Sabtu, 24 Agustus 19

Waspada, Krisis Ekonomi Dunia 2007 Bisa Terulang

Waspada, Krisis Ekonomi Dunia 2007 Bisa Terulang

Jakarta – Bank for International Settlement (BIS) memperingatkan bahwa perekonomian dunia saat ini sama rentannya dengan krisis keuangan yang terjadi pada 2007. Selain rentan, perekonomian dunia juga mempunyai tambahan bahaya berupa rasio utang yang saat ini sudah jauh lebih tinggi, begitu pula dengan rasio utang emerging market.

Pimpinan BIS, Jaime Caruana mengatakan, investor telah mengabaikan risiko dari pengetatan moneter dalam upaya mereka berburu imbal hasil yang tinggi.

“Pasar tampaknya hanya mempertimbangkan spektrum potensi hasil yang sangat sempit. Mereka telah diyakinkan bahwa kondisi moneter akan tetap longgar untuk waktu yang sangat lama, dan mungkin memberi jaminan lebih banyak daripada yang ingin diberikan bank sentral,” papar Caruana kepada The Telegraph, (13/7).

Menurutnya, dalam banyak hal sistem internasional saat ini lebih rentan dibanding ketika krisis Lehman mulai terbangun. Sejak krisis Lehman tahun 2007 lalu, rasio utang di negara-negara maju telah meningkat 20 persen menjadi 275 persen dari PDB.

Kucuran kredit sangat sedikit. Perusahaan-perusahaan banyak berutang untuk membeli kembali saham-sahamnya. BIS mengatakan 40 persen pinjaman sindikasi adalah untuk peminjam sub-investasi, dan rasio tersebut lebih tinggi dibanding tahun 2007, dengan perjanjian perlindungan yang jauh lebih sedikit bagi kreditur.

Pusaran yang mengganggu dari siklus ini adalah bahwa China, Brazil, Turki, dan negara emerging market yang lain telah dibebani ledakan kredit swasta, sebagian diantaranya lantaran rembesan dari pelonggaran kuantitatif di Barat. Rasio utang mereka juga telah meningkat 20 persen menjadi 175 persen.

Rata-rata bunga pinjaman selama lima tahun mencapai 1 persen secara riil. Bunga tersebut terlalu rendah, dan bisa bisa berbalik dengan tiba-tiba. “Kami memperhatikan hal ini dengan sesama. Jika kita memprihatinkan penggandaan jaminan utang yang berlebihan pada 2007, kita tidak bisa lebih tenang pada hari ini,” ujarnya.

“Mungkin ini adalah kasus bahwa utang sudah didistribusikan dengan baik karena sejumlah negara yang terlilit utang telah mengalami pengurangan kemampuan untuk mendapatkan pinjaman, seperti sektor swasta di AS atau Spanyol. Meskipun kapitalisasi bank sudah lebih baik, tapi sekarang ini menjadi lebih sensitif terhadap pergerakan suku bunga,” imbuh Caruana.

BIS mengatakan berlarutnya stimulus moneter di AS, Eropa, dan Jepang telah menyebabkan kebocoran likuiditas, yang mengkontaminasi seluruh dunia. Meningkatnya kekuatan Asia tidak dapat lagi bertindak sebagai pemadam – seperti yang mereka lakukan setelah kehancuran Lehman – bahkan bisa saja menjadi sumber risiko.

Sejak 2008, emerging market telah menambah utang dalam valuta asing hingga $2 triliun. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibanding ketika terjadinya krisis Aisa Timur pada 1990an, sehingga setiap bentuk krisis akan lebih merusak. “Penyebarannya [krisis] akan lebih serius jika China, pusat terjadinya ledakan keuangan, juga menjadi limbung,” ungkap BIS.

Secara pribadi, para pejabat BIS meragukan apakah China mampu menghindari “hard landing”. Mereka mengkhawatirkan pertumbuhan kredit yang ekstrem selama lima tahun terakhir yang bisa menyebabkan masalah keuangan. Mereka juga meragukan apakah penyelesaiannya pada akhirnya akan lebih mudah pada sistem perbankan yang dikontrol negara dimana Partai Komunis mengatur keputusan pengucuran kredit. (The Telegraph/IPOT)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.