Kamis, 16 Juli 20

Wacana Politik Partai Baru

Wacana Politik Partai Baru
* Politik - ilustrasi

Oleh: Agung Mozin, Pemerhati Politik

Selama stay at home, saya gunakan waktu membaca kembali buku lama dan tergerak menulis kembali isue menarik dan tidak pernah habis untuk dibicarakan di negeri ini yaitu agama dan negara.

Kalau bicara Indonesia pasti tidak luput dari persoalan agama, terutama Islam pikiran kita pada Islam karena memang begitu adanya, Islam di Indonesia sangat kaya dengan penafsirannya dan sudah begitu kental dan membentuk barisan atau jamaah, dan saat mengekspresikan aspirasinya dalam bentuk politik maka mucul banyaknya partai islam.

Perkembangan politik Islam di Indonesia telah mengalami perubahan atau kemajuan, awalnya hanya ada politik Islam idiologis dan sekuler yaitu ada hitam dan putih saja, namun dalam perjalanannya kita dikenalkan dengan konsep Islam jalan tengah

Politik islam Idiologis yang diperjuangkan oleh Serikat Islam dan Masyumi saat itu adalah kontekstual dengan dinamika politik pada zamannya, dimana Belanda dengan politik kolonialnya melakukan pembodohan dan pemiskinan terhadap pribumi maka Serikat Islam lahir untuk melakukan perlawanan sampai dengan hengkangnya kompeni itu. Sedangkan Masyumi hadir sebagai wadah perjuangan idiologis umat Islam melawan keganasan PKI.

Kedua kondisi itulah yang mendesak para tokoh islam itu menghadirkan partai beridiologi Islam saat itu.

Partai Islam di Indonesia telah mengalami pasang surut dan berbagai cerita yang menyakitkan semasa era orde lama dengan pembubaran satu2nya partai Islam atas desakan PKI saat itu.

Setelah Orde baru maka lahirlah harapan baru tokoh2 Islam untuk menghadirkan kembali partai Islam tapi keinginan itupun kandas ditangan orde baru, dan semakin ditinggal bahkan dimarginalkan, tidak hanya sampai disitu tapi orde baru dengan tangan besi memaksakan Pancasila sebagai asal tunggal dengan berbagai cerita perlawanan umat Islam saat itu.

Politik orde baru, melakukan depolitisasi umat Islam, kemudian melahirkan aktivist pemikir dan tokoh intelektual muslim dengan politik Islam jalan tengah seperti Nurcholis Majid, yang dikenal dengan Islam Yes, Partai Islam No. bersama Cak Nur ini ada nama lain seperti Amien Rais, Abdurahman Wahid Kuntowijoyo dan masih banyak nama lainnya

Politik jalan tengah adalah menghadirkan Islam yang substantif yang membuat orde baru mulai akomodatif dengan perjuangan Islam dan suasana umat dalam beribadah tumbuh subur dan berkembang sampai dengan lahirnya Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan jatuhnya orde baru.

Gerakan Reformasi yang menutup rezim orde batu melahirkan harapan baru lagi bagi tokoh Islam yang mengalami depolitisasi, berlomba-lombalah para tokoh membuat partai baru yang dapat dikategorikan dalam empat kelompok aliran pemikiran.

1. Partai berasaskan Islam berpandangan bahwa jabaran Islam dalam politik ialah Islam sebagai idiologi yang mempunyai satu garis dengan Serikat Islam dan Masyumi

2. Partai berdasarkan Objektivikasi yang berpandangan bahwa hubungan agama dengan negara melakukan objektivikasi bila (a) mengakui adanya pluralisme masyarakat dalam SARA, (b) menjadikan agama sebagai landasan gerakan, (c) berusaha supaya bermoral agama (kemanusiaan, keadilaan, kemajemukan) itu yang menjadi landasan objektif, (d) menjadikan Pancasila sebagai azas. Partai yang dibentuk oleh Amien Rais berada pada posisi ini.

3. Partai Berdasarkan Spasialisasi yaitu diambil dari kata space artinya ruang, bahwa kelompok ini berpandangan agama mempunyai tempat sendiri dalam urusan kenegaraan, tapi diantara keduanya terpisah secara jelas. Dengan kata lain Agama ditempatkan diruang tersendiri, agama hanya urusan personal bukan urusan publik. Agama berpengaruh pada person dan pada gilirannya person pada negara. Pengaruh agama dalam kebijakan publik tidak ada. Seperti inilah pendapat para teologian (Kristen) dinegara sekuler, seperti pendapat Paul Tillich di Amerika… Nah Pandangan inilah yang mendasari politik PKB bentukan Gus Dur, sebab beliau sering mengatakan hubungan antara agama dan negara bahwa, NU adalah sekuler. Sekalipun ini diucapkan tidak berdasarkan kesadaran penuh mengenai implikasinya.

4. Partai Sekuler berpandangan bahwa tidak perduli dengan nilai2 agama, pandangan ini tumbuh dan berkembang dengan budaya barat, sehingga kalau diterapkan di Indonesia sangat beresiko berat, sebab pertama tidak objektif, karena penganut agama adalah mayoritas dinegeri ini akan menentang habis2an sekulerisme. Kedua tidak sesuai dengan budaya timur karena peradaban timur bersifat religius. Ketiga tidak kontekstual, karena dalam sejarah dunia Islam hanya mungkin ditegakkan lewat milititerisme seperti Aljazair dan Turki, pertanyaannya apakah ada indikasi politik rezim kini kearah sana dengan menggunakan kekerasan aparat negara menuju negara sekuler?

Soal partai sekuler ini PDIP sudah punya catatan prestasinya menang pemilu, mengapa PDIP menang pemilu karena di Indonesia tidak ada tranparansi idiologis, selalu remamg-remang saja dan orang membeli kucing dalam karung.

Dari penggolonga aliran pemikiran Islam di Indonesia dapat dikategorikan sebagai Islam kanan, Islam tengah dan Islam kiri.

Dan ini terus berlangsung dari pemilu ke pemilu. Kita sebagai umat Islam terjebak pada pertentangan idiologi ini, musuh kita sesungguhnya adalah kemiskinan, kebodohan, korupsi, demokratisasi dan ketidakadilan hukum terjadi dimana-mana, penegakan hukum tebang pilih.

Atas dasar fakta di atas dan kesadaran penuh para aktivist politik yang ingin melahirkan partai politik baru bersama Amien Rais kiranya dapat dijadikan sebuah wacana politik pada pilihan-pilihan politik yang menjadi plaatform dan azas partai ke depan.

Jakarta, 26 Mei 2020

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.