Rabu, 25 November 20

WHO Minta Indonesia Tetapkan Status Darurat Nasional Conona

WHO Minta Indonesia Tetapkan Status Darurat Nasional Conona
* Thedros Adhanom. (livemint)

Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) PBB meminta Indonesia untuk menerapkan sejumlah langkah termasuk menetapkan status darurat nasional di tengah meningkatnya infeksi virus corona (covid-19) karena adanya “status tak terdeteksi” di awal merebaknya wabah, bahkan kini kian marak wabah covid19 di Indonesia.

Permintaan ini disampaikan Direktur Jenderal WHO Thedros Adhanom, melalui surat bertanggal 10 Maret 2020. Hingga Jumat (13/3/2020), jumlah kasus virus corona di Indonesia mencapai 69 infeksi dengan empat pasien meninggal. Dalam surat kepada Presiden Jokowi tertanggal 10 Maret, Thedros meminta Indonesia melakukan sejumlah langkah termasuk, “meningkatkan tanggapan darurat termasuk pernyataan status darurat nasional.”

Di awal surat, Tedros menyatakan, setiap negara harus melakukan upaya yang dapat meminimalkan risiko penularan, dan menekan laju penyebaran virus Covid-19. Namun sayangnya, di beberapa negara, banyak kasus Covid-19 yang tidak terdeteksi sejak dini. Alhasil, terjadi lonjakan kasus infeksi dan tingginya angka kematian akibat virus tersebut.

“Sayangnya, kami melihat kasus-kasus yang tak terdeteksi atau pendeteksian yang lemah pada tahap awal wabah yang menghasilkan peningkatan signifikan dalam jumlah kasus dan kematian di beberapa negara,” tulis Dirjen WHO.

“Di daerah di mana terjadi penularan lokal yang tak terdeteksi atau pendeteksiannya lemah, WHO sangat menyarankan langkah-langkah ini,” tandas pejabat organisasi bagian dari PBB ini.

Melalui Twitter, Thedros mengatakan telah melakukan kontak telepon dengan Presiden Jokowi dan menyatakan kedua belah pihak “sepakat untuk meningkatkan kerja sama” dalam menangani Covid-19.

Sejumlah poin lain yang diminta WHO dilakukan Indonesia termasuk:
* Mendidik dan secara aktif berkomunikasi kepada masyarakat melalui saluran komunikasi dan hubungan masyarakat yang layak
* Mengintensifkan penemuan kasus, pelacakan kontak, pengawasan, karantina kontak dan isolasi kasus (yang positif)
* Memperluas pengawasan Covid-19 menggunakan sistem pengawasan penyakit pernapasan yang ada dan pengawasan berdasarkan rumah sakit (hospital-based surveillance)
* Melakukan tes suspect berdasarkan definisi WHO, baik kontak maupun pasien yang sudah dipastikan, mengetes pasien yang teridentifikasi melalui pengawasan penyakit pernapasan

Hingga Jumat (13/3/2020), jumlah kasus virus corona di Indonesia mencapai 69 infeksi dengan empat pasien meninggal dunia.

Spanyol tetapkan kondisi darurat
Di tengah meningkatnya infeksi virus corona dengan lebih 132.000 kasus di lebih 120 negara, Spanyol menyatakan menetapkan kondisi darurat mulai Sabtu (14/3).

Seperti dilansir BBC, Jumat (13/3), Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez memperingatkan minggu-minggu ke depan akan sulit bagi negara itu dan ia memperkirakan jumlah infeksi kemungkinan naik menjadi 10.000 minggu depan. Pasien meninggal di Spanyol naik 50% dalam sehari menjadi 120 orang, dan jumlah kasus mencapai 4.200.

Di Amerika Serikat, 29 negara bagian dari 50 negara bagian menetapkan kondisi darurat.

Sebelumnya, juru bicara pemerintah untuk virus corona, Achmad Yurianto mengatakan Pemerintah meningkatnya infeksi virus corona menjadi 69 kasus berasal dari pelacakan dua hari lalu serta masukan dari sejumlah rumah sakit di luar Jakarta.

Dari jumlah itu, sebanyak tiga orang pasien meninggal dunia, yaitu pasien No. 35, 36 dan 50. Dengan demikian, jumlah korban meninggal dunia akibat infeksi virus corona di Indonesia sudah mencapai empat orang. Kepastian meninggalnya pasien pertama yang diumumkan Rabu (11/3) lalu.

Pasien pertama tersebut disebutkan merupakan warga negara asing (WNA), perempuan berusia 53 tahun dan “dalam keadaan sakit berat, di antaranya diabetes, hipertensi, hipertiroid, dan penyakit paru obstruksi menahun.”

“Untuk mengakhiri situasi ini, WHO mendesak negara-negara agar segera fokus mendeteksi kasus, dan meningkatkan kapasitas uji laboratorium. Terutama, di negara yang banyak penduduknya, dan memiliki sistem kesehatan yang tak sama di setiap wilayah,” ujar Tedros.

Desakan WHO kepada pemerintah
Dirjen WHO Thedros Adhanom mengingatkan, informasi awal kasus merupakan hal yang sangat penting dalam memahami bagaimana virus Covid-19 dapat menyebar. Selain itu, juga bisa menjadi petunjuk untuk mengatasi wabah. Antara lain, dengan mempelajari klasternya.

Di suatu negara atau wilayah yang belum terdeteksi adanya transmisi lokal, WHO mendesak pemerintah setempat untuk melakukan tujuh hal.

Pertama, meningkatkan mekanisme respon darurat, antara lain melalui penetapan status darurat nasional.

Kedua, mengedukasi dan berkomunikasi aktif kepada masyarakat dengan risiko yang terukur.

Ketiga, mengintensifkan penemuan kasus, contract tracing atau penelusuran kontak, melakukan pengawasan, serta menerapkan kebijakan karantina atau isolasi.

Keempat, memperluas jangkauan pengawasan dengan menggunakan sistem monitoring penyakit saluran pernapasan yang ada, dan pengawasan berbasis rumah sakit.

Kelima, melakukan tes kepada suspect sesuai standar WHO, yang antara lain meliputi tes terhadap mereka yang terkait dengan pasien terjangkit, dan pengujian terhadap pasien yang teridentifikasi melalui monitoring penyakit saluran pernapasan.

Keenam, meningkatkan uji kapasitas laboratorium, yang memudahkan tim untuk mengidentifikasi klaster penularan. Sehingga, langkah-langkah penting bisa segera dilakukan. Yang diuji di sini, bukan hanya mereka yang terkait dengan pasien terjangkit. Tetapi juga pasien yang mengalami penyakit dengan gejala seperti flu, dan penyakit pernapasan yang parah.

Ketujuh, mempromosikan standar-standar kesehatan masyarakat seperti menjaga kebersihan tangan, etika batuk atau bersin, dan menerapkan social distancing atau membatasi interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Tedros mengatakan, pihaknya akan sangat mengapresiasi, bila Indonesia dapat memberikan data penting dalam penanganan wabah Covid-19 seperti metode uji yang digunakan, serta identifikasi dan penelusuran kontak.

“Ini berguna agar kami bisa menilai risiko komprehenaif secara global, serta mengkolaborasikan dan mengkoordinasikan seluruh kementerian kesehatan dan otoritas terkait di negara terdampak secara efektif,” pungkas Tedros. (*/BBC/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.