Kamis, 24 Juni 21

WNI di China Ketakutan Virus ‘Setan’ Ratusan Warga Asing Dievakuasi Dari Wuhan

<span class=WNI di China Ketakutan Virus ‘Setan’ Ratusan Warga Asing Dievakuasi Dari Wuhan">
* Kota Wuahnd dilanda virus corona. (foreignpolicy)

Ratusan warga asing dievakuasi dari Wuhan, China, sumber wabah corona yang disebut “virus setan” oleh Presiden Xi Jinping.

Sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) di kota itu menyatakan khawatir dan meminta pemerintah membantu mereka keluar dari Wuhan. Terdapat 243 WNI yang tersebar di 15 titik karantina di China.

Australia merencanakan untuk mengkarantina warga mereka yang dipulangkan ke Pulau Christmas sekitar 2.000 kilometer dari daratan Australia. Jepang, Amerika Serikat dan Uni Eropa juga melakukan repatriasi warga mereka.

Maskapai Inggris, British Airways menghentikan semua penerbangan ke dan dari China. Kementerian Luar Negeri Inggris memperingatkan warganya untuk menghindari perjalanan yang tak perlu ke China.

Penerbangan lain termasuk Lion Air, salah satu maskapai terbesar di Asia, menghentikan penerbangan. Begitu juga dengan penerbangan Amerika, United Airlines dan Cathay Pacific.

Presiden China Xi Jinping menyebut virus corona “setan” namun mengatakan China akan meredam virus itu. Komisi Kesehatan China mengatakan puncak wabah akan terjadi 10 hari lagi.

WNI Tak Mau Mati di Wuhan
Warga Negara Indonesia yang berada di Wuhan mendesak pemerintah untuk segera mengevakuasi mereka karena jumlah korban meninggal akibat virus corona atau 2019-nCoV terus meningkat.

Pemerintah membuka opsi dilakukan evakuasi. Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) telah menyiapkan tiga pesawat angkut untuk mengevakuasi mereka.

Korban meninggal mencapai 106 orang di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, dan total 132 di seluruh daratan China. Lebih dari 5.974 orang yang terinfeksi.

Jumlah yang terjangkit mencapai lebih dari 9.000 orang, melebihi kasus Sars pada 2003 yang saat itu mencapai 8.000 orang, menurut Badan Kesehatan Dunia, WHO.

Jumlah kasus yang terus meningkat menyebabkan Khoirul, WNI yang tengah menempuh studi di Huazhong University of Science and Technology, Wuhan, merasa takut akan terinfeksi virus corona.

“Evakuasi (kami) segera mungkin. Kami tidak mau mati di sini, karena mengerikan sekali. Tiap hari naik terus yang meninggal, 106 orang itu bukan angka kecil,” kata Khoirul saat dihubungi BBC News Indonesia, Rabu (29/1/2020).

Khoirul yang merupakan ketua ranting perkumpulan mahasiswa di kampus Huazhong mengungkapkan, saat ini, sudah ada mahasiswa di kampusnya yang berasal dari Pakistan menjadi terduga terjangkit virus corona.

Bahkan, ia dan terduga tinggal di gedung apartemen yang sama. “Iya, mahasiswa pertama (Pakistan) di apartemen kami. Bisa dibayangkan, lift apartemen kita gunakan bersama-sama,” ujarnya.

Selain itu, Khoirul mengatakan telah mendapatkan bantuan uang tunai dari pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di China sekitar Rp500.000 untuk memenuhi kebutuhan hidup satu minggu ke depan.

“Teman-teman mengirit-irit, untuk beli roti, dan lainnya, dan cukup. Tapi sebenarnya untuk gizi masih kurang. Kalau imun lemah, makanan tidak terjaga, potensi besar terjangkit virus ini,” katanya.

“Kita mau tidak mau, (kalau) mau makan sekarang harus ke pasar dan masak sendiri karena kantin masih tutup. Di pasar kita pasti berinteraksi dengan orang lokal.”

Khoirul mengatakan terdapat 37 WNI yang belajar di Huazhong University Science and Technology. Dari jumlah tersebut, terdapat 12 orang yang terkurung di Wuhan.

KBRI juga, ujar Khoirul, telah mengirimkan masker untuk WNI di Wuhan, namun hingga kini mereka belum menerima masker tersebut.

Mahasiswa lain, Yuliannova Chaniago, juga meminta agar seluruh WNI di Wuhan segera dievakuasi.

“Kami disuruh (KBRI) melakukan tindakan pencegahan agar tidak terserang virus, tapi bagaimana kami memastikan tidak terserang virus jika kami sendiri ada disarang virus itu?” keluh Yuli kepada BBC Indonesia.

Yuli saat ini sedang menjalani pendidikan doktoral dalam bidang Hubungan Internasional di Central China Normal University di Kota Wuhan.

Yuli mengungkapkan ia dan sekitar 101 WNI lain di Kota Wuhan telah menerima bantuan dana dari Kementerian Luar Negeri Indonesia (Kemlu) untuk kebutuhan logistik.

Siapa Saja yang Dievakuasi?
Sebanyak 200 warga Jepang sudah diterbangkan dari Wuhan dan mendarat di Bandara Haneda, Tokyo, Rabu (29/1). Sekitar 650 lainnya mengatakan ingin juga dipulangkan dan pemerintah Jepang mengaku sedang merencanakan penerbangan tambahan.

Masih pada Rabu (29/1), para karyawan konsulat AS serta sejumlah warga AS meninggalkan Wuhan. Menurut CNN, mereka mungkin harus menetap sementara di sebuah hangar bandara secara terisolasi selama dua pekan.

Kemudian, Australia berencana memulangkan warganya dari Wuhan. Namun, sebagaimana dipaparkan Perdana Menteri Scott Morrison, orang-orang tersebut akan dikarantina selama dua pekan di Pulau Christmas—sekitar 2.000 kilometer dari daratan utama.

Kementerian Luar Negeri Inggris tengah menyiapkan rencana untuk mengevakuasi sebanyak 200 warga Inggris dari Wuhan.

Secara terpisah, dua pesawat untuk menerbangkan warga negara-negara anggota Uni Eropa telah dijadwalkan. Menurut rencana, sebanyak 250 warga Prancis akan menumpang pesawat pertama.

Korea Selatan juga mengatakan 700 warganya akan terbang menggunakan empat pesawat pekan ini. (BBC News Indonesia)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.