Jumat, 3 April 20

Virus Corona, Dua Penumpang Kapal Pesiar Diamond Princess Tewas

Virus Corona, Dua Penumpang Kapal Pesiar Diamond Princess Tewas
* Kapal pesiar Diamond Princess berlabuh di Yokohama, Jepang.

Dua penumpang di atas kapal pesiar Diamond Princess meninggal karena terjangkit virus corona. “Dua penumpang yang menderita virus corona di kapal pesiar Diamond Princess di lepas pantai Jepang telah tewas,” kata para pejabat Kesehatan Jepang, Rabu (19/2/2020).

Kementerian Kesehatan Jepang mengatakan bahwa dua pasien – seorang pria dan seorang wanita berusia 80-an – adalah di antara orang-orang pertama di atas kapal yang telah meninggal karena penyakit tersebut.

Outlet siaran Jepang, NHK, mengatakan dua penumpang kapal pesiar Jepang adalah seorang pria berusia 87 tahun dan seorang wanita berusia 84 tahun. Keduanya memiliki masalah paru, kata pihak berwenang.

The Diamond Princess, berlabuh di pelabuhan Yokohama, dekat Tokyo, mulai membiarkan penumpang yang dites negatif virus meninggalkan kapal, Rabu. Hasil tes masih tertunda untuk beberapa orang.

Pemerintah Jepang telah ditanyai mengenai keputusannya untuk membuat orang tetap di kapal, yang oleh beberapa ahli disebut inkubator virus sempurna.

Sebelum karantina di kapal berakhir, Amerika Serikat mengevakuasi lebih dari 300 orang Amerika dan memasukkannya ke karantina di AS selama 14 hari. Korea Selatan, Australia, dan Hong Kong mengevakuasi penduduk mereka, sementara Kanada dan Italia juga mengirim penerbangan untuk warganya.

Dokter Jepang Kaget lihat kondisi kapal Diamond Princess
Seorang dokter di Jepang mengatakan dia sangat khawatir mengenai standar karantina di dalam kapal pesiar Diamond Princess, tempat virus corona baru menginfeksi setidaknya 620 orang penumpang dan awaknya.

Ratusan penumpang yang hasil tesnya menunjukkan negatif serta tidak memperlihatkan gejala apapun selama masa karantina meninggalkan kapal pesiar Diamond Princess pada Rabu (19/02).

Profesor Kentaro Iwata, spesialis penyakit menular di Rumah Sakit Universitas Kobe, mengunjungi kapal yang bersandar di pelabuhan Yokohama, Jepang.

Dalam wawancara dengan BBC dia mengatakan prosedur karantina dan tes yang dilakukan pemerintah Jepang tidak dapat menjamin bahwa semua penumpang bebas dari virus.

Baca Juga: Tiga WNI Positif Mengidap Virus Corona di Kapal Pesiar

“Saya kaget melihat percampuran zona kotor, yang kami sebut zona merah, dan zona hijau, yang merupakan zona bersih,” katanya kepada wartawan BBC, Rupert Wingfield Hayes, melalui panggilan video.

“Harus dibedakan antara [tempat] virus itu tidak ada dan tempat dia berpotensi ada. Ini adalah hal pertama yang kami lakukan dalam tindakan pengendalian infeksi di mana saja di dunia.

“Saya terkejut dan saya masih takut terpapar penyakit ini dalam beberapa hari ke depan,” katanya.

Hal-hal lain yang dilaporkan Iwata:
 Orang-orang makan bersama dan berbagi ruang tempat tinggal.
 Tidak memakai baju pelindung, termasuk para staf medis.
 Tidak ada petugas profesional spesialis pengendali infeksi di dalam kapal.

Lebih aman selama menangani Ebola
Profesor Iwata mengatakan dia prihatin dengan kemungkinan penyebaran penyakit virus corona dalam beberapa hari ke depan. Dia menambahkan bahwa dia merasa lebih terlindungi saat bekerja di Afrika selama epidemi Ebola.

“Saya merasa jauh lebih aman ketika saya berada di Afrika, karena tahu di mana virus itu tidak ada dan tahu di mana pasien berada. Ada perbedaan yang jelas antara zona merah dan zona hijau.

“Kami harus ekstra berhati-hati untuk bertarung melawan Ebola, tetapi kami tetap tahu apa yang kami lawan dan di mana kami brlindung. Tetapi di dalam kapal Diamond Princess, kami tidak tahu di mana virus itu berada.”

Lebih dari 620 penumpang dan awak kapal Diamond Princess telah dikonfirmasi terinfeksi virus corona alias Covid-19 – jumlah terbesar di luar wilayah China. Kapal pesiar tersebut membawa total 3.700 orang.

Jepang dikritik
Pihak berwenang Jepang bersikeras bahwa respons mereka terhadap wabah virus corona di dalam kapal tersebut sudah sesuai prosedur.

Sementara, pemerintah AS telah memulangkan lebih dari 300 warganya yang berada di dalam kapal. Mereka harus menunggu 14 hari di lokasi karantina sampai tidak tanda-tanda terinfeksi sebelum diizinkan kembali ke masyarakat.

Australia juga siap menyelamatkan warganya dan berencana melakukan hal sama. Korea Selatan, Kanada, Israel dan Hong Kong juga merencanakan evakuasi warganya.

Indonesia, yang empat warganya menjadi kru kapal dan terpapar virus corona baru, tidak menutup kemungkinan untuk mengevakuasi para WNI dari dalam kapal tersebut. Tercatat ada 74 WNI di kapal itu.

“Opsi evakuasi sejak awal dibuka dan kita terus-menerus akan melakukan koordinasi baik dengan otoritas di Jepang maupun dengan perusahan kapal tersebut. Ini ada unsur perusahaan yang juga harus kita lakukan koordinasi dan komunikasi dengan mereka,” jelas Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

Baca Juga: Virus Corona: Kematian di China Tembus 1.000, Pejabat Senior ‘Disingkirkan’

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS mengatakan upaya Jepang untuk memperlambat penyebaran virus “kemungkinan tidak cukup untuk mencegah penularan antar individu di dalam kapal”.

Hanya penumpang yang hasil tesnya negatif dan tidak menunjukkan gejala terpapar virus corona yang diizinkan meninggalkan kapal.

Tetapi Profesor Iwata mengatakan dia prihatin karena penumpang “tidak tahu” apakah mereka sudah terpapar infeksi beberapa hari sebelumnya. “Jika Anda terinfeksi virus kemarin, maka Anda harus diisolasi selama 14 hari lagi – termasuk saya,” katanya.

Dia juga mengatakan Jepang “salah paham” dalam menggunakan tes genetik untuk menentukan apakah penumpang terinfeksi virus atau tidak.

“Tes genetik tidak sempurna, terutama ketika Anda tidak menunjukkan gejala, tidak memiliki gejala sama sekali. Kemudian virus berkembang sedikit demi sedikit. Hasil tes negatif itu belum tentu benar,” katanya.

“Belakangan ketika di rumah, infeksi dan gejala virus muncul. Menguji orang yang tidak memiliki gejala teinfeksi adalah ide yang sepenuhnya salah. Ini secara ilmiah salah dan secara logika salah.”

74 WNI di Kapal Diamond Princess akan Dievakuai
Pemerintah RI menyatakan akan mengevakuasi 74 warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja di kapal pesiar Diamond Princess yang kini berlabuh di Yokohama, Jepang.

“Ada beberapa opsi yang akan dikonsultasikan dengan presiden. Intinya, kami berkomitmen untuk evakuasi mereka sesegera mungkin,” kata Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy Kamis (20/2).

Muhadjir membeberkan beberapa opsi yang tengah dipertimbangkan pemerintah. “Pertama dijemput dengan kapal TNI dengan dihitung kelemahan atau keuntungannya. Atau melalui udara, juga diperhitungkan hambatan, efisiensi, dan efektivitas. Detailnya belum bisa lebih jauh, akan dilaporkan ke presiden dulu. Prosedurnya sama dengan standar WHO,” katanya.

Menurut Muhadjir, pemerintah tidak dapat mengevakuasi WNI yang positif Covid-19, nama resmi virus corona baru. “Yang sakit dalam perawatan otoritas Jepang,” paparnya. (New York Post/BBC News)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.