Kamis, 2 Desember 21

Wawancara Eksklusif, Eks Tokoh GAM Fauzan: Berlakulah Baik pada Masyarakat Aceh!

Wawancara Eksklusif, Eks Tokoh GAM Fauzan: Berlakulah Baik pada Masyarakat Aceh!
* Fauzan Alia alias Fauzan Blang, mantan tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM). (Foto: Agung Sanjaya/obsessionnews.com)

Banda Aceh, Obsessionnews – Penandatanganan perjanjian damai antara pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005, disambut gembira dan rasa syukur oleh rakyat Aceh. Tidak hanya masyarakat Aceh, hembusan perdamaian itu juga dirasakan kesejukannya oleh seluruh rakyat Indonesia.

Selama tiga dekade Aceh dibalut konflik yang mengalirkan darah dan air mata anak negeri. Untuk menempuh jalan damai memanglah tidak mudah. Banyak faktor yang berpengaruh terhadap proses perundingan, dan salah satu faktor yang diyakini sangat berpengaruh dalam proses damai ini adalah bencana tsunami yang melanda Aceh, Minggu 26 Desember 2004.

Fauzan Alia menilai Presiden SBY dan Wapres JK berperanan besar terciptanya perdamaian RI-GAM tahun 2005.
Fauzan Alia menilai Presiden SBY dan Wapres JK berperanan besar terciptanya perdamaian RI-GAM tahun 2005.

Salah satu tokoh GAM adalah Fauzan Alia alias Fauzan Blang. Ia pernah menjadi duduk di seksi keuangan GAM wilayah Linge, juru bicara,penyusun strategi, dan mantan komandan operasi GAM wilayah Gayo Lues. Fauzan pernah ditangkap dan menjadi tahanan politik (tapol) karena perjuangannya memerdekakan Aceh.

Pasca perdamaian RI-GAM, pria kelahiran Belang Tampu, 16 April 1973, ini bekerja di satuan kerja (satker) Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) – Nias Regional tahun 2007. Kini Fauzan menjadi Direktur CV Zoqa Anugerah Utama, perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi dan leveransir.
Lulusan SMA ini menikah dengan Azimar dan dikaruniai dua anak, yakni Zoqa Tazwiqan dan Adiba Fatima Azzahra. Fauzan dan keluarganya tinggal di Taman Sari Baru, Lr. Bandung No. 13, Gampong Geuceu Kaye Jato, Kecamatan Banda Raya.

Minggu (29/3) lelaki yang hobi memancing itu meluangkan waktu untuk wawancara eksklusif dengan obsessionnews.com. Berikut petikan wawancara itu:

Bisa diceritakan pengalaman Anda saat konflik RI dan GAM?

Sebenarnya hal ini sangat tidak enak disinggung, apalagi diceritakan secara panjang lebar. Banyak kesedihan yang terjadi. Coba Anda bayangkan saja bagaimana mencekamnya waktu itu, darah dan air mata mengalir di seluruh wilayah Aceh ini. Dulu saya pernah tertangkap dan dipenjara.

Pasca perjanjian damai RI dan GAM apa yang Anda lakukan dan bagaimana Anda memaknai perjanjian tersebut?

Setelah damai ya kami berkumpul lagi bersama keluarga. Kami menyadari kesepakatan damai RI-GAM yang telah ditandatangani 15 Agustus 2005  bukanlah suatu proses yang mudah, namun melewati beberapa tahapan perundingan yang cukup alot.

Memorandum of Understanding (MoU) atau nota kesepahaman antara pemerintah RI dengan GAM adalah rumusan solusi kompromistik kedua belah pihak yang harus dicermati dan dipahami secara utuh dan holistik. Karena yang kita inginkan bersama ialah penyelesaian masalah Aceh yang komprehensif, adil, permanen, bermartabat dan damai bekelanjutan.

Saat ini MoU Helsinki tersebut telah dituangkan dalam bentuk Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA), yang mana diharapkan pemerintah pusat dapat menuntaskan hal-hal yang belum dilengkapi mengenai perihal turunan-turunan UUPA, sehingga lengkaplah apa yang telah dimulai 15 Agustus 2015.

Siapa yang berperanan besar dalam perdamaian RI-GAM?
Perdamain RI-GAM dapat tercapai berkat peranan besar dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), dan Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaludin.

Apa yang Anda harapkan pada pemerintah saat ini?

Kepada pimpinan pemerintah Provinsi Aceh kami berharap agar dapat membangun Aceh ini seperti yang dicita-citakan. Kesampingkan dulu pergesekan-pergesekan di internal, rangkullah semua pihak. Kita harus bersama sama menatap Aceh ke depan.

Kepada Presiden Jokowi, Wapres JK, dan para pihak terkait, agar serius dalam menuntaskan turunan UUPA yang selama ini kami nantikan. Kami dari dulu sangat berprasangka baik kepada pemerintah pusat, jadi kami harapkan berlaku baiklah kepada kami masyarakat Aceh. (Agung Sanjaya)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.