Sabtu, 20 Juli 19

Valentina Meiliyana Jatuh Bangun di Dunia Bisnis Sepatu

Valentina Meiliyana Jatuh Bangun di Dunia Bisnis Sepatu
* Valentina Meiliyana, pendiri perusahaan  sepatu Valentina. (Foto: Fikar Azmy/Obsession Media Group)

Jakarta, Obsessionnews.com – Menjalani bisnis di usia yang masih belia tentu bukan perkara mudah. Banyak tantangan muncul, mulai manajemen waktu, modal, dan masih banyak lagi lainnya. Salah satu pebisnis muda, yakni Valentina Meiliyana, berusaha membangun bisnis sepatu dan manajemen artis.

Dalam usia 23 tahun Valentina telah mengalami jatuh bangun di dunia bisnis. Valentina tidak hanya menjadi namanya, tapi juga nama brand sepatu buatannya. Bakat bisnisnya di dunia ini tidak main-main, sepatu rancangannya pernah digunakan di Jakarta Fashion Week 2011.

Valentina berbisnis sejak umur 14 tahun. Saat itu dia menjual berbagai barang, salah satunya baju. Ia mengambil foto dari luar dan menjadikannya sebagai contoh model kepada para pembeli. Jadi mereka ingin model seperti apa, baru dibuatkan. Untungnya lumayan, walaupun hanya puluhan ribu, namun untuk usia belasan tahun jumlah tersebut sangat berarti. Seiring berjalan waktu ia juga menjadi reseller sepatu.

Saat itu dia berpikir sayang sekali jika hanya menjadi reseller, sementara banyak permintaan sepatu datang. Saat ada sebelas orang pesan sepatu, ia berusaha untuk mencari pembuat sepatu di daerah Depok, Jawa Barat. Awalnya ia sempat menolak, tapi kemudian berubah pikiran dan mau membuatkan sepatu.

Ternyata kualitasnya sangat memuaskan. Sebelas orang yang tadi memesan merasa senang dan mau memesan lagi. Dari situlah Valentina berniat untuk fokus membuat sepatu sendiri.

“Waktu itu tahun 2011, usia saya 16 tahun dan sudah keliling Tanah Abang untuk mencari bahan yang saya inginkan. Saya tidak mau membuat sepatu dengan kualitas barang yang buruk,” tutur pendiri perusahaan sepatu Valentina ini.

Pengalaman paling menarik bagi Valentina  justru yang sangat membuatnya sedih. Saat pada akhirnya bekerja sama dengan salah satu pabrik, ternyata dia tidak bisa mengelola keuangan dengan baik. Uang yang seharusnya untuk sepatu malah digunakan untuk keperluan yang lain dan selalu terjadi lagi. Sampai semua barang pesanan di-delay dan dia harus bertanggung jawab atas pesanan ratusan orang.

“Saya mengalami kerugian dengan nilai tidak sedikit. Setelah itu saya memutuskan untuk membuat pabrik sendiri. Itu pun sempat bangkrut dengan kerugian sekitar Rp100 juta, karena pekerja sangat tidak memuaskan. Quality control-nya buruk, pengerjaannya juga sangat lama. Ketika itu usia saya baru menginjak 18 tahun,” tandasnya. (Indah Kurniasih)

Artikel ini dalam versi cetak telah dimuat di Majalah Women’s Obsession edisi Februari 2018

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.