Sabtu, 11 Juli 20

Video TikTok tentang Kamp ‘Penahanan’ Muslim di China Jadi Viral

Video TikTok tentang Kamp ‘Penahanan’ Muslim di China Jadi Viral
* Feroza Aziz, videonya yang protes perlakuan rezim Cina terhadap Muslim Uighur jadi viral. (businessinsider)

Video klip seorang remaja Amerika Serikat (AS) yang menuduh China memasukkan Muslim ke dalam “kamp konsentrasi” telah menyebar di TikTok, jejaring sosial milik China.

Unggahan tersebut sekilas tampak seperti video tentang tutorial tata rias — tapi remaja perempuan itu kemudian meminta para pemirsanya untuk meningkatkan kesadaran tentang hal yang ia sebut sebagai “Holokaus lain”.

Feroza Aziz belakangan mengirim twit bahwa TikTok telah memblokirnya dari mengirim konten baru. Namun TikTok membantah klaim tersebut.

“TikTok tidak memoderasi konten karena sensitivitas politik,” kata seorang juru bicara kepada BBC News. Meski demikian, Douyin, versi bahasa Mandarin dari TikTok, yang kiriman Aziz tidak muncul di dalamnya, disensor secara politis.

Perusahaan pemilik TikTok mengatakan telah secara permanen melarang salah satu akun lama Aziz pada 15 November karena mengirim sebuah video – tidak ada kaitannya dengan video yang viral ini – yang melanggar aturannya tentang materi terkait terorisme.

Sebagai tindakan tambahan, perusahaan kemudian memblokir ponsel pintarnya, pada tanggal 25 November, tetapi itu juga tidak ada hubungannya dengan kirimannya tentang China.

“Akun barunya dan videonya, termasuk video bulu mata yang dipermasalahkan, tidak terpengaruh dan terus mendapatkan penonton,” tambah juru bicara itu.

BBC News telah menghubungi Aziz dan keluarganya untuk memberikan komentar.

Sementara itu, pemerintah Cina secara konsisten mengatakan kamp-kamp tersebut menawarkan pendidikan dan pelatihan sukarela, meskipun bukti-bukti menunjukkan sebaliknya.

Aziz mengunggah tiga video tentang perlakuan China terhadap Muslim Uighur, antara hari Minggu (24/11) dan Senin (25/11).

Yang pertama telah ditonton lebih dari 1,4 juta kali dan “disukai” hampir 500.000 kali di aplikasi.

Salinan yang diunggah ke Twitter oleh pengguna TikTok lainnya telah ditonton lima juta kali. Salinannya juga telah diunggah ke YouTube dan Instagram.

Bagian dari daya tarik video tersebut adalah kesan adanya upaya sengaja untuk menghindari dugaan penyensoran oleh pemilik TikTok yang berbasis di Beijing, Bytedance.

Aziz menyelipkan komentar kritisnya di antara kiat-kiat untuk membuat bulu mata terlihat lebih panjang.

“Saya bilang begitu agar TikTok tidak menurunkan video saya,” ia menjelaskan dalam salah satu video rekaman.

Kreatif subversif
Meskipun versi TikTok yang digunakan di Cina daratan menyensor kritik terhadap Partai Komunis China, Bytedance mengatakan tidak melakukan tindakan yang sama terhadap konten dari pengguna di tempat lain.

Dan perusahaan itu menekankan bahwa klip-klip lain tentang perlakuan buruk terhadap orang-orang Uighur di dalam kamp-kamp di China diizinkan untuk tetap berada di platform internasionalnya, meskipun mereka cenderung tidak mendapatkan perhatian seperti yang didapatkan Aziz.

Video remaja berusia 17 tahun itu diunggah pada minggu yang sama ketika BBC Panorama mengungkap tentang bocoran dokumen rahasia yang memerinci langkah-langkah yang dilakukan untuk mencuci otak ratusan ribu Muslim di wilayah barat Xinjiang.

Bocoran tersebut melemahkan klaim pemerintah China bahwa kamp-kamp tersebut dihadiri secara sukarela dan dirancang untuk melawan ekstremisme.

Meski Duta besar China untuk Inggris menyangkal dokumen-dokumen itu, dan menyebutnya “berita palsu”.

Aziz membacakan daftar tindak penganiayaan yang menurutnya terjadi di dalam kamp-kamp tersebut. “[Dengan] menyebarkan kesadaran, [kita] bisa membuat keajaiban,” katanya.

“Kita dapat menjangkau jutaan orang di seluruh dunia [dan] menjangkau mereka yang berkuasa untuk melakukan sesuatu tentang hal itu.”

BBC juga telah mengkonfirmasi bahwa Aziz menjalankan akun Twitter yang dibuat awal bulan ini. Ia mengirim twit bahwa TikTok telah menangguhkan akunnya untuk satu bulan dan mengatakan bahwa “Cina takut berita [tentang kamp] menyebar”.

Yang lain menanggapi kirimannya, termasuk anggota Lembaga Kebijakan Strategis Australia, yang menyebut cara Aziz menggunakan TikTok “kreatif subversif”. (*/BBC News)

Sumber: BBC Magazine

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.