Kamis, 5 Agustus 21

Waspadai Sepak Terjang Taipan Bunglon

Waspadai Sepak Terjang Taipan Bunglon
* Buku "Asian Godfathers. Menguak Tabir Perselingkuhan Pengusaha dan Penguasa". (Sumber foto: resensor.blogspot.com)

Oleh: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, dan Direktur Eksekutif Global Future Institute

Karena beberapa hari ini saya disibukkan dengan kajian tentang kemungkinan aliansi strategis Yahudi diaspora dan Cina diaspora pasca Covid-19, beberapa buku terkait dua subjek tersebut jadi fokus bacaan saya minggu terakhir ini. Buku karya Joe Stodwell, Asian Godfathers, terbitan 2007 lalu, adalah salah satu yang cukup inspiratif dan membuka cakrawala baru mengenai overseas China alias Cina rantau, dan the taipan. Serta di mana segi perbedaannya yang paling substansial.

Siapakah yang kerap saya sebut China diaspora? Pada 1996, sebelum meletus krisis moneter atau kisis fnansial Asia, majalah Forbes mendaftar 8 pengusaha Asia Tenggara di antara 25 teratas, dan 13 di antara 50 teratas. Yang mana harta pribadinya saja mencapai lebih dari 4 miliar dolar AS.

Mereka antara lain adalah Li-Ka shing, Robert Kuok, Dhanin Chearavanot, Liem Soel Liong, Tan Yu dan Kwek Leng Beng. Inilah para pengusaha taipan yang menguasai ekonomi Asia Tenggara.

Menariknya, meski Asia mengalami krisis moneter 1997-1998, mereka malah makin berjaya, begitu cerita Joe Studwell, dalam bukunya yang menarik, Asian Godfathers. Menguak Tabir Perselingkuhan Pengusaha dan Penguasa.

Pertanyaannya bagaimana mereka bisa begitu kuat? Studwell, yang analisisnya saya sepakati pada garis besarnya berkesimpulan, bahwa mereka terwarisi dari peninggalan sistem kolonial era Inggris, Amerika dan Belanda, semasa mereka menjajah negara-negara di Asia Tenggara.

Studwell menulis:”Dalam hubungan ini, elite politik memberikan konsesi-konsesi monopoli kepada elite ekonomi, yang biasanya di dalam industri-industri jasa dalam negeri, sehingga memungkinan kelompok yang disebut belakangan ini bisa meraup kekayaan dalam jumlah besar.”

Ketika di era pasca kolonial Studwell berkesimpulan, bahwa pola ini tidak berubah. Elite politik penguasa baru yang notabene merupakan kaum pribumi, tetap menyuapi para pengusaha taipan binaannya itu. Sehingga para taipan tersebut dengan leluasa bisa menyedot celah-celah ekonomi, dengan memberi saham kepada para tuan politik mereka.

Ironisnya di sini. Kelas taipan ini melayani kepentingan politik, dan menghasilkan kekayaan pribadi yang amat besar. Namun tidak memberi sumbangan apa-apa bagi pertumbuhan ekonomi di Asia Tenggara.

Mereka misterius dan tak tersentuh. Jalinan kontak yang mereka bangun dalam memperkuat dan mempertahankan bisnisnya adalah dengan dunia bawah tanah seperti Triad Cina, Yakuza, dan jaringan kejahatan terorganisir lainnya.

Berarti kita harus jeli betul melihat lanskap Asia Tenggara itu sendiri, agar tidak salah baca tentang ulah para Taipan ini. Asia Tenggara, kalau menelisik ke era kolonial klasik tiga abad yang lalu, merupakan sejarah yang terikat erat dengan migrasi-migrasi orang-orang Eropa dan Amerika (seperti para penguasa kolonial dan sebaliknya), Cina, India, Sri Lanka, Yahudi diaspora dan lain sebagainya. Belum lagi warga pribumi yang beraneka ragam etnik dan agamanya.

Meski saya masih memakai data beberapa tahun lalu, namun saya berani mengatakan kurang lebihnya sama, mengenai data mentah terkait keunggulan para taipan ini. Saham Cina dari ekuitas yang sudah listing di pasar-pasar saham ASEAN diperkirakan antara 50 hingga 51 persen, tergantung negaranya. Ini tentu saja mencolok mengingat etnis Cina di Filipina hanya 2 persen, di Indonesia hanya 4 persen, di Thailand 10 persen, di Malaysia 29 persen, dan di Singapura 70 persen.

Yang mungkin harus diwaspadai dari sudut pandang kultural dalam mengamati sepak terjang taipan adalah, kita tidak boleh mencampuradukkan antara Cina rantau dengan para taipan. Sebab beberapa kajian mengenai migrasi Cina ke Asia Tenggara membuktikan, meskipun orang-orang Cina rantau punya pendapatan di atas rata-rata di kota-kota pesisir Jawa dan Sumatra misalnya, atau di kota-kota non-metropolitan di Thailand, banyak keluarga Cina turun-temurun beberapa generasi tetap hidup melarat.

Tampaknya Cina diaspora pun harus kita bedakan dengan fenomena Cina rantau pada umumnya. Sebab diaspora Cina, yang kelak melahirkan para pengusaha taipan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, datang ke kawasan ini bersifat suka rela dan atas kehendak sendiri. Dan berdasarkan beberapa kajian mengungkap, diaspora Cina ini punya misi pergerakan untuk menanam pengaruh politik. Bukan melulu bisnis.

Kembali pada Joe Studwell, para taipan atau godfather ini sebenarnya tidak mengidentifikasikan dirinya secara etnis dengan Cina, seperti umumnya Cina rantau. Menurut penggambaran Studwell, pengusaha taipan ini merupakan elite yang tidak khas, lebih merupakan aristokrasi ekonomi dari orang-orang luar yang bekerja sama setengah hati dengan kalangan elite lokal.

“Secara kultural, para godfahter (taipan) adalah para bunglon yang cenderung berpendidikan bagus, kosmopolitan, bisa berbahasa asing, dan jauh dari sifat kecinaan.”

Dengan demikian sejalan dengan pandangan saya selama ini, perilaku mayoritas etnis Cina dari kalangan taipan tidak berbeda secara mendasar dengan para taipan Inggris atau Skotlandia di Hongkong dan Singapura, atau juga para taipan Amerika di Filipina. Jadi konteks ketaipanan mendahului watak etnis Cinanya.

Namun, hanya sampai di sini saya sepakat dalam cara pandang Joe Stodwell. Meskipun saya sepakat dengan Stodwell bahwa selama elite politik saat ini masih mewarisi sistem era kolonial yang memberikan konsesi-konsesi monopoli kepada elite ekonomi yang di Asia Tenggara didominasi pengusaha taipan, namun saya tidak sepakat pada rekomendasi Stodwell, bahwa solusinya adalah membuka pasar bebas dan persaingan bebas, yang diikuti dengan deregulasi dan debirokratisasi atas dasar skema neoliberalisme.

Meskipun cukup lama bermukim di Beijing, Stodwell tampaknya belum menghayati penerapan sosialisme berwatak Cina yang dibangun sejak era Deng Xioping, yang mana negara sebagai subjek ekonomi harus berpihak pada rakyat, dapat berjalan seiring dengan birokrasi yang sehat dan kebijakan yang terencana dan sistematis.

Begitupun tesis utamanya yang menolak penyamarataan antara Cina rantau dan the taipan, saya kira merupakan cara pandang yang cukup menarik. Karena Cina diaspora lebih cocok dengan penggambaran Stodwell mengenai adanya karakteristik budaya tersendiri yang melekat pada entitas taipan ini. Bunglon, cenderung berpendidikan bagus, kosmopolitan, bisa berbahasa asing, dan jauh dari sifat kecinaan.

Cara pandang Stodwell yang memisahkan taipan dengan Cina rantau pada umumnya, selain menghindarkan untuk dengan gampang jadi sasaran provokasi anti etnik Cina. bukankah penggambaran sub-kultur taipan itu persis sama dengan karakteristik Yahudi diaspora yang menyebar di Amerika dan beberapa kota besar Eropa Barat?

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.