Minggu, 19 September 21

Waspadai Dampak Psikososial pada Anak Selama Pandemi Covid-19

Waspadai Dampak Psikososial pada Anak Selama Pandemi Covid-19
* Dr Endang Triyanto. (Foto: ist)

Bagi pelajar pandemi Covid-19 meningkatkan kecemasan dan kesepian sekaligus. Mereka cemas akan masa depan. Mereka tidak tahu harus melakukan apa.

Dulu bisa melepaskan ketegangan dengan berbicara kepada teman. Sekarang, ke kantin sekolah saja tidak bisa. Selain itu, seiring waktu, melihat pelajar cenderung jenuh setelah sekian lama mengekang diri di rumah.

Salah satu jalan keluarnya yakni bisa belajar dengan tetap bersosialisasi antar sesama pelajar di berbagai kota dan bahkan pelajar antar negara masih bisa dilakukan, di antaranya dengan memanfaatkan teknologi yaitu sekolah disarankan agar pelajarnya diikutsertakan pertukaran pelajar antar negara secara online.

Pandemi Covid-19 membuka peluang baru yang selama ini tak terpikirkan yaitu dengan adanya keikutsertaan pertukaran pelajar tersebut bisa dapat dua-duanya secara sosial dapat, kesehatan juga dapat.

Diharapkan bersosialisasi sambil belajar antar negara bisa membuat pelajar senang dan bahagia serta kesempatan berbicara secara bebas tanpa harus malu bisa menghilangkan rasa kesepian, ungkap Koordinator Sistem Informasi Unsoed, Ir.Alief Einstein,M.Hum. saat mendampingi pemaparan Dosen Jurusan Keperawatan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan (FIKes) Unsoed Dr. Endang Triyanto, S.Kep.Ns.M.Kep.

Menurut Dr. Endang Triyanto, pandemi Covid-19 di Indonesia masih terjadi sampai hari ini. Pandemi ini berlangsung hampir 1,5 tahun. Coronavirus yang menjadi penyebabnya masih membahayakan dan mengancam kesehatan manusia.

Dampak pandemi Covid-19 yang lama telah mengakibatkan berbagai perubahan di segala sektor. Sektor perekonomian dan pendidikan merupakan sektor yang paling banyak dikeluhkan masyarakat.

Pada sektor pendidikan, jelasnya, terjadi perubahan dalam aktivitas pembelajaran yaitu mengharuskan anak-anak belajar secara daring dari rumah.

Endang Triyanto memaparkan, berdasarkan tahap tumbuh kembang manusia, perkembangan otak (kognitif) anak belum terbentuk secara sempurna.

Perkembangan kognitif ini terjadi sangat pesat pada saat masa anak-anak. Mereka ingin mengetahui tentang hal-hal baru yang terjadi di sekitarnya.

Keingintahuan hal-hal baru ini, lanjut dia, dilakukan dengan cara yang beragam. Belum sempurnanya perkembangan kognitif pada anak, ketika harus belajar dari rumah dalam jangka waktu yang lama dapat membuat anak jenuh.

“Suasana belajar dari rumah dibandingkan dengan sekolah tentunya sangat jauh berbeda. Oleh karena itu, sangat mungkin terjadi daya serap anak terhadap materi pelajaran tidak seoptimal ketika belajar tatap muka di sekolah,” tandasnya.

Di sisi lain, Endang Triyanto, menjelaskan bahwa anak memiliki kebutuhan bersosialisasi. Pembatasan sosial berskala besar yang mengharuskan anak untuk stay at home, membuat mereka pun jenuh.

“Kebutuhan anak bermain dengan teman-temannya tidak dapat mereka penuhi. Anak mencari hiburan melalui smartphone/gadget dengan bermain game,” jelas dia.

“Tidak jarang berdampak pada kecanduan anak terhadap gadget ataupun smartphone. Keluhan ini banyak dirasakan atau dialami para orangtua selama pandemi Covid-19,” lanjutnya.

Endang Triyanto mengatakan, berdasarkan kondisi-kondisi di atas, strategi pembelajaran harus dirancang secara kreatif dan inovatif agar mencapai kompetensi yang diharapkan sekaligus terpenuhi kebutuhan tumbuh kembangnya.

Semangat belajar dapat ditumbuhkan oleh guru dan orangtua dengan merancang rutinitas membaca 15 menit serentak di rumah masing-masing secara virtual. Aktivitas ibadah bersama antara siswa dan guru secara virtual.

Untuk menjalin kedekatan antara siswa, orangtua dan guru dapat dilakukan kegiatan family gathering secara virtual. Guru dan siswa dapat merancang kegiatan-kegiatan yang menyenangkan, menyegarkan, dan saling menyemangati satu sama lain.

Ia mengingatkan, proses pembelajaran hendaknya dilakukan yang menarik, informatif dan komunikatif, misalnya menggunakan media video pembelajaran, media pertemuan daring yang fleksibel dan juga dapat melalui media sosial.

Saat ini, ungkap dia, beberapa media sosial telah menyediakan menu untuk mengopload file jpeg, gif, mp3, mp4 sebagai sumber belajar siswa. Guru dapat membuat media pembelajaran dan menguploadnya secara gratis.

Lebih jauh lagi dapat juga dilakukan dengan pertukaran pelajar secara daring, baik lingkup nasional maupun internasional antar negara. Siswa dapat melakukan proyek
bersama teman-teman dengan memanfaatkan teknologi.

“Apabila hal tersebut dilakukan, anak akan termotivasi untuk bersaing secara positif dan semangat belajar pun akan turut meningkat. Mereka akan berusaha tampil yang terbaik di hadapan teman-teman sebayanya,” paparnya. (Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.