Kamis, 9 April 20

Virus Investasi Lebih Bahaya dari Virus Corona

Virus Investasi Lebih Bahaya dari Virus Corona
* Ketua LDP Parmusi KH. Syuhada Bahri. (Foto: Albar / OMG)

Ternate, Obsessionnews.com – Ketua Lembaga Dakwah Pusat (LDP) Persaudaraan Muslimin Indonesia Parmusi (Parmusi) KH. Syuhada Bahri mengatakan, bahwa 15 Abad yang lalu Nabi Muhammad SAW pernah berkata akan datang pada suatu masa di mana orang akan berbicara atas nama kepentingan orang banyak tapi sebenarnya adalah untuk kepentingan pribadi.

Berbicara atas nama umat tapi sebenarnya bukan untuk umat itu, berbicara atas nama bangsa dan negara, tapi sebenarnya bukan untuk kepentingan bangsa dan negara. Itulah kata KH. Syuhada, kondisi yang akan dihadapi manusia seperti yang disampaikan Nabi 15 abad lalu. Nabi memang tidak menyebut tahun, kapan zaman tipu muslihat itu terjadi.

Tapi kata Nabi, lanjut KH. Syuhada, zaman itu terjadi ketika banyak kemungkaran, banyak maksiat, banyak kejahatan terjadi di mana-mana. Dan Allah pun mengaskan jika dalam kehidupan itu sudah terjadi banyak kemungkaran dan kemaksiatan, maka Allah akan menghancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.

“Sebagaimana Allah telah menghacurkan kaum Aad, kaum Samud, dan kaum Nabi Luth. Aku kata Allah, kalau tidak Aku hancurkan negeri itu, maka akan Aku datangkan azab untuk penduduk negeri itu,” ujar KH. Syuhada dalam acara Musyawarah Wilayah III Parmusi Provinsi Maluku Utara di Kota Ternate, Rabu (26/2/2020).

Jika berbicara soal azab rasanya kata KH. Syuhada, negeri ini sudah banyak diberikan azab oleh Allah SWT. Bencana terjadi di mana-mana, dari banjir, kebakaran, tanah longsor, gempa, gunung meletus sampai tsunami. Kalau melihat seperti, jangan-jangan kata Kiai Syuhada itu terjadi karena banyaknya kemungkaran dan kemaksiatan.

Bukan hanya bencana alam, Allah juga bisa menurunkan azab dengan mendatangkan penyakit. Seperti halnya sekarang dunia tengah digemparkan degan adanya virus corona. Meski sama-sama bahaya, tapi menurut Kiai Syuhada, ada yang lebih bahaya dari virus corona, yakni virus investasi. Mengapa begitu?

“Yang lebih bahaya dari Corona adalah virus investasi, apalagi jika investornya mau ngatur sendiri, mensyaratkan semua bahannya harus dari negaranya, seluruh pegawainya juga diambil dari negaranya. Kita cuman jadi penonton. Kita pun tidak mati, tapi hidup tidak jelas,” tandasnya.

“Kalau kena virus Corona, sudah mati selesai. Tapi kalau kena virus investasi yang tidak terkontrol maka dampaknya akan panjang, sampai ke anak cucu kita. Mereka sudah tidak bisa lagi menikmati kekayaan alam negeri ini. Sudah habis dibawa oleh orang asing. Anak-anak kita hanya menonton. Alam kalau sudah dirusak maka yang turun adalah becana,” tambahnya.

Menurut Kiai Syuhad, ini sangat mengkhawatirkan, bencana dan penyakit datang silih berganti tapi belum mampu menjadikan manusia bisa lebih dekat dengan Allah. Padahal negeri ini merdeka berkat rahmat Allah. “Jika kondisinya sudah seperti itu, maka kata Allah kalian sudah berada dalam pinggir jurang kegelapan,” tuturnya.

Kiai Syuhada juga menyayangkan belum ada statment dari para pemimpin bahwa banyaknya bencana di negeri ini merupakan peringatan dari Allah. Karena banyak manusia yang sudah lalai, ingkar terhadap kebenaran. Mestinya dengan adanya bencana itu, para pemimpin senantiasa mengajak masyarakat untuk lebih dekat dengan Allah.

Meski negeri ini banyak dilanda bencana, Kiai Syuhada percaya, Allah masih memberikan kesempatan bagi bangsa ini untuk bangkit. Syaratnya kata dia, harus ada gerakan penyelamatan manusia dari kehancuran. Dan satu-satunya gerakan yang berhasil menyelematkan manusia dari kehancuran adalah gerakan dakwah. Bukan yang lain.

Ia bersyukur, Parmusi di bawah kepemimpinan H. Usamah Hisyam telah fokus pada gerakan dakwah bukan lagi politik. Dengan begitu, apa yang dilakukan Parmusi melalui gerakan dakwah Desa Madani saat ini adalah merupakan gerakan dari upaya menyelematkan manusia dari kehancuran.

“Karena dengan gerakan dakwah ini pertama yang mau kita tata dan perbaiki adalah batinnya. Buka fisiknya, makanya dalam lagu Indonesia Raya itu yang pertama disebut adalah bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Jiwanya dulu baru fisiknya,” tutur Kiai.

Gerakan politik kata Kiai, tidak bisa melahirkan dakwah, tapi gerakan dakwah bisa melahirkan politik. “Kalau Parmusi menjadi gerakan politik, pasti begitu datang ke Ternate yang pertama ditanya ada duitnya nggak? Duit itu adalah watak partai. Tapi kalau dakwah, masyarakat akan mengatakan, saya hanya punya satu sisir pisang, ini untuk Pak Kiai. Itu dakwah,” jelasnya. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.