Rabu, 15 Juli 20

Wah! Alat Deteksi Virus Corona di Bandara Soetta Belum Optimal

Wah! Alat Deteksi Virus Corona di Bandara Soetta Belum Optimal
* Seorang petugas kesehatan memegang kartu peringatan kesehatan di terminal kedatangan Bandara Soetta. (Foto AP)

Ternyata, pemeriksaan kesehatan di terminal Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) belum optimal di tengah penyebaran Covid-19 alias wabah virus corona.

Seperti yang dialami Jurnalis BBC News Indonesia, Silvano Hajid, ia melihat sendiri minimnya pemeriksaan kesehatan di Bandara Soetta saat baru tiba dari Singapura ke Indonesia, Sabtu (15/2/2020). Alat deteksi suhu tubuh pun nampaknya tidak terpakai di meja petugas.

Sebelum masuk ke pemeriksaan imigrasi, ia menemukan pengumuman dengan tulisan besar “yang mengumumkan bahwa saya dan ratusan orang lainnya memasuki pemeriksaan suhu tubuh.” Saat itu, petugas kesehatan tampak “kewalahan” melayani kerumunan penumpang dari luar negeri yang tiba di Indonesia. Seluruh penumpang diwajibkan mengisi formulir kesehatan yang terdiri dari dua bagian.

“Satu bagian untuk diserahkan kepada petugas dan satu lagi kami simpan, jika pada dua pekan kami mengalami gejala yang menunjukkan terinfeksi virus corona yang baru, maka kami harus ke dokter dan menyerahkan kartu itu,” cerita Silvano.

Formulir kesehatan yang diberikan kepada penumpang di Bandara Soetta, Sabtu (15/2). (BBC)

 

Saat menyerahkan kartu kepada petugas, alat deteksi suhu tubuh tembak terlihat tergeletak di meja petugas. Namun, alat pendeteksi dini untuk pemeriksaan kesehatan itu tidak digunakan lagi untuk memastikan suhu tubuh.

“Selepas dari imigrasi menuju pintu keluar, saya sempat coba dua kotak cairan pembersih bersponsor yang disediakan, tetapi keduanya tidak berfungsi,” kata Silvano.

Pengalaman tentang minimnya pemeriksaan kesehatan i Bandara Soekarno Hatta juga dikeluhkan pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagyo. Ia tiba di bandara Sabtu (15/2), setelah menempuh perjalanan selama 15 jam dari Sydney, Australia.

Sebelum masuk pintu keluar bandara, Agus bersama penumpang lainnya dari penerbangan internasional disodorkan formulir untuk mendeklarasikan dalam kondisi sehat.

“Terus sudah diisi. Mejanya terbatas. Penuh orang. Kita tulis di tembok. Di bawah. Saya (tulis dengan) ganjal dengan koper saya. Saya kasih. Saya pikir ditanya (tentang isi formulirnya), (ternyata) nggak,” katanya kepada BBC News Indonesia, Senin (17/2).

Penumpang pesawat internasional diminta mengisi formulir kesehatan di Bandara Soetta, Sabtu (15/2) (BBC).

 

Sepanjang perjalanan keluar bandara, ia pun mengaku tak melihat adanya alat pendeteksi suhu tubuh. “Ada semacam x-ray, tapi saya yakin itu bukan thermal (scanner),” kata Agus.

Formulir yang disodorkan pun tak banyak diperiksa oleh petugas. Para penumpang dari luar negeri bisa ‘mengisi seadanya’ tanpa diketahui kemungkinan membawa penyakit dari negara asal.

“(Petugas bilang) Silakan nanti kalau ada apa-apa silakan hubungi nomor yang tertera di form-nya. Lah, terus ngapain kita mesti mengisi itu,” tambah Agus.

Agus pun menilai prosedur pemeriksaan kesehatan yang kendor ini dapat membahayakan masyarakat luas. “Kalau itu terjadi memang ada yang membawa virus kan jadi tidak terdeteksi,” katanya.

Ketika dikonfirmasi, pejabat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan tidak ada prosedur yang dikurangi untuk pemeriksaan penumpang dari luar negeri. “Nggak ada pengurangan (prosedur),” kilah Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan, Achmad Yurianto, Senin (17/2).

Menurut Yurianto, sejak WHO melabeli penyebaran Covid-19 sebagai “Darurat Kesehatan Masyarakat Internasional” atau PHEIC, sudah dilakukan penggantian alat pemindai panas tubuh (Thermal scanner).

“Sekarang dengan menjadi PHEIC, tidak lagi dengan Scanner, tapi Thermal Gun. Mereka disuruh lewat satu-satu, dan diukur (suhu) badannya. Kalau nggak ada temuan, berarti nggak ada kasus,” kilahnya pula.

Ia pun menyatakan deteksi dini terhadap penyebaran Covid-19 diperkuat lagi seperti seperti deteksi suhu tubuh, dan pemberian kartu peringatan kesehatan. Deteksi dini terhadap lalu lintas manusia dari dan keluar Indonesia, juga dilakukan di laut. “Sampai saat ini itu masih kami lakukan dan diperketat, karena kami sadar pintu masuk tak hanya bandara namun laut,” kata Yurianto.

Sampai 16 Februari pukul 18.00 WIB, Kemenkes telah menerima 104 spesimen yang dicurigai terkena Covid-19. Spesimen ini berasal dari 39 rumah sakit di 19 provinsi. “Keseluruhannya, hasilkan negatif virus corona Covid-19,” kata Yurianto.

Deteksi Virus Corona di Bandara Internasional
Beda cerita saat Silvano melewati dua bandara internasional di Changi, Singapura dan Taoyuan, Taipei sepekan sebelumnya. Dua negara ini sudah terdapat puluhan orang yang terjangkit virus Corona yang baru. “Pada Jumat siang (7/2), di Terminal kedatangan Bandara Internasional Changi, Singapura, ratusan orang berjalan melewati alat deteksi suhu tubuh, termasuk saya,” ungkapnya.

Sebelum melewati alat itu, salah satu petugas berusia paruh baya meminta para penumpang berjalan lebih cepat selepas turun dari pesawat. Petugas memindai dan dalam kesempatan itu tidak ada satu pun yang suhu tubuhnya melebihi suhu normal.

Hampir semua petugas mengenakan masker, begitu pun dengan para pengunjung di bandara Changi. Pihak bandara juga menyediakan cairan pembersih tangan di beberapa lokasi.

Selanjutnya, ketika tiba di Bandara Taoyuan, Taipei, pemeriksaan kesehatan lebih ketat. Petugas memindai para penumpang dengan alat yang bentuk dan rupanya hampir sama seperti di Changi. Kemudian, petugas bermasker menggunakan pengukur suhu tubuh tembak, memastikan lagi bahwa kami aman masuk ke wilayah Taiwan.

Di bandara tersebut juga disediakan cairan pembersih tangan, kali ini tersedia di banyak tempat, jauh lebih banyak ketimbang bandara sebelumnya.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) per 16 Februari 2020, sebanyak 77 warga Singapura terkonfirmasi kena Covid-19. Sedangkan di Taipei dan sekitarnya terdapat 18 kasus terkonfirmasi virus corona terbaru.

Sebelumnya, studi yang dilakukan sekelompok peneliti dari Universitas Harvard mengungkap kemungkinan adanya kasus yang tidak terdeteksi di sejumlah negara, termasuk Indonesia dan Kamboja. Para peneliti membuat prediksi berdasarkan penerbangan langsung dari Wuhan ke suatu negara sebelum penerapan pembatasan perjalanan.

Studi tersebut, diterbitkan di server pre-print medRxiv, belum melalui proses peer review atau pemeriksaan oleh sesama peneliti namun telah dikutip dalam banyak laporan media dan sempat menimbulkan pertanyaan akan kemampuan Indonesia dalam mendeteksi virus korona baru. (BBC News Indonesia)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.