Senin, 23 September 19

Wacana Orang Asing Jadi Rektor

Wacana Orang Asing Jadi Rektor
* Hendrajit. (Foto: Sutanto/OMG)

Oleh: Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI)

 

Wacana yang digulirkan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir agar merekrut orang asing jadi rektor, memang harus ditolak tanpa harus debat panjang lebar. Tapi wacana yang digulirkan Pak Menteri menjadi penting buat bahas sisi lain dari isu ini.

Sebenarnya apa sih kriteria dipilih jadi rektor? Karena selama ini kriteria jadi rektor itu profesor doktor, terkesan jabatan rektor itu puncak pencapaian karier akademik. Padahal bukan.

Puncak karier akademik seseorang di perguruan tinggi adalah jadi guru besar yang bergelar profesor.

Coba deh perhatikan para rektor atau presiden universitas di Cornell, MIT, atau Yale. Guru besar atau profesor paling banter kepala jurusan atau program studi. Di jabatan itu memang perlu menampilkan kompetensi keilmuan seseoerang, karena buat nunjukin reputasi program studi itu bagus, karena dikelola oleh dosen-dosen yang berilmu tinggi.

Tapi buat jadi dekan fakultas atau rektor universitas, malah bukan ilmuwan. Kebanyakan diisi orang orang yang rekam jejaknya sukses memimpin dan mengelola perusahaan. Jadi yang teruji kualifikasinya sebagai CEO. Yang biasa berpikir out of the box. Bukan ilmuwan bergelar doktor dan profesor.

Lha di perguruan tinggi kita para rektor kebanyakan adalah ilmuwan dan dosen yang bergelar doktor dan profesor.

Jadinya pas jadi rektor malah paradoks dengan reputasi keilmuannya. Di almameter saya, dekan atau wakil rektor kebetulan teman teman lama kuliah dulu atau junior. Kalau saya tanya kenapa setelah jadi dekan, wakil dekan atau wakil rektor jarang nulis lagi.

Jawabnya enteng aja. “Yah abis gimana, bang, kesedot rutinitas kerja birokrasi dan administrasi.”

Akibatnya rugi dua duanya. Universitas nggak maju, lha wong mereka memandang jabatannya sebagai rutinitas birokrasi dan administrasi. Padahal rektor dan dekan justru diharapkan gagasan-gagasan inovasinya buat kemajuan kampus.

Dirinya sebagai akademisi juga jadi mandeg dan tidak produktif.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.