Jumat, 7 Agustus 20

Wakil Kepala Kesehatan Kostrad Kecewa Atas Pelayanan RSUD Sumbawa

Wakil  Kepala Kesehatan  Kostrad  Kecewa Atas Pelayanan RSUD Sumbawa

Sumbawa – Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang  kurang  memuaskan  kembali  mendapat sorotan. Beberapa waktu lalu Komisi IV DPRD Kabupaten Sumbawa mengkritisi  soal rendahnya pelayanan dan kondisi rumah sakit yang kumuh. Kini kritik pedas justru datang dari seorang dokter asal Sumbawa yang sekarang menjabat sebagai Wakil Kepala Kesehatan Markas Kostrad, Kolonel dr. Azhari Ramdani.

Kolonel dr. Azhari Ramdani, Wakil Kepala Kesehatan Markas Kostrad
Kolonel dr. Azhari Ramdani, Wakil Kepala Kesehatan Markas Kostrad

“Empat hari saya menemani adik yang sakit di RSU Sumbawa, satu hari di Ruang ICU dan tiga hari di Ruang VIP. Kemudian harus saya minta untuk dirujuk ke sebuah RS di Mataram. Saya sebagai dokter sedikit terkejut melihat kondisi RSU tersebut yang jauh dari bayangan saya sebelumnya. Terakhir saya melihat RSU tersebut tahun 2004, dan sekarangpun nyaris tidak jauh bedanya. Kebersihan..wao rumput liar setinggi lutut orang dewasa jauh lebih dominan dibandingkan bunga penghias taman, sampah cukup membuat mata kita jadi sepet,” ungkap dr Azhari melalui akun facebooknya di Grup RUNGAN SAMAWA, Sabtu (3/1/2015)

Ia menilai pelayanan di RSUD Sumbawa di bawah standar, senyum dan sapa belum menjadi bagian dari kebiasaan tiap personel, baik personil medis maupun paramedis. Selain itu, keluarga pasien tidak banyak mendapatkan informasi dari dokter maupun perawat tentang kondisi pasien.

“Bukankah ada Pasal 45 UU No. 29 Tahun 2009 tentang Praktek Kedokteran yang mengharuskan petugas medis menjelaskan segala sesuatunya kepada pasien atau keluarga pasien, minimal tentang diagnosa, rencana tindakan medis/terapi dan resikonya, alternatif tindakan lain dan resikonya, prognosa dan hal-hal yang mungkin terjadi lainnya,” tandas alumni FK Universitas Brawijaya ini.

Demikian pula perawatan di ICU, pasien tidak dikonsulkan kepada dokter ahli, tapi begantung kepada dokter penanggung jawab ICU dan dokter jaga. “Padahal pada kasus adik saya harus dikonsulkan ke ahli penyakit dalam,” terangnya.

Bukan hanya itu, cara perawat memberikan suntikan melalui infus, menurutnya, sangat tidak standar karena jarum suntik terlalu lama di luar (terkena udara luar) sebelum dimasukkan. Selain itu selang infus pada tempat yang akan ditusuk dipegang-pegang  justru sangat rawan dengan tertularnya infeksi nosokomial, meski kemungkinan dimaksudkan untuk merasakan bagian yang empuk dari selang. Dalam hal ini patien safety dari pihak RSUD Sumbawa sangat kurang.

Fasilitas ruangan juga bisa dikatakan kurang mencerminkan kelasnya. “Untuk VIP 5 yang kami tempati, kulkas kabelnya rusak, AC tidak dingin kecuali malam hari, pintu kamar mandi tidak ada kuncinya,” paparnya.

Meski demikian, Azhari Ramdani tetap menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para perawat dan dokter ICU dan ruang VIP 5 atas segala upaya telah merawat adiknya dengan penuh pengertian. “Semoga ke depan menjadi lebih baik dan lebih baik dari saat ini. Kepada manajemen sangat disarankan untuk bisa fokus kepada akreditasi RS, bukan hanya dalam bentuk selembar kertas tapi benar-benar bisa riil sesuai yang seharusnya. Bravo RSUD Sumbawa. I hope you be the best in Sumbawa,” pungkasnya.

Manajemen RSUD Klaim Pelayanan Sudah Sesuai Standar
Terhadap kritik tersebut Direktur RSUD Sumbawa dr Selvi yang ditemui Senin (5/1/2015), mengatakan pelayanan yang diberikan pihaknya sudah sesuai dengan tipe RSUD Sumbawa. Adapun mengenai sarana dan fasilitas penunjang pasien hal itu sudah disampaikan secara langsung oleh keluarga pasien kepada pihaknya.

Direktur RSUD Sumbawa dr Selvi
Direktur RSUD Sumbawa dr Selvi

“Masing-masing bagian ada tugasnya. Untuk saat tipe C sudah memenuhi syarat. Dulu kita tidak punya IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah), sekarang ada sebagai syaratnya. Jadi untuk hal-hal lain tinggal dipenuhi. Kalau ada dokter spesialisnya, maka pelaksanaannya sudah pasti,” jelas Selvi.

Ia menyinggung soal adanya usulan DPRD untuk mengadakan CT Scan, tapi kalau dokter spesialis radiologinya tidak ada, maka hal itu akan sisa-sia.

Mengenai keluhan macetnya pintu kamar mandi, menurut Selvi, hal itu tidak ada lagi. Semua sudah diperbaiki dan memenuhi syarat. Tapi, ia mengakui adanya sofa yang rusak dan akan diperbaiki tahun ini.

“Sekarang sudah ada VIP 9 dan sudah dioperasi, karena kita sudah perbaiki semua dan fasilitasnya sudah sesuai standar,” katanya. (Yuli)

Related posts