Rabu, 8 April 20

Wantimpres Sekadar Hadiah Hiburan?

Wantimpres Sekadar Hadiah Hiburan?
* Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan selamat kepada Wiranto usai dilantik menjadi anggota Wantimpres periode 2019-2024 di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/12/2019). (Foto: setkab.go.id)

Oleh: Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute

Yang menarik dari komposisi Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) saat ini, adanya dua pentolan yang sebenarnya pada 1998 perang senyap karena sama-sama punya agenda tersembunyi pasca lengsernya Soeharto.

Mari kita petakan dulu anatominya:

Pertama, Wiranto. Pada saat Soeharto lengser, Wiranto menjabat Panglima TNI. Ketika Soeharto mengundurkan diri pada Mei 1998, Wiranto dengan serta merta menyatakan akan melindungi mantan presiden Soeharto. Langkah kuda Wiranto ini memupus skenario 14 menteri pimpinan Ginandjar Kartasasmita untuk memunculkan Hendropriyono sebagai Panglima TNI. Sebab dengan manuver Wiranto akan melindungi Soeharto, Wiranto punya harga tawar tinggi terhadap Habibie sebagai presiden pengganti Soeharto.

Kedua, Agung Laksono. Selain kader Golkar, Agung juga sosok yang punya tali-temali dengan para seniornya yang merupakan eksponen angkatan 1966 yang berhaluan PSI.

Ketiga, Sidarto Danusubroto. Ia merupakan politikus senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Dan di atas semua itu, sosok ini hakikatnya merupakan loyalis Bung Karno di masa silam. Dan punya garis ideologis yang cukup jelas sebagai nasionalis.

Keempat, Dato Sri Tahir. Berlatar belakang pengusahaTahir merupakan pemilik Grup Mayapada. Pria kelahiran Surabaya, 26 Maret 1952, ini tercatat sebagai orang terkaya keempat di Indonesia tahun 2018. Nah, sosok satu ini memang cukup runyam mengingat latar belakang maupun kedekatannya dengan mantan Panglima TNI Moeldoko, yang saat ini masih menjadi Kepala Kantor Staf Kepresidenan.

Kelima, Putri Kuswinu Wardarni. Putri merupakan Komisaris Utama PT Mustika Ratu Tbk. Kepemimpinannya dalam usaha kosmetik itu dia lanjutkan sejak 2011, saat menerima tongkat kepemimpinan dari ibunya, Mooryati Soedibyo. Ini juga sosok yang krusial, mengingat hubungan pribadinya yang cukup misterius antara Mooryati Soedibyo dengan presiden petahana sejak dulu.

Keenam, Habib Lutfi bin Yahya. Ia Merupakan salah satu tokoh dari salah satu tokoh Nahdlatul Ulama (NU). Sebagai seorang habib, Habib Lutfi dikenal memiliki basis santri yang besar, baik di Pekalongan kota asalnya hingga meluas ke seluruh tanah Jawa. Selain menjadi pendakwah, Habib Luthfi juga pernah menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah, Habib Lutfi uga Ketua Forum Sufi Internasional.

Untuk sosok satu ini jelas merupakan kekuatan penyeimbang baik karena reputasinya sebagai tokoh spiritual dan tasawuf, juga karena basis massanya yang cukup luas.

Ketujuh, Mardiono Bakar. Politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini kini menjabat sebagai Wakil Ketua Umum PPP. Namanya kerap menghiasi pemberitaan media massa saat menggalang akar rumput PPP untuk menguatkan dukungan kepada pasangan Jokowi-Ma’ruf pada Pilpres 2019.

Kedelapan, Arifin Panigoro. Putra asli Gorontalo, alumni ITB, pengusaha perminyakan, dan tokoh sentral yang ikut memotori gerakan mahasiswa untuk menggulingkan Soeharto. Big bos Arifin adalah Ginandjar Kartasasmita. Orang sering sebut mereka ini adalah Kelompok Bangbayang, Bandung.

Kesembilan, Soekarwo. Lebih dikenal dengan nama Pakde Karwo. Politikus sekaligus birokrat tulen. Menjabat Gubernur Jawa Timur dua periode, yakni 2009-2014 dan 2014-2019. Atas prestasinya membangun daerah, pria kelahiran 16 Juni 1950 itu juga dianugerahkan gelar Doktor Kehormatan/Doktor Honoris Causa (HC) oleh Universitas Airlangga pada 2018.

Satu lagi catatan penting. Pakde Karwo merupakan alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

Halaman selanjutnya

Pages: 1 2

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.