Minggu, 27 November 22

Warga Batang Somasi Gubernur Jateng Terkait PLTU

Warga Batang Somasi Gubernur Jateng Terkait PLTU
* Puluhan massa terus menolak pembangunan PLTU Batang

Tabuhan gendang bertalu-talu, bersanding merdu dengan kibaran bendera dan spanduk. Dua puluhan orang berdiri di depan kantor gubernur, menyuarakan aspirasi yang tak kunjung ditampung. Namun apa daya harapan mereka harus hancur karena petugas pemerintah yang tak mau bertemu.

Semarang, Obsessionnews – Mereka adalah warga desa Karanggeneng, kelurahan Kandeman, Kabupaten Batang yang kembali menggelar unjuk rasa terkait pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di wilayah Batang. Bersama Greenpeace demonstran mengajukan somasi kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo atas permasalahan PLTU Batang.

Pengunjuk rasa yang didominasi nelayan dan petani menenteng bermacam aksesoris bertuliskan ‘Tolak PLTU Batang’. Mereka menuntut agar gubernur mencabut surat keputusan Gubernur Nomor 590/35 tahun 2015 tentang persetujuan penetapan lokasi pengadaan tanah sisa lahan seluas 125.146 meter pembangunan.

Desriko, Korlap acara menerangkan adanya pembangkit listrik merugikan warga sekitar. Sebab, lahan mereka masih produktif menghasilkan pendapatan bagi kehidupan sehari-hari.

“Selain itu ada upaya-upaya pemaksaan terhadap warga yang menolak, baik secara langsung ataupun fisik. Kami ingin Gubernur segera menanggapi somasi dalam waktu tiga hari,” tegas dia, Kamis (5/8/2015).

Lebih lanjut, jika somasi tak diberi tanggapan, maka pihaknya akan segera mengajukan upaya hukum terhadap surat keputusan Gubernur tersebut.

Para peserta aksi datang sekitar pukul 11.00 WIB. Dalam aksinya berbagai kegiatan digelar seperti teatrikal sampai tari jatilan dengan iringan musik jalanan.

Salah seorang warga, Cahyadi (50) menilai mata pencahariannya akan hilang bila PLTU tetap dibangun. Bahkan dia berujar, petugas PT PLN, Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan PT Bhimasena Power Indonesi (BPI) telah menekan masyarakat sekitar agar melepas hak kepemilikan tanah.

“Pembangunan PLTU itu hanya membuat rusak lingkungan. Warga jadi terpecah kerukunannya,” keluh dia.

Cahyadi pernah melihat kondisi daerah lain yang juga dibangun PLTU, antara lain Rembang dandan Jepara. “Wilayah Jepara dan Rembang jadi hancur. Saya tidak mau daerah saya seperti itu,” tutunya sambil menyeka keringat.

PLTU Batang diklaim menjadi PLTU batu bara terbesar se-Asia Tenggara. Meski begitu, banyak kalangan seperti Greenpeace menilai, beroperasinya PLTU Batang menambah emisi karbon sumber penyebab perubahan iklim sebesar 10,8 juta ton per tahun. (Yusuf IH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.