sebagai tempat buaya berjemur,” ujarnya.

Buaya berkembang biak dengan cara bertelur layaknya spesies aves, akan tetapi alih-alih mengerami telurnya, hewan berdarah dingin itu menggunakan panas  tanah dan matahari sebagai gantinya.

Buaya1

Kusyanto menerangkan ia sama sekali tidak mengutak atik sarang buaya walaupun kondisi saat itu kemarau panjang sehingga membuat kelembaban sarang berkurang. Jagawana pun diperintahkan turun tangan untuk menyemprokan air. “Waktu itu kami dapat saran agar disemprot air agar sarangnya tetap lembab. Kok kebetulan hujan, yasudah dibiarkan saja.”

Beberapa hari kemudian datang salah satu stasiun tv swasta melakukan syuting tentang pengecekan telur buaya. Barulah diketahui bahwa telur-telur tersebut siap menetas. “Ternyata ada satu telur yang retak. Terus saya inisiatif mengambil telur itu supaya tidak busuk dan kena yang lain. Ketika mau saya pecah kok masih hidup buayanya.”

Atas saran salah seorang kru TV, ia memasukkan telur buaya kedalam inkubator. Keesokan harinya, buaya tersebut menetas secara normal. Kusyanto segera membongkar sarang buaya.

“Langsung saja semua telur kami ambil, dimasukan ke ember dan kita tetep kasih pasir. Waktu itu jam satu siang terus bunyi tok! tok! tok! netas semua,” kenangnya tersenyum lebar.

Buaya2

Dari sekitar 50-an telur buaya, 39 butir telur menetas dan berkembang dengan normal hingga saat ini. Keturunan F1 dari Bagong dan Kampret dicatat oleh pihak margasatwa dan BKSDA setempat guna pengawasan lebih lanjut.

Periode berikutnya kedua buaya itu berhasil berkembang biak dan menetaskan telur kembali. Tantangan berbeda dihadapi oleh pihak Kebun Binatang karena saat itu kondisi musim sedang tidak bersahabat.

Kusyanto memberikan instruksi supaya sarang diberikan penutup dari fiber agar terlindung dari lembabnya air hujan. “Fibernya tembus pandang jadi tetap kena sinar matahari tapi ga kena air hujan.”

Semenjak itulah Kusyanto menyadari tanda-tanda ketika reptil purba tersebut akan segera menetas. Biasanya induk buaya berada diatas gundukan untuk melindungi sarang ketika bayi miliknya keluar dari cangkang. Rata-rata dalam jangka waktu 3 bulan semenjak bertelur, pengelola menyiapkan berbagai sarana bagi calon bayi buaya.

Buaya3

Sekarang, puluhan buaya mendiami kompleks taman satwa di pinggir kota Semarang. Seluruh keturunan buaya dipelihara dan dirawat dengan kolam berbeda sesuai ukuran.

Disinggung tentang konsekuensi over population, Kusyanto akan mengajukan ijin penangkaran agar keturunan F2 dari Kampret dan Bagong dapat dimanfaatkan. “Kalau nanti ada kebun binatang lain butuh buaya, kita juga bisa bantu”.

Tentu saja ini bisa dilihat dari jumlah buaya yang selalu bertambah tiap tahunnya. Terlebih Kebun Binatang juga berfungsi sebagai benteng terakhir ketika suatu spesies hewan punah.

Ia juga memiliki obsesi, suatu saat Kebun Binatang Mangkang dapat memiliki taman buaya sebagai ikon tersendiri. Tentunya peran investor sangatlah dibutuhkan mengingat Bonbin ini layak untuk dikembangkan lebih lanjut. (Yusuf IH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.