Rabu, 11 Desember 19

Video Seksnya Tersebar, Olimpia Ingin Bunuh Diri Jadi Inspirasi Hukum Antikejahatan Siber

<span class=Video Seksnya Tersebar, Olimpia Ingin Bunuh Diri Jadi Inspirasi Hukum Antikejahatan Siber">
* Olimpia menderita depresi berat dan berusaha bunuh diri tiga kali. (BBC)

Olimpia Coral Melo Cruz berumur 18 tahun ketika video intimnya disebarluaskan di media sosial tanpa izinnya, yang membuat kehidupannya hancur.

Rekaman dibuat pacarnya, tetapi hanya Olimpia yang terlihat di video itu. Rekaman itu sebenarnya hanyalah untuk mereka berdua. Pacarnya menyangkal dirinya yang menyebarkannya.

Setelah video itu keluar, Olimpia dikenal dengan sebutan “si gemuk seksi”. Dia menjadi depresi dan selama delapan bulan tidak bisa meninggalkan rumah dan berusaha bunuh diri tiga kali.

Tetapi dengan berjalannya waktu dia menyadari bukan dirinyalah yang salah, dia adalah korbannya.

Dia menjadi seorang pegiat dan menulis RUU pertama Meksiko terkait perisakan seksual siber yang kemudian dinamakan “hukum Olimpia”.

Kisah awalnya, Olimpia membuat video seks dengan pacarnya. “Saya tidak mengetahui bagaimana video yang memperlihatkan tubuh telanjang saya, tetapi tidak menunjukkan pacar saya, mulai dibagikan di WhatsApp,” cerita dia.

Lantas, orang-orang pun mulai membicarakan dirinya. “Dan pacar saya tidak membela saya – dia menyangkal dirinya ada di rekaman itu. Banyak orang mulai berspekulasi tentang kehidupan seks saya,” kenang Olimpia.

Koran setempat menulis artikel di halaman pertama yang melaporkan Olimpia sebelumnya adalah seseorang yang memiliki masa depan tetapi sekarang nama baik dirinya hancur di media sosial.

“Setiap hari saya menerima permintaan menjadi teman di media sosial dari pria yang ingin berhubungan seksual,” sesalnya.

“Saya masih sangat muda dan tidak mengetahui harus kemana mendapatkan pertolongan atau bagaimana cara melaporkan kasus ini. Saya berusaha bunuh diri tiga kali.”

“Ibu saya tidak mengetahui cara memakai internet sehingga dia tidak memahami keseluruhan cerita,” tambah Olimpia.

Kamu hanya nikmati seks
Suatu hari saudara laki-laki Olimpia yang berumur 14 tahun memberi tahu semuanya, “Video saudara perempuan saya memang ada dan Olimpia di video itu,” katanya.

“Ibu mulai menangis. Saya mengatakan bahwa saya ingin mati. Saat itulah ibu saya, perempuan penduduk asli Meksiko yang tidak lulus sekolah dan tidak bisa menulis, membuat saya terkejut,” tutur Olimpia.

“Kita semua berhubungan seks. Sepupu kamu berhubungan seks, saudara perempuan kamu berhubungan seks, demikian juga saya. Perbedaannya adalah mereka melihat kamu melakukannya. Itu tidak membuat kamu menjadi orang tidak baik atau penjahat,” kata dia.

“Kamu menikmati seks sama seperti orang lain. Ini adalah untuk pertama kalinya saya menyadari adanya persaudaraan antarperempuan. Tetapi orang-orang di luar tetap membicarakan saya,” paparnya.

Olimpia Coral Melo. (BBC)

Mirip perkosaan
Olimpia merasa, orang tidak menyadari akibat kekerasan seperti ini. “Kebebasan Anda dibatasi, ruang pribadi dilanggar, ruang gerak dan kehidupan Anda dibatasi. Dan Anda menerima semua hal itu karena Anda merasa bersalah,” tandasnya.

“Karena itulah sulit bagi Anda untuk mendapatkan keadilan. Setiap “like” adalah sebuah serangan, tamparan. Setiap kali seseorang berbagi hal intim dari orang lain tanpa izin, adalah sama dengan sebuah perkosaan,” ungkap dia.

“Seorang teman menelepon dan meminta saya untuk melihat situs internet yang mengejek perempuan lain. Saya kemudian menyadari perempuan diejek di internet karena alis mata yang terlalu besar, berambut pirang, kurus atau alasan-alasan lain,” lanjutnya.

Masalah kedua
Masalah kedua kemudian terjadi. Petugas yang membantu Olimpia, tertawa ketika dirinya menonton video. “Kamu tidak mabuk, kamu tidak dibius, tidak seorang pun memerkosamu. Menurut hukum pidana, kejahatan tidak terjadi,” katanya.

Olimpia pun sangat marah saat meninggalkan kantornya. “Saya kemudian mulai menghubungi perempuan lain yang kehidupannya dibeberkan di internet karena kami harus melakukan sesuatu,” bebernya.

Perlahan-lahan muncul kejelasan. Pihaknya mempersiapkan rancangan undang-undang untuk negara bagian Puebla. “Yang saya lakukan bukanlah agar diri saya untuk mendapatkan keadilan, karena apa yang sudah terjadi tidak bisa dihilangkan,” jelas Olimpia.

“Saya memikirkan perempuan lain yang mengalami hal yang sama, semua perempuan yang ingin membunuh diri,” tegasnya.

Nama RUU tersebut pada mulanya sama dengan tujuannya untuk mengatasi kekerasan seksual siber. Pertama kali dipresentasikan di depan umum di kantor wali kota Puebla. “Saat itu bulan Maret 2014. Saya baru berumur 19 tahun,” ujar Olimpia.

Olimpia mengatakan dirinya adalah Olimpia, “si gendut dari Huauchinango”. Dia memberi tahu mereka tentang video dirinya dan mengatakan terdapat banyak korban kekerasan seperti ini.

“Saya memperlihatkan foto-fotonya dan menegaskan sejumlah orang telah membagikan dan menyatakan “liked” terhadap video saya di media sosial. Anda yang penjahat, bukannya saya.”

Laman Facebook yang membagikan video Olimpia kemudian ditutup, katanya “karena perempuan gila itu”. Seorang anggota kongres mengatakan dirinya tidak bisa mendukung RUU karena sama saja dengan “mendukung kebinalan”.

Baru pada 2018, RUU tersebut diloloskan. Peraturan ini menyatakan adalah sebuah kejahatan jika seseorang berbagi materi pribadi orang lain di internet tanpa persetujuan. Hukum ini juga menangani perisakan siber dan kekerasan seksual di internet.

Sebagian warga Meksiko meyakini bertukar pesan seksual adalah sebuah kekerasan. Mereka salah karena sexting adalah sebuah hak seksual. Tindak kejahatannya terletak pada berbagi materi tanpa izin.

Setelah bertahun-tahun melakukan perundingan, RUU tersebut akhrinya diloloskan di Puebla. Dan sejak saat itu 11 negara bagian lain di Meksiko telah melakukan hal yang sama.

Hukum pertama Meksiko yang menentang perisakan seksual siber dinamakan “Hukum Olimpia”. (BBC)

Perempuan menginginkan keamanan
Ini bukan hanya sebuah produk hukum. Pihak Olimpia ingin meningkatkan kesadaran, mencegah dan menghentikan kekerasan ini. “Perempuan menginginkan keamanan di internet. Dunia maya adalah sebuah dunia nyata,” jelasnya.

“Dengan sekelompok perempuan kami mendirikan Front Nasional Persaudaraan Perempuan (National Front for Sorority) untuk menangani berbagai kasus dan berusaha menunjukkan kepada para korban bahwa mereka tidaklah sendiri,” kata Olimpia.

Olimpia berusaha memperkuat perempuan untuk melindungi diri mereka dan menghindari kekerasan digital. Peraturan tersebut kemudian dikenal sebagai “Hukum Olimpia”. (*/BBC)

Sumber: BBC Magazine

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.