Jumat, 6 Desember 19

Wow!! Jepang Tanam Buah dan Sayuran Tanpa Tanah

Wow!! Jepang Tanam Buah dan Sayuran Tanpa Tanah
* Penggunaan polimer menyebabkan pestisida tidak lagi diperlukan. (BBC)

Jepang adalah negara maju di segala bidang. Kini, ilmuwan negara sakura itu berhasil merevolusi pertanian tanpa lahan dan petani, menggunakan sains dan teknologi.

Yuichi Mori tidak menanam buah dan sayuran di tanah. Dia bahkan tidak memerlukannya.

Ilmuwan Jepang ini malahan bergantung pada materi yang awalnya dirancang untuk mengobati ginjal manusia — selaput polimer bening dan berpori. Tanaman tumbuh di atas selaput, yang membantu penyimpanan cairan dan nutrien.

Selain memungkinkan tanaman tumbuh dalam keadaan apapun, teknik ini menggunakan air 90% lebih sedikit dibandingkan pertanian tradisional dan tidak lagi memakai pestisida karena polimer menghambat virus dan bakteri.

Ini adalah salah satu cara Jepang – yang kekurangan lahan dan sumber daya manusia – melakukan revolusi pertanian.

“Saya mengadaptasi materi yang digunakan untuk menyaring darah pada proses dialisis ginjal,” kata ilmuwan tersebut kepada BBC.

Perusahaannya, Mebiol, memiliki paten penemuan yang telah didaftarkan di hampir 120 negara tersebut.

Hal ini menggarisbawahi revolusi pertanian yang sedang berlangsung di Jepang: Lahan diubah menjadi pusat teknologi dengan bantuan kecerdasan buatan (AI), internet (IoT), dan pengetahuan tercanggih.

Kemampuan agroteknologi untuk meningkatkan ketepatan dalam mengamati dan memelihara tanaman kemungkinan akan berperan penting di masa depan.

Laporan PBB tahun ini tentang Pengembangan Sumber Daya Air/UN World Report on Water Resources Development memperkirakan 40% produksi biji-bijian dan 45% Produk Domestik Bruto/Gross Domestic Product dunia akan bermasalah pada tahun 2050 jika kerusakan lingkungan dan sumber daya air berlanjut pada tingkat yang terjadi sekarang.

Metode budi daya seperti yang dikembangkan Yuichi Mori telah digunakan di lebih 150 daerah di Jepang dan tempat-tempat lain seperti Uni Emirat Arab (UAE).

Metode ini terutama penting dalam membangun kembali daerah pertanian Jepang timur laut yang tercemar berbagai zat dan radiasi dari tsunami setelah gempa besar dan bencana nuklir pada bulan Maret 2011.

Traktor robot
Karena penduduk bumi diperkirakan akan meningkat dari 7,7 miliar orang menjadi 9,8 miliar orang pada 2050, berbagai perusahaan menduga permintaan akan ketersediaan makanan dapat menciptakan kesempatan bisnis besar, disamping juga kebutuhan akan permesinan.

Pemerintah Jepang saat ini memberikan subsidi bagi pengembangan 20 jenis robot yang mampu membantu berbagai tahapan pertanian, mulai dari pembenihan sampai pemanenan berbagai tanaman.

Bekerja sama dengan Hokkaido University, pabrik mesin Yanmar misalnya mengembangkan traktor robot yang telah diuji di lapangan.

Satu orang dapat mengoperasikan dua traktor pada waktu yang sama karena sensor dapat mengidentifikasi berbagai hambatan dan menghindari tabrakan.

Robot Yanmar dioperasikan dengan menggunakan remote control dan GPS. (BBC)

 

Pertanian dengan lebih sedikit orang
Lewat teknologi, pemerintah Jepang berusaha menarik perhatian anak muda yang sebelumnya kurang tertarik bekerja di lahan, tetapi tertarik pada teknologi.

Ini adalah usaha untuk membangkitkan sektor ekonomi yang mengalami penurunan sumber daya manusia.

Dalam 10 tahun, jumlah warga Jepang yang terlibat dalam produksi pertanian turun dari 2,2 juta orang menjadi 1,7 juta orang.

Sementara umur rata-rata pekerja sekarang adalah 67 tahun dan sebagian besar petani bekerja paruh waktu.

Keadaan topografi juga sangat membatasi pertanian Jepang, yang hanya dapat memproduksi 40% dari pangan yang dibutuhkan.

Sekitar 85% daratannya adalah perbukitan dan sebagian besar lahan yang tersisa dipakai untuk menanam beras.

Pesawat tak berawak mengerjakan pekerjaan dalam waktu jauh lebih sedikit dibandingkan manusia. (BBC)

 

Semprotan dari atas
Penurunan konsumsi beras per tahun, dari 118 kg pada 1962 menjadi kurang dari 60 kg pada 2006, membuat Jepang mulai mendorong diversifikasi pertanian.

Tetapi tanpa bantuan manusia, petani harus menggantungkan diri pada mesin dan bioteknologi.

Semakin banyak pesawat tak berawak digunakan karena mesin ini dapat melakukan pekerjaan yang dilakulan satu hari oleh manusia, hanya dalam waktu setengah jam.

Teknologi tinggi juga memungkinkan perluasan lahan tanaman pangan tanpa tanah.

Lewat produksi di rumah kaca dan hidroponik, Jepang dapat meningkatkan produksi buah dan sayur.

Produktivitasnya 100 kali lebih tinggi dibandingkan metode konvensional. Lewat alat sensor, perusahaan mengontrol cahaya buatan, nutrien larutan, tingkat karbondioksida dan suhu.

Pasar hidroponik saat ini senilai US$1,5 miliar atau Rp21 triliun di dunia, tetapi perusahaan konsultan Allied Market Research memperkirakan angkanya akan berlipat lebih empat kalinya pada 2023.

 

Transfer teknologi
Jepang juga berjanji membantu negara-negara Afrika untuk menggandakan produksi beras menjadi 50 juta ton pada 2030.

Di Senegal, Jepang menanam modal dalam pelatihan teknisi pertanian dan mentransfer teknologi terutama terkait dengan irigasi. Produktivitas kemudian meningkat dari empat ton menjadi tujuh ton beras per hektare. Pemasukan petani naik sekitar 20%.

Jepang meningkatkan investasi swasta dan perdagangan mesin pertanian berkelanjutan di benua Afrika. Mereka juga bekerja sama dengan Vietnam dan Myanmar, di samping Brasil.

Tetapi tujuan utama revolusi Jepang adalah memperbaiki keamanan pangannya sendiri. Pemerintah Jepang berkeinginan untuk menghasilkan paling tidak 55% dari pangan yang negaranya perlukan pada 2050. (*/BBC)

Sumber: BBC Magazine

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.