Rabu, 7 Desember 22

Wamenag Zainut Imbau Jangan Jadikan Simbol Agama sebagai Bahan Olokan

Wamenag Zainut Imbau Jangan Jadikan Simbol Agama sebagai Bahan Olokan
* Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa'adi. (Foto: IG Zainut)

Obsessionnews.com – Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa’adi meminta kepada siapa pun untuk tidak menjadikan simbol agama sebagai bahan olokan atau guyonan, karena hal tersebut dapat melukai perasaan umat beragama yang bersangkutan.

 

Baca juga:

Kutip Pesan Hamka saat Lantik Daiyat Parmusi, Wamenag Zainut: Dakwah Membina, Bukan Menghina

Wamenag Zainut: Masalah UAS Sebaiknya Bersikap Proporsional

Jokowi Lantik Dua Menteri dan Tiga Wamen Kabinet Indonesia Maju

 

 

“Apa pun alasannya tindakan tersebut tidak etis dan tidak dibenarkan oleh agama dan peraturan perundang-undangan. Perbuatan tersebut dapat dikatagorikan sebagai perbuatan SARA,” ujar Wamenag Zainut dalam keterangan tertulis yang diterima obsessionnews.com, Jumat (17/6/2022).

Zainut yang juga Wakil Dewan Pertimbangan (Wantim) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini mengemukakan, kebebasan menyampaikan pendapat apakah itu bentuknya kritik maupun saran hendaknya dilakukan dengan cara yang santun, bijak dan menghormati etika, tidak dengan cara yang satkastik dan melanggar norma susila, hukum dan agama.

“Saya mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih bijak dan hati-hati dalam menggunakan media sosial. Jangan cepat memposting atau menyebarkan berita, baik berita yang berupa foto, video, meme atau konten narasi yang mengandung ujaran kebencian, fitnah dan SARA,” tandasnya.

Merespons postingan meme stupa Borobudur mirip Pak Jokowi, Zainut menyerahkan kepada pihak Kepolisian untuk mendalami masalah tersebut dan mengusut semua pihak yang terlibat untuk selanjutnya diproses hukum sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku.

Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini
mengajak kepada para tokoh dan elite masyarakat untuk membangun budaya politik santun yang dilandasi nilai-nilai luhur, akhlak mulia dan berkeadaban.

“Berperilaku proporsional dan tidak berlebihan dalam menyampaikan pendapat maupun kritik, sehingga tidak menimbulkan polemik dan kegaduhan,” tegasnya. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.