Senin, 14 Oktober 19

Wow! Lomba Ayam Berkokok Merdu

Wow! Lomba Ayam Berkokok Merdu

Lomba menikmati kokok Ayam Pelung digelar pada Minggu (22/9/2019), mulai pukul 08.00 WIB di Desa Pancurendang Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas. Kongber peternak dan penggemar ayam pelung bertemu dan berdiskusi tentang tata cara pemeliharaan ayam pelung agar suaranya maksimal saat lomba.

Acara dilanjutkan dengan latihan lomba untuk persiapan lomba tingkat nasional dengan mendatangkan juri Himpunan Peternak dan Penggemar Ayam Pelung Nusantara (HIPPAPN) dari Cianjur.

Kepala Departemen.Humas Pengurus Pusat KAUNSOED (Keluarga Alumni Unsoed) Ir Alief Einstein MHum bersama Alumni Fakultas Peternakan Unsoed Agus Triyanto, Sabtu (21/9), menjelaskan bahwa ayam pelung adalah ayam endemik asli Indonesia tepatnya di Jawa Barat. Iramanya yang khas membuat siapa yang pertama mendengar akan ter heran-heran apalagi kalau terdengar kokok pada dini hari.

“Postur besar, kaki hitam, mata hitam tajam, serta pial (jeber) lebar menjulang tegak keatas merupakan ciri khas dari fisik ayam pelung yang menjadikan ayam ini terlihat gagah,” tambah Agus, Alumnus Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah.

Ketua Panitia Kongber Agus Triyanto menjelaskan bahwa Agus bersama komunitasnya di wilayah BARLINGMASCAKEB (Kabupaten Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap dan Purbalingga) menggalang acara KONGBER ke 6 untuk memperkenalkan Ayam Pelung di Wilayah tersebut.

Acara sebelumnya digelar di Desa Piasa Wetan Kecamatan Susukan Kabupaten Banjarnegara dan sukses diadakan dengan 2 Kelas dan 3 Kategori. Atas dasar suksesnya acara di Banjarbegara tersebut, selanjutnya diadakan lagi acara serupa pada hari Minggu tanggal 22 September 2019 tepatnya di Desa Pancurendang, Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas dengan tema “Ayam Itu Dinikmati Merdu Suaranya, Bukan Diadu Ketangkasannya”.

ANIMAL WELFARE atau kesejahteraan satwa berdasarkan UU No 18 Tahun 2009 adalah segala urusan yang berhubungan dengan keadaan fisik dan mental hewan menurut ukuran perilaku alami hewan yang perlu diterapkan dan ditegakan untuk melindungi hewan dari perlakuan setiap orang yang tidak layak terhadap hewan yang dimanfaatkan manusia.

Berdasarkan undang undang tersebut, Komunitas Ayam Pelung yang dinaungi oleh HIPPAPN merasa apa yang kami senangi ini tidak melanggar undang-undang, karena kami menyayangi ayam kami dan bukan mencederai atau bahkan mengadu dengan ketangkasannya, jelas Agus yang juga Kasi Pemerintahan Desa Pancurendang Kec. Ajibarang Kab.Banyumas.

Agus (26 tahun) yang lahir di Banyumas 13 Agustus 1993 menambahkan Kongber Ayam Pelung atau kata lain adalah “ngumpul” penggemar dan bernilai (dilombakan) dilaksanakan dengan tujuan untuk mengenalkan ayam pelung di daerah Jawa Tengah khususnya Ajibarang Banyumas. Kategori yang dinilai atau dilombakan adalah :

1. Kategori Suara,
2. Kategori Penampilan,
3. Kategori Bobot.

Kategori Suara merupakan kategori utama dari perlombaan Ayam pelung, ini dinilai berdasarkan dasar suara, nada/irama yang dihasilkan, dan keserasian bunyi yang dilantunkan oleh ayam-ayam peserta, untuk penilaian ini panitia mendatangkan seorang Juri Nasional yang kebetulan pengamat pelung asli Banyumas, kategori suara yang diambil adalah peringkat 1-10.

Kategori kedua adalah Penampilan, kategori ini adalah menilai dari postur, bulu, dan keserasian tubuh ayam yang disesuaikan dengan ciri-ciri khas ayam pelung. Kategori ini memperebutkan juara 1-3.

Kemudian terakhir adalah kategori bobot yang mana 3 bobot ayam paling tinggi yang diambil menjadi juara 1 sampai 3.

Tujuan lain dari acara ini adalah untuk silaturahim, bincang-bincang mengenai ayam pelung mulai dari harga pasaran, kualitas ayam pelung, sampai tata cara pemeliharaan ayam pelung agar ayam tetap sehat apalagi menghadapi perubahan musim yang menjadi “momok” bagi para peternak.

Harapan Agus dan panitia di antaranya berkeinginan acara-acara seperti ini dapat bekerja sama dengan dinas-dinas terkait dan perguruan tinggi. Bila dapat bekerjasama dengan dinas-dinas terkait dan perguruan tinggi diharapkan dapat bersama-sama mengembangkan Ayam Pelung secara murni atau pemurnian gen sehingga ayam pelung yang dihasilkan akan berkualitas.

Adapun kriteria ayam secara keseluruhan yang bisa ikut di lombakan tersebut di atas adalah ayam yang belum pernah juara baik tingkat “LATBER” sampai Kontes Besar. Hal ini bertujuan untuk melatih mental ayam ayam muda yang potensial untuk kontes yang lebih besar lagi.

Kontes besar itu sendiri rutin di laksanakan di seluruh Indonesia misalnya pada tanggal 29 September 2019 di Sukabumi Jawa Barat dan pada bulan Oktober 2019 di Jogja. Dengan dilaksanakan Kongber seperti ini diharapkan dari Banyumas dan sekitarnya dapat berpartisipasi di kancah yang lebih besar.

Keluarga Agus Triyanto penggemar dan peternak ayam pelung

 

Tingkatan Acara Komunitas Ayam Pelung
Berikut tingkatan acara Komunitas Ayam Pelung, yaitu :
a. Kongkur yakni “ngumpul-ngumpul” sesama penggemar ayam pelung dengan susunan acara, di antaranya silaturahim dan bertukar fikiran tentang ayam pelung,

b. Kongber acaranya sama dengan kongkur tetapi mendatangkan juri nasional untuk menilai latihan lomba. Dalam pelaksaan Kongber, komunitas membuat panitia kecil untuk mempersiapkan hadiah/piala serta sertifikat,

c. Latber artinya adalah Latian bernilai, “event” ini bisa mengundang peserta lomba.dari luar daerah,

d. Kontes Besar yakni kontes ayam pelung yang jadwalnya sudah di tentukan di Pusat HIPPAPN dan diurutkan dari masing-masing daerah,

e. Kontes Utama /Nasional diseut MAMADJARKASIH “event” tahunan atau “event” paling tinggi / paling bergengsi.

Harga Ayam Pelung
Harga ayam pelung bervariasi. Di daerah Banyumas dan sekitarnya anakan ayam pelung umur 0 – 1 bulan biasa di patok harga 100 ribu rupiah per pasang, umur 2 – 3 bulan 250 sampai 300 ribu rupiah per pasang.

Untuk ayam yang sudah “kokok” harga ditentukan dari kualitas kokok. Ayam yang kokoknya biasa harga antara 300 – 500 ribu rupuah per ekor akan tetapi ayam yang suaranya bagus antara 750.000 sampai 1.500.000 rupiah, dan ayam yang sudah punya sertifikat atau pernah juara harganya 1.500.000 rupiah ke atas. Bahkan ada yang sampai 17 juta rupiah untuk se ekor ayam pelung.

Peduli Ayam Pelung
Awal mula Agus suka ayam pelung yaitu pada saat kuliah di Fapet Unsoed mengikuti farm visit yang diadakan UKM UP3 Fapet Unsoed mengunjungi peternakan Ayam Pelung di Cianjur sekitar tahun 2014. Kemudian Agus berusaha untuk mengenal komunitas ayam pelung dengan cara mencari di sosial media, ternyata ada komunitas di Barlingmascakeb dan Agus mulai silaturahmi ke penggemar ayam pelung.

Agus dari kecil memang suka beternak ayam, tetapi ketika pelihara ayam kampung biasa hasil tidak menutup modal. Hasil silaturahmi tersebut membuahkan hasil yakni setelah seringnya berdiskusi dengan komunitas ayam pelung, akhirnya Agus memiliki rasa senang dan teman-temannya juga menunjukkan empatinya, sebagai puncak peduli, Agus mulai ikut acara kongber di Piasa.

Kontes pertama diikuti adalah di Cirebon, walaupun saat iru Agus belum mempunyai ayam pelung, tetapi berangkat dengan komunitas itu rasanya senang. Lalu Banyumas ditunjuk jadi tuan rumah dan diadakan Satria Pelung Nusantara bulan Nobember 2018. Setelah itu berangkat ke Bandung dan Klaten.

Di Bandung, Agus mendaparkan materi ayam pelung dari Pusat Himpunan Peternak dan Penggemar Ayam Pelung Nusantara (HIPPAPN) sehingga membuat Agus semakin suka dengan ayam pelung.

Saat ini ayam pelung yang diternakkan Agus terdiri dari 3 ayam betina, 2 ayam jantan, 3 jejangkar (jejangkar yakni ayam muda yang baru belajar kokok), dan anakan. Agus berharap semua ayam pelung yang diternakkan saat nanti “pas berkokok” memiliki suara yang masuk ke dalam kategori ayam pelung untuk kontes. (*)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.