Selasa, 30 November 21

Wartawan Senior Sabam Siagian Berpulang

Wartawan Senior Sabam Siagian Berpulang

Jakarta, Obsessionnews Wartawan senior yang juga diplomat, Sabam Siagian telah berpulang, Jumat (3/6), sore. Setelah sebelumnya dirawat di RS Siloam, Semanggi, Jakarta

Lahir di Jakarta, 4 Mei 1932, Sabam Pandapotan Siagian meniti karier wartawan secara otodidak, kemudian terjun sebagai diplomat. Dia pernah berkuliah di Fakultas Hukum UI, namun tidak selesai. Demikian juga kuliahnya di Akademi Dinas Luar Negeri (ADLN) dan di Vanderbilt University AS, tak pernah diselesaikannya.

baca juga:

Jokowi Pastikan Hadiri HPN 2016

KRI Sorharso Sukseskan HPN 2016

Lombok Resmi Jadi Tuan Rumah HPN 2016

“Saya menjadi wartawan karena panggilan. Panggilan ini yang membuat saya berkomitmen untuk terus menerbitkan The Jakarta Post dan memperhatikan orang-orang kecil. Jadi, pertanyaannya, bagaimana koran kita mencerminkan tanda-tanda kepekaan sosial,” katanya saat memberi sambutan pada peluncuran bukunya, Januari 2015 lalu.

Jenazah akan disemayamkan di rumah duka di Jalan Anggur Barat II/2, Cipete Selatan, Jakarta Selatan, untuk kemudian dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, Minggu sore atau Senin sore pekan depan, menunggu semua anggota keluarganya hadir di rumah duka.

Lahir di Jakarta pada 4 Mei 1932, Sabam adalah wartawan senior negeri ini yang pernah menjabat Duta Besar RI di Australia periode 1967-1973.

Sempat masuk Fakultas Hukum dan Ilmu-ilmu Sosial, Universitas Indonesia, namun karena tidak terlalu tertarik ia memutuskan pindah ke Akademi Dinas Luar Negeri (ADLN) tapi tidak selesai juga. Pada 1978, ia mengikuti program Nieman Fellow for Journalism dari Harvard University, Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat.

Pada 1950-an, ia pernah mengelola majalah milik Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan kemudian menggagas pendirian Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia.

Pada pertengahan 1960-an, ia bekerja pada bagian riset perwakilan PBB di Indonesia.

Ia juga menyandang tanda kehormatan bintang jasa utama. Usai karier diplomatnya ia kembali ke dunia pers dan berkutat di Suara Pembaruan sebagai presiden komisaris dan The Jakarta Post dan termasuk dalam Dewan Tajuk Rencana.

Ia juga menjadi ketua Indonesia-Australia Business Council selama nenerapa waktu. Sejak 1983, ia kerap mengupas masalah internasional di koran berbahasa Inggris Jakarta Post yang turut didirikannya. @reza_indrayana

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.