Rabu, 25 November 20

Wamenag Imbau Jangan Anarkis, Pahami Persoalan, dan Sampaikan Aspirasi Sesuai Konstitusi

Wamenag Imbau Jangan Anarkis, Pahami Persoalan, dan Sampaikan Aspirasi Sesuai Konstitusi
* Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa’adi. (Foto: dok. pribadi)

Jakarta, Obsessionnews.com – Ribuan mahasiswa dan buruh menggelar demonstrasi pada Kamis, 10 Oktober 2020. Mereka memprotes disahkannya Undang-Undang (UU) Omnibus Law.

Baca juga: 

Omnibus Law Pelopori Pembentukan Bank Tanah

Sofyan Djalil Jelaskan Peran Bank Tanah dalam Omnibus Law

FOTO Ribuan Buruh Demonstrasi Tolak UU Omnibus Law Cipta Kerja

Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa’adi mengatakan, demonstrasi adalah salah satu cara yang dibenarkan untuk menyampaikan aspirasi dalam iklim demokrasi. Namun demikian demonstrasi harus dilakukan tanpa tindak-tindakan anarkis, dan harus tetap mengindahkan akhlak dan norma hukum yang ada.

“Boleh saja menyampaikan aspirasi dengan menggelar demo. Namun, tidak dibenarkan melakukan anarki dan perusakan, karena hal tersebut adalah tindakan yang tidak dibenarkan ajaran agama dan melanggar hukum,” tegas Wamenag  di Jakarta melalui keterangan tertulisJumat (9/10).

Ia melanjutkan, aparat juga diharapkan menghadapi para demonstran dengan pendekatan yang lebih simpatik, persuasif dan tidak dengan kekerasan.

Zainut yang juga Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) menuturkan, banyak hoax yang berkembang di masyarakat terkait dengan UU Omnibus Law. Karena itu para mahasiswa sebagai agent of change harus betul-betul mampu memilah dan memahami informasi yang berkembang, sehingga aspirasi yang disampaikan terfokus pada pokok persoalan.

“Baca dan pahami undang-undangnya. Telaah persoalannya, dan sampaikan aspirasi yang ada sesuai konstitusi, agar dapat memberikan solusi,” pesan Zainut.

“Untuk hal tersebut saya mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk menahan diri, tidak terprovokasi dengan berbagai informasi yang tidak benar,” lanjutnya.

Menurutnya, demo dengan cara anarkis tidak akan menyelesaikan persoalan, tapi malah membuat situasi semakin tidak kondusif.

Selain demonstrasi, ada banyak cara yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah melalui judicial review. Mahasiswa dan buruh bisa menginventarisasi sejumlah pasal yang dinilai masih menyisakan persoalan dan bertentangan dengan konstitusi, untuk kemudian dibawa ke Mahkamah Konstitusi.

“Cara tersebut menurut saya lebih ringan mudaratnya, lebih efektif dan lebih berbudaya,” tandasnya.

Upaya lainnya, sambungnya, adalah mengawal penyusunan regulasi yang menjadi turunan dari UU tersebut.  (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.