Jumat, 24 September 21

Warga Jabar Lebih Doyan Makanan Instan Daripada Buah dan Sayur

Warga Jabar Lebih Doyan Makanan Instan Daripada Buah dan Sayur

Bandung, Obsessionnews – Warga Jawa Barat lebih suka makanan instan, konsumsi beras daripada buah dan sayur. Demikian disampaikan  Kepala Bidang Kelembagaan dan Infrastruktur Badan Ketahanan Pangan Daerah (BKD) Jabar Ir. Uung Gumilar MM saat menjadi pembicara pada diskusi Unpad merespons dengan tema

“Ketahanan Pangan dan Pemberdayaan Masyarakat” di Ruang Executive Lounge Unpad, Jalan Dipatiukur No. 35, Bandung, Selasa (26/5). Menurut Uung sangat mengagetkan  konsumsi buah dan sayur masyarakat Jabar berkisar pada nilai 19,4 dari nilai ideal 30,0.

Ia menjelaskan Jabar merupakan daerah penghasil sayuran dan buah tertinggi di Indonesia. Uung mengindikasikan pola kehidupan masyarakat Jabar, khususnya di perkotaan, sudah berubah yakni lebih menyukai makanan yang bersifat instan ketimbang mengonsumsi sayuran dan buah-buahan. Kebiasaan ini juga berimbas pada generasi setelahnya.

“Nilai ini membuat kita masih kalah jauh dari provinsi lain. Kita menduduki peringkat ke-22 di bawah provinsi lainnya,” tandasnya.

Dijelaskan Uung konsumsi beras di Jawa Barat cenderung tinggi dengan pertumbuhan sekitar 5,45% sepanjang 2010 – 2013. Hal ini menjadi fokus perhatian Uung melalui BKD Jabar, yakni menurunkan angka konsumsi beras.

Uung juga menilai kemampuan mengoptimalkan sumber pangan lokal sebenarnya dapat membantu mewujudkan ketahanan pangan.

“Salah satu langkah mewujudkan ketahanan pangan di Indonesia adalah mengubah perilaku dan sikap masyarakat,” imbuhnya.

Langkah ini meliputi pemberdayaan dan pendampingan masyarakat, khususnya masyarakat miskin yang berada di daerah rawan pangan untuk mampu memanfaatkan secara optimal sumber daya di sekitarnya.

Data yang diperolehnya dari skor Pola Pangan Harapan (PPH) yang menjadi Indikator keberhasilan pembangunan di Jawa Barat, pada tahun 2013 nilainya masih 74,9 dari nilai ideal 100. Padahal, nilai PPH ini menjadi indikator utama tercapainya ketahanan pangan di suatu daerah.

“Target tahun 2018 kita 80. Ini menjadi acuan, ketika PPH masyarakat Jabar sudah meningkat maka otomatis kondisi ketahanan pangan meningkat, kalau turun otomatis melemah,” papar Uung.

Data skor PPH tersebut meliputi tingkat konsumsi masyarakat Jawa Barat terhadap padi-padian, umbi, pangan hewani, minyak dan lemak, kacang-kacangan, gula, serta sayuran dan buah.

Selain Uung, hadir pembicara Dr. Tomy Perdana, S.P., M.M., Kepala Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad, dan Dr. Abdul Mutalib, M.Sc., Dosen Program Studi Kimia FMIPA Unpad. Sebagai moderator Dr. Hj. Siti Karlina Abdurachman, dra., M.Si., Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad.

Sementara itu pembicara Dr. Tomy Perdana, S.P., M.M., Kepala Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad mengungkapkan, konsumsi beras masyarakat Indonesia paling tinggi di Asia. Peningkatan konsumsi sayuran dan buah seharusnya menjadi program efektif untuk meningkatkan ketahanan pangan di Jabar.

“Dengan demikian, sumber karbohidrat bisa didapat dari serat dan karbohidrat yang didapat dari sayuran dan buah,” jelas  Tomy.

Tomy menjelaskan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja harus ada keterlibatan beberapa pihak dari seluruh pemangku kepentingan. Selain itu, perhatian terhadap sektor petani juga merupakan komponen penting untuk menciptakan ketahanan pangan.

Untuk itu, ujar Tomy menciptakan model manajemen rantai pasok (supply chain management) pertanian yang terstruktur.

Model ini diharapkan dapat membantu petani kecil untuk dapat meningkatkan produksi serta pendapatan serta dapat menjadi jembatan antara para petani dan pasar.

“Petani itu jangan dibiarkan sendiri mereka butuh pendampingan termasuk diantaranya sama-sama merumuskan inovasi pertanian,” kata Tomy. (Dudy Supriyadi)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.