Sabtu, 25 September 21

Vonis Anas 14 Tahun, Bisa Berefek Jera pada Koruptor

Vonis Anas 14 Tahun, Bisa Berefek Jera pada Koruptor

Jakarta, Obsessionnews – Terdakwa korupsi mantan ketua umum Partai Demokrat Anas Urbaningrung (AU) telah divonis 14 tahun penjara melalui putusan Mahkamah Agung (MA) pada 9 Juni 2015. Putusan ini dua kali lipat lebih lama dabanding vonis putusan PN Jakarta 7 tahun penjara. AU juga diwajibkan bayar ganti rugi sebanyak Rp57 miliar dan pencabutan hak politik.

Mantan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Laode Ida menilai, vonis yang dijatuhkan pada Anas Urbaningrung perlu diapresiasi. Menurutnya, keputusan tersebut bisa berefek jera pada para koruptor atau para pejabat dan politis serta pengusaha yang suka rampok uang negara atau rampas hak rakyat untuk akumulasi harta pribadi.

“Para koruptor itu harus siap-siap menghadapai hukuman berat yang akan jadi bagian siksa batin dan keluarganya selama hidup di dunia ini. Saya pikir putusan MA itu akan jadi acuan bagaimana mendeteksi harta dan atau sumber harta para koruptor,” ungkap Laode kepada obsessionnews.com, Rabu (10/6/2015)

Menurutnya, koruptor perlu dimiskinkan atau dirampas hartanya oleh negara, sebagaiman harta yang dimiliki koruptor bukan hak sahnya,melainkan bagian milik rakyat. “Hal ini juga bisa merangsang untuk dilakukannya pendekatan baru dalam pemberantasan korupsi yakni cara pembuktian terbaik, sehingga para pejabat dan atau politisi harus siap-siap mempertanggungjawabkan harta miliknya sekarang. Karena sungguh tak adil jika para koruptor ternyata masih terus menikmati harta yang diperoleh dengan cara-cara tidak wajar,” paparnya.

Laode juga mengingatkan kepada anak-anak muda yang potensial agar berhati-hati, jangan sampai terjebak kasus korupsi. “Sebab, jika terjadi bukan mustahil akan mengalami nasib sama dengan AU, yakni akan kehilangan hak politik atau tidak diberi ruang untuk masuk dalam dunia politik dan pemerintah,” tandas mantan aktivis ini.

Kendati demikian, lanjut Laode, putusan MA sekaligus menjadi tantangan bagi MA ke depan. “Sebab jangan sampai putusan terhadap koruptor yang adil seperti itu hanya faktor figure Hakim Agung Artidjo Alkostar yang memang memiliki komitmen kuat untuk berantas dan beri sanksi berat pada para koruptor,” tandas dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini.

Tanpa menskerdilkan yang lain, Leode juga mengatakan, setelah Artidjo di MA atau jika kasus kasasi korupsi ditangani oleh figure lain, maka muatahil ceritanya akan berbeda atau terbalik. “Maklum, para Hakim Agung juga adalah manusia biasa yang kantung baju dan celananya menengadah ke atas, dan masih mau bermewah-mewah dengan memanfaatkan kesempatan,” sindirnya. (Asma)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.